81 tahun lalu, “Operasi Valkyrie”—upaya kudeta paling besar dari perlawanan militer pada masa NAZI —gagal total. Hitler selamat dari serangan tersebut, sedangkan para pelaku penyerangan dieksekusi mati.
Stauffenberg (kiri) memiliki kontak langsung dengan Hitler (tengah) - hanya dengan cara ini dia dapat dianggap sebagai seorang pembunuhFoto: picture-alliance/akg-images
Iklan
Pukul 12.42, sebuah bom meledak di barak rapat di markas besar Nazi Wolfsschanze. Bom itu dimaksudkan untuk membunuh Adolf Hitler. Bom tersebut diletakkan oleh perwira Wehrmacht, Claus Schenk Graf von Stauffenberg. Wehrmacht adalah angkatan bersenjata resmi Jerman pada masa Perang Dunia II, yang menjalankan operasi militer atas perintah rezim Nazi.
Awalnya, Claus Schenk Graf von Stauffenberg adalah pendukung setia Nazi. Tapi kemudian dia merasa bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan kekejaman diktator Hitler adalah dengan membunuhnya. ‘Tidak ada pilihan lain selain membunuhnya,’ katanya beberapa hari sebelum kejadian itu kepada orang-orang kepercayaan terdekatnya.
Stauffenberg bukan hanya pelaku percobaan pembunuhan, tapi juga penggerak utama upaya kudeta besar yang melibatkan kelompok konservatif seperti perwira militer tinggi, diplomat, dan pejabat pemerintahan.
Pada tanggal 20 Juli 1944 itu, sang kolonel meninggalkan barak beberapa saat sebelum bom dengan sumbu waktu itu meledak, dan ia meyakini bahwa sang “Führer” telah tewas, sementara ia terbang dengan pesawat militer menuju Berlin.
Di sana, ”Operasi Walküre atau Valkyrie” dimulai— sebuah rencana yang semula disusun oleh Wehrmacht untuk meredam kemungkinan pemberontakan. Para konspirator yang tersebar di posisi-posisi penting dalam pemerintahan NAZI ingin menggunakan rencana itu untuk melakukan kudeta.
Hitler menunjukkan kepada diktator Italia Mussolini kerusakan setelah ledakan di barakFoto: picture-alliance
Rommel menolak terlibat
Namun Hitler lolos hanya dengan luka ringan. Meja berat dari kayu ek serta jendela-jendela barak yang terbuka lebar karena panas musim panas telah meredam daya ledak. Meski demikian, pada awalnya kudeta itu tidak tampak tanpa harapan, andaikata saja semua pihak yang terlibat menjalankan “Operasi Valkyrie” sesuai rencana.
Iklan
Tapi kemudian terjadi penundaan, kesalahan, dan perencanaan yang kurang matang. Selain itu, beberapa orang yang tahu rencana itu jadi takut ketahuan dan akhirnya tidak bertindak atau bahkan berbalik arah ke pihak Hitler.
Menjelang malam, upaya kudeta itu telah gagal. Hitler berbicara kepada rakyat melalui siaran radio dan menyebut “takdir” sebagai penyelamatnya. Stauffenberg dan beberapa rekan konspirator ditangkap dan dieksekusi secara singkat malam itu juga. Yang lainnya ditangkap kemudian.
Secara keseluruhan, sekitar 200 orang yang melakukan perlawanan kepada Hitler dibunuh. Sejarawan Wolfgang Benz melihat penyebab utama kegagalan itu terletak pada kenyataan bahwa “tak seorang pun dari panglima besar yang terkenal” pada masa itu, seperti Jenderal Erwin Rommel, turut serta dalam aksi itu: “Setidaknya satu dari mereka seharusnya maju ke depan, agar rakyat bisa berkata: ‘Aha, Rommel juga melihat bahwa Hitler adalah seorang penjahat’.”
Pada tanggal 20 Juli 2010, mantan rekan konspirator Ewald von Kleist mengambil bagian dalam upacara pelantikan Angkatan Bersenjata JermanFoto: picture-alliance/dpa
Sebuah simbol yang kuat
Meski demikian, perlawanan terhadap Hitler mendapatkan sebuah simbol yang kuat dengan peristiwa 20 Juli 1944 itu. Rekan konspirator Stauffenberg, Henning von Tresckow, telah sampai pada kesimpulan beberapa hari sebelumnya bahwa keberhasilan tidak lagi menjadi ukuran, “melainkan bahwa gerakan perlawanan Jerman, di hadapan dunia dan sejarah, telah berani mengambil langkah penentu dengan mempertaruhkan nyawa.”
Telah ada aksi-aksi lain sebelumnya, misalnya upaya Georg Elser, seniman yang merupakan pengrajin kayu, yang pada tahun 1939 nyaris berhasil membunuh Hitler dengan bom rakitan di restoren Bürgerbräukeller di München, atau aksi penyebaran selebaran oleh kelompok Weiße Rose.
Namun aksi-aksi tersebut kelak tertutupi oleh bayang-bayang “perlawanan kalangan elite konservatif yang datangnya belakangan,” demikian penilaian Wolfgang Benz atas tanggal 20 Juli.
Napak Tilas Tumbangnya NAZI Jerman
Hitler menyerah tanpa syarat 8 Mei 1945, menandai berakhirnya Perang Dunia II di Eropa. Beragam monumen didirikan mengenang pembebasan Jerman dari rezim NAZI oleh pasukan Sekutu dan Uni Sovyet.
Foto: picture-alliance/dpa/Hans Joachim Rech
Perang Campuh di Hutan Hürtgen
Pasukan AS bertempur sengit melawan angkatan perang Jerman di hutan Hürtgen dekat Aachen selama beberapa bulan, dari musim gugur 1944 hingga awal tahun 1945,. Ini merupakan pertempuran paling lama dan paling signifikan di kawasan Jerman. Hutan Hürtgen kini jadi bagian dari ‘‘Rute Kemerdekaan Eropa‘‘ yakni jejak peringatan gerak majunya Sekutu..
Foto: picture-alliance/dpa/Oliver Berg
Keajaiban di Remagen
Pasukan AS berhasil merebut jembatan di Remagen, di selatan Köln 7 Maret 1945. Dengan itu ribuan tentara AS dapat menyeberangi Sungai Rhein untuk pertama kalinya, yang populer disebut ‘‘Keajaiban di Remagen‘‘. Pemboman yang dilancarkan terus menerus oleh tentara Jerman, meruntuhkan jembatan 10 hari setelah direbut sekutu. Kini di puing jembatan berdiri museum perdamaian.
Foto: picture-alliance/dpa/Thomas Frey
Pemakaman Reichswald
AS biasanya mengirim pulang jenazah tentaranya yang tewas ke Amerika. Lain halnya dengan tentara Inggris yang gugur di medan perang, biasanya dimakamkan di Jerman. Terdapat 15 pemakaman dan yang terbesar adalah di Reichswald, dekat perbatasan Belanda. Di antara 7.654 tentara yang tewas, 4.000 di antaranya adalah pilot dan awak pesawat tempur yang banyak berasal dari Kanada.
Foto: Gemeinfrei/DennisPeeters
Monumen Seelow Heights
Tentara Merah Uni Soviet melancarkan gempuran pamungkas di bagian timur Jerman 16 April 1945. Petempuran Seelow Heights diawali dengan bombardemen dini hari untuk mendukung serbuan ke Berlin. Sekitar 900.000 tentara Soviet bertempur melawan 90.000 tentara Jerman. Pertempuran terbesar di Jerman saat Perang Dunia II yang menewaskan ribuan orang, dikenang dengan monumen di lokasi.
Foto: picture-alliance/dpa/Patrick Pleul
Peringatan Hari Elbe di Torgau
Pasukan Uni Soviet dan AS bertemu untuk pertama kalinya di Sungai Elbe di Torgau 25 April 1945. Peristiwa ini menutup celah front Timur dan Barat. Akhir perang sudah di depan mata, dan jabat tangan tentara dari kedua belah pihak di Torgaui jadi foto ikonik. Pertemuan tentara Sekutu dan Soviet di Sachsen ini setiap tahun diperingati sebagai hari Elbe.
Foto: picture-alliance/dpa/H. Schmidt
Musium Jerman-Rusia di Berlin-Karlshorst
Angkatan bersenjata Jerman tandatangani pernyataan takluk tanpa syarat 8 Mei 1945 malam di mess perwira Berlin-Karlhorst. Kini naskah pernyataan takluk asli yang ditulis dalam bahasa Inggris, Jerman dan Rusia, jadi fitur utama di ruangan utama museum itu. Pameran permanen lainnya di museum berfokus pada perang pemusnahan Nazi Jerman terhadap Uni Soviet yang dimulai tahun 1941.
Foto: picture-alliance/ZB
Monumen Peringatan Perang di Treptow
Monumen di Treptow sangat besar dan impresif. Monumen beserta pemakaman tentara ini berada di atas area seluas 100.000 m2. Dibangun setelah Perang Dunia II untuk memperingati Tentara Merah Uni Soviet yang tewas dalam pertempuran di Berlin. Pintu masuk ke monumen dibangun menyerupai bendera Uni Soviet, dibuat dari batu granit berwarna merah.
Foto: picture-alliance/ZB/Matthias Tödt
Istana Cecilienhof di Potsdam
Setelah Nazi menyerah, ketiga kepala pemerintahan terpenting Sekutu bertemu di Istana Cecilienhof di Potsdam pada musim panas 1945. Joseph Stalin, Harry S. Truman dan Winston Churchill memimpin delegasi dalam Konferensi Potsdam, untuk membangun tatanan pasca Perang Dunia II di Eropa. Keputusan konferensi membagi Jerman menjadi empat zona pendudukan
Foto: picture-alliance/dpa/Ralf Hirschberger
Museum Sekutu
Berlin juga dibagi jadi 4 sektor. Distrik Zehlendorf jadi sektor Amerika. Bekas gedung bioskop ‘‘Outpost‘‘ milik militer AS kini jadi bagian dari Museum Sekutu yang mendokumentasikan sejarah politik dan komitmen militer Sekutu Barat di Berlin, detail pendudukan Berlin Barat di tahun 1945, pengiriman bantuan melalui udara ke Berlin Barat dan penarikan pasukan AS pada tahun 1994.
Foto: AlliiertenMuseum/Chodan
Istana Schönhausen di Berlin
Istana Barok Prusia ini adalah lokasi perjanjian ‘‘Two Plus Four‘‘ tahun 1990 antara Jerman dan sekutu yang menduduki Jerman pada akhir Perang Dunia: AS, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet. Keempatnya sepakat mengakhiri hak okupasi Jerman, yang membuka jalan bagi penyatuan kembali Jerman Barat dan Timur. Beberapa plakat menyebutkan di sinilah Perang Dunia II sejatinya diakhiri.
Foto: picture-alliance/dpa/Hans Joachim Rech
10 foto1 | 10
Holokaus tidak menjadi perhatian
Peringatan atas upaya pembunuhan ini memiliki sejarahnya tersendiri. Lama setelah perang usai, para pelakunya masih dipandang sebagai pengkhianat. Janda Stauffenberg bahkan sempat ditolak permohonannya untuk menerima pensiun janda perwira.
Baru kemudian para konspirator itu ditahbiskan menjadi pahlawan secara resmi. Kini, nama mereka diabadikan menjadi nama jalan, sekolah, dan barak militer. Gedung-gedung publik mengibarkan bendera pada tanggal 20 Juli. Pada hari peringatan tersebut diadakan upacara sumpah bagi para rekrutmen Bundeswehr- militer Jerman yang demokratis merujuk pada para pejuang perlawanan di sekitar mantan perwira Wehrmacht, Stauffenberg.
Namun selalu ada suara-suara kritis. Penulis biografi Stauffenberg, Thomas Karlauf, menunjukkan bahwa kelompok itu baru bertindak pada musim panas 1944, tak lama setelah pendaratan sekutu di Normandia.
Pada tahun 1940, Stauffenberg masih terpukau oleh kemenangan militer yang cepat atas Polandia dan Prancis: “Perubahan macam apa dalam waktu sesingkat ini!” Menurut Benz, Stauffenberg dan para pria lain dalam perlawanan militer menempuh “jalan penyucian batin yang sangat, sangat panjang,” dan ia menambahkan: “Holokaus tidak menjadi perhatian mereka sama sekali.” Mereka hendak mencoba melakukan kudeta, karena kekalahan militer mulai tampak, demi “menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan” bagi Jerman.
Stauffenberg terbius oleh kemenangan setelah kampanye Polandia dan Prancis pada tahun 1940Foto: ullstein bild/SZ Photo
Perlawanan – juga di luar tanggal 20 Juli
Rekan sejarawannya, Johannes Hürter, berpendapat bahwa Stauffenberg bukanlah seorang demokrat, dan bila serangan itu berhasil, ia membayangkan bentuk negara yang otoriter bagi Jerman. Wolfgang Benz menilai dengan nada yang sedikit lebih lunak: “Dalam keadaan apa pun, Jerman akan menjadi negara hukum lagi. Namun demokrasi seperti yang kelak ditegakkan dalam Undang-Undang Dasar bukanlah gambaran para konspirator tanggal 20 Juli.”
Kini, banyak warga Jerman yang pertama kali teringat pada tanggal 20 Juli 1944 bila berbicara tentang perlawanan terhadap NAZI. Claus Schenk Graf von Stauffenberg telah menjadi wajah dari perlawanan tersebut. Namun ada pula banyak pahlawan lain, baik laki-laki maupun perempuan, yang memberontak terhadap teror rezim nasionalis-sosialis tersebut dari kalangan Yahudi, komunis, tokoh gereja, seniman, partisan. Tentu saja mereka melakukan perlawanan dalam diam dan tindakan-tindakannya berbeda dari upaya pembunuhan pada tanggal 20 Juli. Tapi mereka kini telah terlupakan.
Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman pada 20.7.2019 dan diperbarui pada 16.7.2025.
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Hendra Pasuhuk
Bangunan Kota yang Dirampok dari Yahudi
Distrik Mitte di pusat kota Berlin merupakan lokasi pembangunan yang masif. Tak banyak yang tahu, kebanyakan bangunan di pusat ibukota Jerman ini dirampas dari keluarga-keluarga Yahudi, pemilik aslinya.
Foto: Stadtmuseum Berlin/Oliver Ziebe
Ibukota tanpa pusat sejarah
Distrik Mitte di ibukota Jerman identik dengan pembangunan besar-besaran. Dekat menara TV dan Balai Kota Merah, Rotes Rathaus, berdiri berdekatan. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa sebagian besar properti di daerah ini dulunya dimiliki orang Yahudi. Keuntungan kini diraup dibuat tanpa melibatkan orang-orang yang dulunya pernah memiliki lahan tersebut.
Foto: Getty Images
Perencanaan sistematis
Dari 1.200 bangunan di pusat kota Berlin itu, setidaknya 225 di antaranya milik orang Yahudi-Jerman, sebelum tahun 1933. Setelah Hitler menjadi pemimpin Jerman, orang-orang Yahudi secara sistematis dikeluarkan dari "komunitas nasional". Undang-undang yang diskriminatif mengharuskan orang Yahudi mendaftarkan harta benda mereka, yang kemudian disita.
Foto: Sammlung Düwel Hamburg
Dilucuti kewarganegaraannya dan dirampok
Salah satu tindakan yang digunakan untuk mendapatkan akses terhadap kepemilikan properti keturunan Yahudi adalah menyangkal kewarganegaraan mereka: mencap mereka sebagai musuh negara, memaksa mereka berimigrasi dan kemudian menyita aset mereka. Mereka yang tidak meninggalkan Jerman pada tahun 1938 menderita saat pogrom Kristallnacht, malam penghancuran bisnis dan rumah Yahudi.
Foto: gemeinfrei
Rasisme terbuka
Setelah tahun 1938, pengambilalihan aset Yahudi di Berlin dibicarakan secara terbuka. Tak seperti kota-kota lain di seluruh Jerman, barang curian tersebut tak jatuh ke tangan swasta, melainkan negaralah yang menjadi penerima manfaat langsung. Fakta ini pernah dipamerkan dalam pameran foto "Robbed Centre" beberapa tahun lalu di Berlin's Ephriam Palace. Bahkan lokasi pameran ini pun hasil jarahan.
Foto: Stadtmuseum Berlin/Oliver Ziebe
Mimpi atas Germania
Apa alasan di balik nasionalisasi bangunan? Arsitek favorit Hitler, Albert Speer, diperintahkan membangun sebuah ibukota kekaisaran baru - Germania. Pusat kota bersejarah itu akan digantikan oleh gedung administrasi yang monumental. Titik pusat Germania akan dijadikan bangunan aula akbar, yang ditunjukkan di sini dalam foto untuk menggambarkan perbandingannya dengan Gerbang Brandenburg.
Foto: picture alliance / dpa
Sumbu Timur-Barat
Untuk mencapai tujuan ini, Hitler mengangkat arsitek Speer sebagai Inspektur Jenderal Bangunan di Berlin. Semua rumah keturunan Yahudi di ibukota didata dan dilaporkan ke Speer untuk dipertimbangkan apakah negara ingin menggunakan haknya untuk membeli bangunan ini. Jika rumah-rumah itu terletak di poros Timur-Barat yang direncanakan, yang melintasi pusat kota, maka harus diledakkan.
Foto: npb
Wertheim department store
Bahkan "Aryanisasi" pribadi terjadi di pusat kota. Satu kasus penting termasuk pusat perbelanjaan Wertheim. Saat pergantian abad, department store ini terkenal seperti Lafayette di Paris. Inilah wajah mal Yahudi itu di tengah lautan swastika selama Olimpiade 1936. Pada tanggal 1 Januari 1937, perusahaan tersebut dinyatakan milik "Jerman".
Foto: Stadtmuseum Berlin
Temuan seni berharga
Selama penggalian Balai Kota Merah pada tahun 2010, 11 patung yang telah dijelak-jelekkan Nazi sebagai "kemerosotan seni ", ditemukan lagi. Patung-patung itu telah disita pada tahun 1937 dari museum dan koleksi pribadi Jerman dan dilaporkan hilang atau hancur. Sebuah rumah Yahudi pernah berdiri di lokasi penemuan dan keluarga pemiliknya diasingkan.
Foto: Berlin-Mitte-Archiv
Celah lubang
Tidak hanya namanya berubah, tapi bekas jalan Königstrasse, di dekat balai Kota merah hampir tak bisa lagi dikenali. Di sebuah lahan kosong ini, rumah No. 50 pernah berdiri( ditandai warna merah di foto). Inilah wajah Berlin saat ‘Arya-nisasi‘ dimulai.
Foto: Stadtmuseum Berlin
Sebuah kota yang hancur
Banyak kosong telah lama ternganga di mana rumah Yahudi pernah berdiri. Entah rencana untuk Germania telah menyebabkan kehancuran mereka, mereka dibom dalam perang, atau pemerintah komunis Jerman Timur telah menghapus reruntuhan setelah perang.
Foto: AP
Ganti rugi minimal
Jerman Timur tidak membayar restitusi setelah Holocaust. Alasannya? Di negara komunis, seharusnya tidak ada properti pribadi. Lebih baik lagi jika negara sudah jadi pemiliknya. Setelah reunifikasi Jerman pada tahun 1990, saat ahli waris pemilik properti asli sekali lagi mencari kompensasi, mereka hanya menerima ganti rugi minimal, itupun jika dibayar.
Foto: picture-alliance/dpa
Ganti rugi yang jatuh nilainya
Mereka yang berhak atas properti ini dibayar berdasarkan estimasi dari penilaian tahun 1990. Akibatnya, ahli waris keluarga Yahudi seringkali hanya dibayari 10 persen dari nilai aslinya. Jika lahannya kosong, nilai restitusinya sama rendahnya. Dalam gambar tertera toko furnitur Gerson yang dulu terkenal di tahun 1890-an.
Foto: Stadtmuseum Berlin
Jadi 'tambang emas'
Namun, sekarang, bekas rumah kosong tersebut menjadi bangunan baru di Berlin Mitte. Apakah restitusi ahli waris harus dinegosiasikan ulang, atau jika penjualan tanah tersebut harus disalurkan ke yayasan? (Ed: Sarah Judith Hofmann/ap/hp)