220808 China Olympia Protest
22 Agustus 2008
Taman Ritan di jantung kota Beijing. Tempat ini merupakan satu dari tiga zona protes dimana orang boleh berdemonstrasi selama pesta olahraga Olimpiade berlangsung. Dekat meja kecil di bawah keteduhan pepohonan, beberapa orang pria duduk berkumpul. Mereka minum teh atau main kartu. Jika ada orang mendekat, segera mereka menengadahkan wajah. Kelihatan jelas, mereka bukan penggemar teh atau pemain kartu asli, melainkan petugas keamanan Cina berpakaian sipil. Mereka mengawasi zona protes yang sepi. Sejauh ini, tak ada satupun permohonan demonstrasi yang dilaporkan pada dinas pemerintah yang dikabulkan, kata Shan Chun.
"Saya lapor akan melakukan demonstrasi pada 7 dan 8 Agustus. Saya datang ke aparat keamanan, menyerahkan formulir permohonan dan fotokopi paspor. Mereka mengatakan, secara lisan, bahwa permohonan saya tidak diterima. Mereka menolak memberi penolakan secara tertulis. Saya datang lagi dan mereka bilang, saya punya persoalan pribadi. Saya menunggu di situ selama 4 jam. Dan selama itu ada lebih dari 10 permohonan demonstrasi yang ditolak. Pemerintah sama sekali tidak mau ada aksi protes. Ini cuma pertunjukan saja."
Shan Chun, 36 tahun, datang dari Cina Utara. Dulu ia bekerja sebagai dokter di militer. Tahun 2001 ia diberhentikan. Tanpa alasan, katanya. Shan Chun memutuskan untuk protes, juga atas nama 2000 mantan tentara yang mengalami nasib serupa. Mereka tidak mendapat pesangon ataupun pensiun. Banyak yang kini hidup sebagai peminta-minta, kata Shan Chun. Bertahun-tahun lamanya mantan dokter militer itu berjuang mendapatkan keadilan.
"Saya sudah dua kali ditahan. Telepon saya diawasi 24 jam. Pembicaraan inipun disadap. Kalau pulang ke rumah, saya dibuntuti petugas keamanan. Di internet cafe mereka duduk di samping saya."
Walau tingkat keamanan tinggi, tetap ada saja yang berhasil menarik perhatian dengan aksi protes selama Olimpiade, terutama para aktivis pro-Tibet dari luar negeri. Mereka lalu ditangkap, diinterogasi dan dideportasi. Beritanya memenuhi media luar negeri dan disensor di media-media berbahasa Cina. Bagi pemerintah Cina, aksi protes aktivis luar negeri tidak mengundang bahaya. Yang ditakutkan pemerintah, kata Shan Chun, justru protes dari rakyatnya sendiri. Jika petani yang tidak puas, orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil atau menuntut hak akan kebebasan, semuanya berdemonstrasi, itu baru bahaya.
"Sebelum olimpiade digelar, pemerintah Cina melakukan pembersihan. Banyak pengkritik yang dikeluarkan dari Beijing atau malah ditahan. Pemerintah Cina paham betul, jika satu permohonan protes dikabulkan maka akan menyusul ribuan lain yang juga ingin protes. Dan mereka tidak akan bisa lagi mengontrolnya. Olimpiade tidak memberi apapun pada rakyat kecil. Ketakutan pemerintah kami sangat besar. Mereka tahu persis, medali-medali yang dimenangkan di sini, tidak akan membuat gembira rakyat yang tidak puas." (rp)