1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

18 Tahun Reformasi: Perjalanan Paradoksal Perempuan

Julia Suryakusuma 11 Mei 2016

Di zaman Orde Baru ideologi “ibuisme negara” membatasi peran perempuan, di zaman reformasi, represi terhadap perempuan dilakukan atas nama Islam. Julia Suryakusuma menyampaikan opininya dari perspektif perempuan.

Bildergalerie Miss Muslim World 2013
Foto: Getty Images

Bulan Mei ini kita merayakan 18 tahun reformasi, yang dianggap periode demokratisasi di Indonesia. Apa yang telah dicapai dalam kurun waktu ini?

Untuk melakukan evaluasi menyeluruh, mustahil dilakukan dalam tulisan singkat. Jika dibukukanpun, dibutuhkan buku yang amat tebal. Jadi saya akan mengambil sudut pandang perempuan. Mengapa? Ada tiga alasan.

Pertama, seperti dikatakan Charles Fourier (1772-1837), seorang filsuf dan intelektual Perancis, “perubahan jaman selalu dapat diukur dari kemajuan yang telah dicapai perempuan.”

Kedua, sebenarnya dapat dikatakan awal reformasi terjadi pada tanggal 23 Februari ketika sekelompok perempuan pertama kali melakukan demonstrasi pada hari yang ditetapkan pemerintah sebagai Siaga I, saat sidang khusus parlemen tengah berlangsung.

Demonstrasi yang kemudian menjadi gerakan yang dikenal sebagai Suara Ibu Peduli (SIP) melakukan “politik susu” - respons terhadap melonjaknya harga sembako termasuk susu. Secara mencengangkan, demo SIP berhasil menyiarkan kepada dunia kekacauan ekonomi, kebobrokan politik, serta ketidakadilan sosial, yang membuat Indonesia terpuruk.

Ketiga, baru-baru ini, pada tgl. 2 Mei 2016 telah dilangsungkan acara memperingati ulang tahun Institut Kapal Perempuan yang didirikan pada 8 Maret 2000, untuk “membangun gerakan perempuan dan sosial yang mampu mewujudkan keadilan sosial, kesetaraan dan keadilan gender serta perdamaian di ranah publik dan privat”.

Sudah tentu Kapal Perempuan tidak merayakan hari jadinya ke 16 seperti seorang gadis remaja, melainkan dengan refleksi mengenai apa yang telah dicapai selama reformasi, terutama dalam kaitannya dengan nasib perempuan.

Perjuangan perempuan masih berat

Memang di zaman reformasi telah terjadi beberapa kemajuan. Berbagai organisasi didirikan untuk membela kepentingan perempuan, dengan kategorisasi yang jauh lebih inklusif, misalnya perempuan lesbian, biseksual dan transeksual (LBT).

Begitu juga dalam perundang-undangan, meski dalam implementasi masih sangat kurang. Perempuan aktivis sebagian menjadi anggota lembaga legislatif dan pemerintahan, sehingga kesenjangan antara kalangan aktivis dan negara tidak menjurang seperti di masa Orde Baru.

Namun acara yang mempertemukan tiga generasi perempuan ini menyimpulkan bahwa perjuangan perempuan masih sangat berat.

Represi terhadap perempuan dan gerakan perempuan tetap ada, dan dalam beberapa kasus bahkan semakin parah. Demikian juga kekerasan dan diskriminasi berdasarkan jender maupun agama; perkawinan usia muda, terpuruknya perempuan dalam hukum adat dan di wilayah konflik, penghujatan terhadap kaum LGBT, menguatnya politik identitas, serta kemiskinan yang semakin akut. Represi terhadap kebebasan ekspresipun semakin sering terjadi, terutama pembubaran terhadap diskusi atau acara yang menyangkut seksualitas, dan tragedi 1965-1966.

Pemberangusan perempuan atas nama agama

Bila di zaman Orde Baru terdapat ideologi “ibuisme negara” yang membatasi peran perempuan sebagai “pendamping suami”, maka di zaman reformasi, represi terhadap tubuh, seksualitas, cara berpakaian dan ruang gerak perempuan dilakukan atas nama Islam.

Penulis: Julia SuryakusumaFoto: Julia Suryakusuma

Islam ini pulalah yang menjadi pembenaran terhadap represi dan kekerasan terhadap aliran atau agama lain. Celakanya, negara malah tunduk pada kekuatan konservatif yang ironisnya dimungkinkan muncul kembali dengan proses desentralisasi yang menjadi salah satu landasan reformasi.

Apakah reformasi sudah mati? Alangkah paradoksalnya gerakan demokrasi yang dicanangkan pada tahun 1998 malah seperti hendak melakukan bunuh diri.

Semoga tidak demikian. Tapi yang pasti, perjalanan masih panjang, dan perjuangan perempuan – sejalan dengan perjuangan demokrasi Indonesia – tampaknya semakin memasuki wilayah yang penuh onak dan duri.

Penulis:

Julia Suryakusuma adalah pengamat sosial-politik, penulis, kolumnis, dan intelektual publik Indonesia yang membahas berbagai isu sosial, politik, budaya, agama, gender, seksualitas dan lingkungan hidup. Karyanya yang dianggap paling berpengaruh adalah "State Ibuisme/Ibuisme Negara". Ia juga menulis beberapa buku lainnya, yang terakhir adalah "Julia's Jihad"(2013), antologi kolomnya di harian The Jakarta Post.

@JihadJulia

Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya