1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

30 Tahun Revolusi Iran: Program Atom yang Kontroversial

2 Februari 2009

Ketika itu Syah Iran baru saja digulingkan. 1 Februari 1979, pimpinan Syiah Ayatollah Khomeini kembali ke Iran, dan dimulailah revolusi di Iran. Dalam program atom, Iran mengundang kontroversi masyarakat internasional.

Presiden Ahmadinejad saat berpidato di reaktor atom NatanzFoto: AP

Program atom Iran mulai dikenal masyarakat internasional tahun 2002. Dimana melalui laporan dinas rahasia sejumlah negara, Badan Energi Atom Internasional IAEA mendapat informasi bahwa Teheran sedang mengupayakan untuk melakukan sendiri pengayaan uranium.

Pada kenyataannya satu tahun kemudian ditemukan jejak uranium yang diperkaya, di reaktor atom Natanz. Laporan berikutnya yang menyebutkan bahwa Iran merahasiakan program atomnya selama 18 tahun, membuat masyarakat internasional segera menuntut perundingan. Selama pihak reformis memimpin Teheran masalahnya relatif mudah. Tapi dengan terpilihnya Mahmud Ahmadinejad tahun 2005, terjadi perubahan. Karena presiden berhaluan radikal ini tidak mau mengalah dan selalu menekankan:

"Kami hanya menerima hak kami dalam rangka perjanjian nonproliferasi nuklir, tidak lebih dan tidak kurang."

Sebab dengan meratifikasi perjanjian nonproliferasi nuklir, sesuai pasal empat, semua penandatangannya memiliki hak khusus untuk melakukan penelitian, pembuatan dan menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai. Semua penandatangan perjanjian tersebut, termasuk Iran memiliki kemungkinan ikut serta pada apa yang disebut pertukaran secara luas menyangkut perlengkapan militer, material dan informasi.

Namun dalam hak pertukaran legitim ini, terutama atas desakan Amerika Serikat, Iran tidak diikutsertakan, yang menyebabkan Iran memasok teknologi nuklirnya lewat jalur tersembunyi. Yakni melalui Pakistan salah satu mitra Washington dalam perang melawan terorisme. Akibat isolasi terhadap Iran, Ahmadinejad juga bersikap tidak percaya terhadap setiap tawaran perundingan.

Awal 2006 Iran bahkan berhasil menguasai teknologi elemen bakar dan proses pengayaan memperkaya uranium. Ini cukup untuk membangkitkan energi tapi tidak cukup untuk membuat senjata nuklir. Pada saat itu Iran memiliki 164 sentrifugal. Kini menurut keterangan Teheran mereka sudah memiliki 5000.

Dewan Keamanan PBB selama ini sudah memutuskan empat resolusi yang menentang program atom Iran, namun tidak diakui pemerintah di Teheran. Di kalangan warga Iran program nuklir itu diterima sebagai lambang prestasi nasional dan didukung mayoritas penduduk. Meskipun demikian sikap keras kepala dan tidak fleksibel dari presiden Ahmadinejad semakin sering mendapat kritik. Demikian ditekankan mantan presiden Rafsanjani. Akibat masalah atom tidak boleh sampai menantang perang, tapi sekaligus ditekankan Rafsanjani

"Saya dengan jelas mengatakan kepada kalian di Barat, jalan resolusi yang kalian upayakan tidak akan tercapai. Dengan itu kalian justru membuat masalah dengan kalian sendiri, dunia dan terutama di kawasan kami. Jalan yang benar adalah menghentikan semua tindakan yang tidak masuk akal ini."

Betapa gawatnya sengketa atom ini ditunjukkan reaksi dari Amerika Serikat dan Israel. Kedua negara siap melancarkan serangan militer terhadap Iran dan juga melihat adanya opsi lain dalam masalah tersebut. (dk)