1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

50 Tahun UE: Deklarasi Berlin

26 Maret 2007

Deklarasi yang diprakarsai Kanselir Jerman Angela Merkel dinilai berhasil membangkitkan kesan persatuan, tapi tidak punya konsekuensi praktis.

Berliner Erklärung verabschiedet
Foto: AP

Mengenai Deklarasi Berlin yang ditandatangani dalam rangka peringatan 50 tahun persemakmuran Uni Eropa, harian Belgia Le Soir menulis:

„Deklarasi itu tidak ditandatangani oleh ke-27 kepala negara dan pemerintahan Uni Eropa. Teksnya hanya mencantumkan tiga tandatangan: Kanselir Jerman Angela Merkel yang mendapat tepuk tangan meriah, Ketua Parlemen Eropa Hans Gert Pöttering dan Presiden Komisi Eropa José Manuel Barroso. Jadi deklarasi ini bukan sebuah perjanjian yang mengikat 27 anggotanya. Deklarasi ini menegaskan, bahwa negara-negara anggota punya satu tujuan: memberi Uni Eropa sebuah landasan baru sebelum pemilihan parlemen Eropa Juni 2009.“

Harian Italia La Repubblica berkomentar:

“Deklarasi Merkel punya tujuan tinggi: Angela terbang seperti malaikat di atas Berlin. Namun kata-kata tidak dapat menyembunyikan kesulitan apalagi membawa Eropa keluar dari krisis dalam dirinya sendiri. Ada perbedaan besar antara citra Uni Eropa yang dimiliki orang di luar Eropa dan pendapat warga Eropa sendiri tentang persemakmuran ini.“

Harian Spanyol El Mundo menilai:

“Deklarasi yang diprakarsai kanselir Jerman Angela Merkel dikaitkan dengan harapan-harapan besar. Namun deklarasi ini hanya memuat sederet prinsip-prinsip yang baik, tanpa konsekuensi praktis. Satu-satunya butir yang konkrit adalah suatu tekad, merampungkan landasan perjanjian yang baru sampai tahun 2009. Masalah Eropa yang sebenarnya tidak terletak pada penyusunan teks konstitusi, melainkan pada kesepakatan bersama tentang politik luar negeri dan keamanan, maupun kesepakatan tentang wewenang Komisi Eropa dan Dewan Menteri.“

Mengenai Deklarasi Berlin, harian Inggris Independent menulis:

„Diam-diam kanselir Jerman Angela Merkel menggunakan kepresidenan Jerman di Uni Eropa untuk membangkitkan kembali gagasan konstitusi Eropa. Upayanya tidak dianggap sepele. Gagasan ini di Perancis dan Belanda ternyata ditolak dalam referendum sehingga Perdana Menteri Tony Blair akhirnya membatalkan rencana referendum karena yakin akan mengalami hal serupa. Sekarang, semuanya tergantung dari hasil pemilihan umum di Perancis.“

Harian Inggris lainnya, Times berkomentar:

„Dalam deklarasi yang baru, kata konstitusi, soal agama maupun agenda peluasan yang dulu jadi sengketa tidak disebutkan lagi. Maksudnya untuk mengakomodasi keberatan Inggris dan Belanda yang menganggap gagasan konstitusi sudah mati. Juga sengketa mengenai budaya kristen sebagai warisan Eropa ingin dihindari, sesuatu yang dituntut oleh Polandia agar dijadikan landasan. Juga masalah sensitif tentang bagaimana menanggapi permohonan keanggotaan Turki, Kroasia dan negara-negara lain tidak disinggung.“

Harian Ekonomi Jerman Handelsblatt menulis:

„Jerman sebagai ketua Uni Eropa memang berhasil membangkitkan kesan semangat persatuan dalam berbagai pidato dan acara yang digelar pada pertemuan puncak Berlin. Namun siapa yang memperhatikan wajah dingin Presiden Ceko Vaclav Klaus dan rekan sejabatnya dari Polandia, Lech Kaczynyki, bisa membayangkan bagaimana sulitnya bagi Merkel menggiring ke 27 bangsa ini menuju arah yang sama sampai Juni mendatang.