1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

2030: Energi bagi Semua Orang, Setiap Saat

6 Oktober 2026

Para tokoh di bidang iklim tmenyerukan pemerintah, dunia usaha, lembaga, dan masyarakat menggenjot penggunaan energi surya sebelum 2030, agar dunia mendapatkan suplai energi yang murah dan bersih.

Harare, Zimbabwe 2019 | Seorang perempuan dengan panel surya untuk menghasilkan listrik di rumahnya.
Surat terbuka "Solar for all, everywhere" ditujukan terutama bagi mereka yang belum memiliki akses pada listrik.Foto: Tsvangirayi Mukwazhi/AP Photo/picture alliance

"Di dunia yang tengah ‘terbakar' perang dan pemanasan global, hingga bencana iklim yang semakin parah, seperti kebakaran hutan hingga runtuhnya gletzer di Nepal, energi surya menawarkan solusi listrik yang bersih dan terjangkau.”

Demikian isi surat terbuka yang dituliskan oleh para pengemuka iklim dunia.

Surat yang ditandatangani oleh penulis Bill McKibben, mantan Sekretaris Iklim PBB Christiana Figueres, dan mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Kanada Catherine McKenna, menyampaikan seruan yang jelas - mendesak pemerintah, perusahaan, lembaga, dan masyarakat untuk bersatu menyediakan energi bersih dan terjangkau bagi "semua orang, di mana pun, pada tahun 2030”, dari hampir satu miliar orang yang masih tidak memiliki akses ke listrik hingga miliaran orang lainnya yang membayar terlalu mahal untuk bahan bakar fosil yang kotor.

Apakah seruan tersebut realistis?

"Ini target yang ambisius, tapi pencapaian di bidang tenaga surya dan energi terbarukan telah melampaui ekspektasi kita semua,” kata McKenna kepada DW. "Mari kita teruskan,” tegasnya.

Bagaimana perkembangan tenaga surya saat ini?

Menurut think tank global, Ember, energi surya telah tumbuh dengan laju tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Pada tahun 2025, pertumbuhannya mencapai rekor 30% dibandingkan tahun sebelumnya dan telah meningkat lebih dari sepuluh kali lipat sejak 2015.

Tenaga surya adalah energi listrik termurah dalam sejarah dunia, kata McKenna, pendiri firma penasihat iklim Climate and Nature Solutions, serta koalisi global Women Leading on Climate.

"Pertumbuhannya jauh lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan siapa pun,” kata McKenna.

Demikian pula dengan teknologi baterai yang digunakan untuk menyimpan kelebihan energi.

"Biaya baterai juga turun seiring penurunan biaya modul surya,” kata Eicke Weber, seorang ahli Fisika dan mantan direktur Institut Fraunhofer untuk Sistem Energi Surya di Jerman yang kemudian mendirikan Dewan Manufaktur Energi Surya Eropa. "Kami memiliki teknologi yang tersedia dan dana yang cukup untuk membiayai (transisi energi fosil ke tenaga surya),” katanya.

Pada tahun 2025, berdasarkan analisis terbaru Ember, untuk pertama kalinya dalam 100 tahun, sumber energi terbarukan melampaui sumber energi batu bara dalam bauran listrik global.

Sekitar 655 juta orang masih belum memiliki akses listrik.Foto: Moritz Wolf/imageBROKER/picture alliance

Sejauh mana kita tengah mengembangkan energi surya?

Saat ini, kapasitas terpasang energi surya di seluruh dunia mencapai 3 Terawatt (TW). 1 TW setara dengan 1.000 gigawatt. Sedang, satu pembangkit listrik tenaga nuklir memiliki kapasitas 1 GW.

Saat ini, dunia menghasilkan sekitar 1 TW kapasitas fotovoltaik baru setiap tahun, sebagian besar di Cina. Weber mengatakan bahwa untuk sepenuhnya mengalihkan pasokan energi global ke energi terbarukan, kita membutuhkan sekitar 50 TW. Weber menambahkan, "Kita memiliki kapasitas produksi yang lebih besar daripada yang dapat kita jual.”

Desa di Jerman Dengan Tagihan Energi Termurah

00:50

This browser does not support the video element.

Sekitar 655 juta orang masih belum memiliki akses ke listrik.

"Laju elektrifikasi di Afrika Sub-Sahara harus meningkat tiga kali lipat agar akses universal tercapai pada tahun 2030,” kata McKenna, sambil menunjukkan betapa cepatnya kesenjangan ini dapat diatasi dengan energi surya.

Daerah-daerah tanpa listrik memiliki peluang untuk langsung beralih ke teknologi bersih tanpa melalui tahap penggunaan bahan bakar fosil yang memanaskan planet ini, jelas McKenna. Meningkatnya suhu global memicu cuaca ekstrem seperti kekeringan, badai, dan banjir di seluruh dunia.

"Ada kesalahpahaman yang secara sengaja kerap disebarkan oleh perusahaan bahan bakar fosil yakni energi surya itu mahal, sulit, dan tidak dapat diandalkan. Padahal, kenyataannya sudah tidak seperti itu lagi,” ujar MecKenna. "Sejujurnya, hal yang paling tidak dapat diandalkan adalah jika Anda mencoba mengangkut bahan bakar fosil melewati Selat Hormuz.”

Apakah energi surya terwujud dalam waktu singkat?

Hans-Josef Fell sudah terbiasa dengan argumen bahwa hal-hal tertentu tidak mungkin dilakukan. Dikenal sebagai pelopor energi terbarukan, ia turut menyusun Undang-Undang Energi Terbarukan Jerman (EEG). EEG menetapkan tarif feed-in yang bantu mempercepat pertumbuhan energi bersih di dalam negeri maupun di luar negeri.

"EEG memicu pertumbuhan eksponensial yang mematahkan setiap asumsi tentang apa yang dapat dicapai. Undang-undang tersebut membalikkan skenario dan proyeksi yang sebelumnya dianggap realistis oleh para pembuat kebijakan dan pakar. Pada akhirnya, kenyataan di lapangan melampaui semua ekspektasi,” kata Fell, yang kini memimpin lembaga think tank Energy Watch Group.

Fell yang tidak lagi bergantung pada jaringan listrik Jerman selama lima tahun terakhir, mengatakan bahwa mewujudkan transisi energi global membutuhkan kemauan politik dan sosial yang, "Saat ini masih kurang di seluruh dunia karena perdebatan publik didominasi oleh kepentingan bahan bakar fosil.”

Menurut perhitungan think tanknya, jika kebutuhan energi global dipenuhi sepenuhnya oleh energi terbarukan, energi surya akan menyumbang sekitar 60–70% dari pasokan tersebut. Sisanya akan berasal dari tenaga angin,  serta sumber-sumber lain, seperti bioenergi dan air.

Apa langkah selanjutnya?

Negara-negara seperti Cina dan Pakistan telah selangkah lebih maju.

"Saat ini, di tahun 2026, keputusan ada di tangan kita untuk berfokus sepenuhnya pada masalah energi ini. Kita tidak perlu menunggu penelitian baru,” kata Weber.

"Hal ini mungkin tercapai, tetapi akan membutuhkan program ambisius,” tambahnya, seraya menekankan bahwa hal itu memerlukan dukungan politik yang serius.

Ia mengatakan bahwa meskipun Jerman bisa melakukan transisi semacam itu dalam dua atau tiga tahun ke depan, hal itu kemungkinan akan memakan waktu lebih lama untuk dicapai dalam skala global, itu jika ada dukungan politik. "Kita mungkin membutuhkan waktu hingga tahun 2040 untuk dapat mencapai target 80% hingga 90% listrik di seluruh dunia berasal dari energi terbarukan.”

Revolusi Hijau Desa-Desa India

01:22

This browser does not support the video element.

"Singkat kata: Jika kita sebagai masyarakat global serius akan hal ini, kita mungkin benar-benar bisa mewujudkannya,” kata Fell. "Bahkan jika kita hanya mencapai 90% dari target tersebut, itu tetap akan menjadi pencapaian yang luar biasa.”

McKenna menyoroti pentingnya skema pendanaan campuran, seraya menyerukan kepada pemerintah, Bank Dunia, Bank Pembangunan Afrika, dan sektor swasta untuk turut serta menyalurkan dana.

"Hal yang tidak rasional adalah terus mengandalkan bahan bakar fosil,” tambahnya. "Itu tidak rasional dari segi biaya, risiko, dan dampaknya. Itu adalah teknologi yang sudah ketinggalan zaman.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris 

Diadaptasi oleh Sorta Caroline 

Editor: Yuniman Farid