1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman: AfD Sukses di Salah Satu Wilayah Terkaya Dunia

10 Maret 2026

Dalam pemilu negara bagian Baden-Württemberg, AfD hampir menggandakan suara hingga mendekati 19 persen. Namun berbagai krisis internal membuat perayaan kemenangan partai itu tetap berlangsung dengan nada hati-hati.

Jerman, Stuttgart 2026 | Kandidat utama AfD Markus Frohnmaier (tengah) meluapkan kegembiraan atas keberhasilan partainya.
Kandidat utama AfD, Markus Frohnmaier (tengah), merayakan keberhasilan terbesar partainya sejauh ini di sebuah negara bagian di Jerman BaratFoto: Jana Rodenbusch/REUTERS

“Kami adalah pemenang malam ini,” kata Tino Chrupalla, ketua bersama partai populis sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD), dalam hampir setiap wawancara yang ia berikan pada malam pemilu. Markus Frohnmaier, kandidat utama AfD di Baden-Württemberg, menyampaikan hal yang sama: “Saya sangat, sangat puas!”

Dengan 18,8 persen suara, AfD mencatat hasil pemilu terbaiknya sejauh ini di sebuah negara bagian Jerman bagian barat. Keberhasilan ini cukup menonjol, meskipun di Jerman timur partai tersebut sering memperoleh hampir dua kali lipat dukungan. Berbeda dengan wilayah timur, Baden-Württemberg dikenal sebagai kawasan dengan ekonomi yang sangat kuat dan banyak pekerjaan bergaji tinggi.

Salah satu wilayah terkaya di dunia

Sejumlah perusahaan multinasional besar Jerman seperti Mercedes-Benz, Porsche, SAP, dan Bosch berkantor pusat di Baden-Württemberg. Negara bagian ini juga dikenal memiliki kelas menengah yang kuat, yang menjadi sumber penerimaan pajak tinggi bagi banyak kota kecil. Dalam konteks tersebut, keberhasilan AfD di wilayah ini menunjukkan bahwa partai tersebut kini semakin mengakar di berbagai lapisan masyarakat Jerman.

Partai ini, yang oleh badan intelijen domestik Jerman diklasifikasikan sebagai organisasi berhaluan ekstrem kanan yang dicurigai, berhasil menarik dukungan melalui sentimen antiimigrasi dan janji deportasi massal. Di negara bagian yang menjadi pusat industri otomotif ini, AfD juga menuduh partai-partai lain melakukan “pengkhianatan” karena dianggap terlalu fokus pada pengembangan mesin alternatif dalam kebijakan transportasi mereka. AfD sendiri menegaskan akan membela penggunaan mesin berbahan bakar bensin dan kerap menimbulkan keraguan terhadap klaim bahwa perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia.

AfD juga sangat berhasil menarik dukungan dari kalangan pekerja. Menurut analisis lembaga riset opini Infratest dimap, sekitar 37 persen pekerja memilih AfD. Perubahan struktural dalam ekonomi serta kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan tampaknya membuat banyak pekerja melihat AfD sebagai pilihan politik yang masuk akal.

“Para pendukung AfD memiliki cara pandang yang berbeda terhadap dunia: jauh lebih pesimistis,” jelas Frank Brettschneider, ilmuwan komunikasi dari Universitas Hohenheim, dalam siaran televisi ARD pada malam pemilu. “Mereka menggambarkan situasi saat ini jauh lebih negatif dibandingkan pemilihan lainnya, dan terutama sepakat pada satu pernyataan: bahwa dulu semuanya lebih baik.”

AfD: kemenangan di kalangan pemilih yang sebelumnya tidak memilih

Secara keseluruhan, AfD terutama diuntungkan oleh tingginya partisipasi pemilih. Menurut lembaga survei Forschungsgruppe Wahlen, partai ini memperoleh sekitar 200.000 suara tambahan dari kelompok yang sebelumnya tidak memilih.

Namun demikian, para politisi puncak AfD tidak tampak terlalu bahagia atau puas pada malam pemilu. Ada beberapa alasan yang menjelaskan hal ini.

Salah satunya adalah AfD gagal mencapai target pemilunya, yaitu 25 persen suara atau lebih. Bagi AfD, sekadar memperoleh hasil kuat dalam pemilu tidak cukup. Partai ini ingin memerintah Jerman. Bukan sekadar ikut dalam pemerintahan, tetapi bahkan mengambil alih jabatan kanselir, khususnya melalui pemimpin partai Alice Weidel.

Tahun lalu, posisi Weidel sebagai ketua bersama AfD tampak tidak tertandingi. Dengan retorika yang keras dan pidato yang emosional, ia mampu membangkitkan semangat dalam kampanye pemilu. Kampanye radikalnya, yang menuntut deportasi massal, menentang Islam, dan menyerang lawan-lawan politik, sesuai dengan keinginan basis partai.

Namun kini Weidel tampaknya menghadapi kesulitan. Sejumlah masalah dan skandal tengah berkembang di dalam partai, dan hal itu juga berdampak pada kepemimpinan partai. Kritik paling tajam justru datang dari dalam AfD sendiri: beberapa kelompok berpengaruh menuduh para pemimpin partai menunjukkan kepemimpinan yang lemah.

Skandal nepotisme partai sayap kanan Jerman AFD

02:16

This browser does not support the video element.

Tuduhan nepotisme mengguncang AfD

Kegelisahan dalam partai juga dipicu oleh tuduhan nepotisme. Pada Februari lalu terungkap bahwa beberapa anggota parlemen AfD mempekerjakan teman dan anggota keluarga di kantor mereka di Bundestag maupun di parlemen negara bagian.

Karena anggota keluarga tersebut dipekerjakan di kantor anggota AfD lain, praktik ini secara hukum tidak melanggar aturan. Namun pengungkapan ini tidak diterima dengan baik oleh basis partai, karena AfD selama ini berusaha membedakan diri dari partai-partai lain dalam lanskap politik Jerman. Sebagai partai yang relatif baru, AfD juga diuntungkan oleh fakta bahwa mereka belum pernah memegang tanggung jawab pemerintahan dan karenanya belum menimbulkan banyak krisis politik.

Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, sejumlah politisi AfD justru menuduh para rival politik mereka melakukan nepotisme. Mereka kerap mengecam apa yang mereka sebut sebagai “kartel partai” yang memanfaatkan negara. Fakta bahwa kini politisi AfD sendiri memberikan posisi yang menguntungkan kepada anggota keluarga mereka menjadi pukulan berat bagi citra partai.

Sejauh ini Weidel belum mengkritik praktik tersebut. Berbeda dengan sikapnya yang biasanya tegas dan tajam, ia justru tampak cukup defensif dalam menghadapi isu ini.

Kenapa Banyak Imigran Ingin Tinggalkan Jerman?

01:52

This browser does not support the video element.

Lingkungan politik yang radikal

Konflik ini juga dipicu oleh lingkungan politik yang sangat penting bagi AfD. Partai ini tidak hanya ingin sukses secara elektoral, tetapi juga ingin mendorong perubahan ideologis besar di Jerman. AfD tidak bermimpi hanya memperoleh kursi di parlemen, tetapi membayangkan sebuah Jerman tanpa migran dan tanpa Islam, sebuah masyarakat putih yang homogen. Dalam pandangan para pendukungnya, ancaman terbesar bagi perjuangan ini justru adalah godaan uang dari jabatan parlemen yang bergaji tinggi.

Pada malam pemilu, kritik dari para pendukung partai sudah terdengar keras, bahkan di media yang dekat dengan AfD dan meskipun partai tersebut meraih keberhasilan elektoral. “Sekarang kita punya para aparat partai!” kata mantan anggota Bundestag Armin-Paul Hampel dalam siaran langsung di kanal daring sayap kanan Compact TV.

Bagi AfD, keberhasilan pemilu di Baden-Württemberg ini tetap merupakan keberhasilan dengan sejumlah catatan, karena hasil tersebut juga bertentangan dengan salah satu pesan utama kampanye partai. AfD sebelumnya mengeklaim bahwa warga Jerman telah menolak kebijakan Partai Hijau.

Namun kenyataannya, Partai Hijau memperoleh suara lebih banyak daripada partai lain dan akan tetap memegang jabatan kepala pemerintahan negara bagian. Sementara itu, AfD akan tetap berada di oposisi.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait