Taliban merebut kekuasaan di Afganistan pada 2021. Empat tahun kemudian, krisis kemanusiaan masih berkecamuk. Sementara jutaan pengungsi dari negara jiran dipulangkan paksa ke tanah air.
Seorang pedagang di Kabul menjual stiker bergambar pemimpin spiritual Taliban Hibatullah AkhundzadaFoto: Mohd Rasfan/AFP/Getty Images
Iklan
Agustus 2021, ketika kota Kabul jatuh ke tangan Taliban, banyak yang mengira kekuasaan para jihadis hanya akan berlangsung sementara. Kebanyakan pengamat percaya, negeri di kaki Pegunungan Hindu Kush itu akan terisolasi di bawah kendali kelompok radikal Islam.
Namun empat tahun berselang, keyakinan itu perlahan runtuh.
Awal Juli lalu, Rusia menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui pemerintahan Taliban. "Dengan begitu, Rusia mengambil alih peran yang sebelumnya dimainkan Amerika Serikat di Afganistan—peran yang ditinggalkan sukarela saat menarik pasukan empat tahun lalu,” kata Sardar Rahimi, peneliti hubungan internasional di Universitas Inalco, Paris, yang mengkhususkan diri pada bahasa dan budaya Timur.
Cina pun berusaha membina hubungan ekonomi dan diplomatik erat dengan pemerintahan Taliban, meski belum memberi pengakuan resmi. Namun pada Januari 2024, Presiden Xi Jinping sudah menerima duta besar Taliban di Beijing dengan protokol kenegaraan lengkap di Aula Besar Rakyat.
Bagi pemerintahan komunis di Beijing, Afganistan penting untuk mendorong proyek infrastruktur global, Inisiatif Sabuk dan Jalan. Hak eksploitasi dan ekspor bahan tambang berharga dari Afganistan juga diharap bisa menopang ledakan produksi industri di Negeri Tirai Bambu.
Adegan Rusuh di Kabul saat Warga Melarikan Diri dari Taliban
Kerusuhan terjadi saat ribuan warga Afganistan berusaha mati-matian untuk meninggalkan negaranya melarikan diri dari Taliban melalui Bandara Kabul.
Foto: COURTESY OF DEFENSE ONE/via REUTERS
Kerusuhan di Bandara Kabul
Milisi Taliban berjaga di bagian luar Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul (foto dari 16/08). Ribuan orang memadati bandara itu dalam upaya melarikan diri dari negara tersebut, setelah Taliban mengambil alih kekuasaan dengan sangat cepat.
Foto: Rahmat Gul/AP/picture alliance
Pemandangan dari Satelit
Foto satelit dari Planet Labs Inc., menunjukan lautan manusia di landasan Bandara Internasional Kabul 16 Agustus 2021. Ribuan warga memadati bandara ibu kota Afganistan tersebut, memenuhi landasan pacu dengan harapan amat tipis untuk bisa naik ke dalam pesawat terbang dari negara manapun dan hengkang dari negaranya.
Foto: Planet Labs Inc./AP/picture alliance
Tentara AS Berjaga dan Siaga
Tentara AS yang menjaga bagian dalam bandara Kabul berulang kali melepaskan tembakan peringatan dalam upaya menahan kerumunan warga. Diperkirakan 3.500 tentara AS saat ini sudah berada di Afganistan, dan pasukan tambahan sedang dalam perjalanan.
Foto: Shekib Rahmani/AP/picture alliance
Militer Perancis memulai Evakuasi
Warga Prancis dan Afganistan berbaris untuk menaiki pesawat angkut militer Prancis di Bandara Kabul pada 17 Agustus 2021. Pesawat militer Prancis pertama sudah tiba di Abu Dhabi di malam hari, lapor Kementerian Pertahanan Prancis.
Foto: AFP
Putus Asa Mencoba Melarikan Diri
Foto dramatis dari ribuan warga Afganistan yang mengerumuni dan mencoba menaiki pesawat angkut militer AS saat meluncur di landasan pacu Senin, 16 Agustus, dengan cepat beredar ke seluruh dunia. Foto menunjukkan, beberapa warga bahkan nekat mencegat dan menghalangi pesawat saat hendak lepas landas.
Foto: ASSOCIATED PRESS/picture alliance
Situasi Panik
Helikopter Apache milik AS telah mencoba membuka jalan dan membersihkan landasan dari kerumunan penduduk sipil dengan terbang rendah. Namun, masih banyak warga yang sudah putus asa, nekat bergantungan di sisi pesawat transport C-17 Angkatan Udara AS, beberapa diantaranya dilaporkan tewas karena jatuh dari pesawat tersebut.
Foto: ASSOCIATED PRESS/picture alliance
Pengungsi Memenuhi Pesawat C-17 Angkatan Udara AS
Pesawat angkut C-17 Globemaster III Angkatan Udara AS ini lepas landas dengan membawa sekitar 640 warga Afghanistan dan terbang menuju Qatar dari Kabul pada 15 Agustus 2021. Banyak orang berhasil naik ke pesawat melalui pintu yang setengah terbuka. (MN/as)
Foto: COURTESY OF DEFENSE ONE/via REUTERS
7 foto1 | 7
Deportasi dari Jerman
Meski menolak Taliban secara politik, Jerman tetap membuka kanal komunikasi lewat Qatar. Menurut Rahimi, demi bisa mendeportasi pengungsi ke Afganistan, negara-negara Barat mau tak mau harus berurusan langsung dengan penguasa di Kabul, hingga bahkan memberi konsesi tertentu.
Iklan
Sejak Taliban berkuasa, Jerman telah mengirimkan dua penerbangan deportasi ke Afganistan. Total sebanyak 109 warga negara Afganistan dipulangkan, 56 di antaranya terpidana kejahatan.
Kelompok HAM seperti Pro Asyl mengecam aksi deportasi karena dianggap "pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.” Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia melarang pemulangan ke negara yang berpotensi melakukan perlakuan tidak manusiawi.
Agar deportasi bisa dilakukan, pemerintah Taliban harus lebih dulu mengesahkan kewarganegaraan, biasanya lewat penerbitan paspor atau dokumen pengganti. Setelah itu, pengungsi baru bisa diterbangkan ke Kabul. Proses ini memerlukan negosiasi intensif.
Negara Barat, kata Rahimi, harus mengakui kenyataan bahwa Taliban kini mengontrol seluruh aspek kehidupan publik di Afganistan. Inilah landasan hubungan negara-negara lain dengan rezim di Kabul. Taliban sendiri irit bicara soal pertemuan dengan negara-negara seperti Jerman. Bagi mereka, fakta bahwa Barat meminta bicara sudah merupakan kemenangan besar.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul membenarkan adanya kontak teknis dengan Taliban. "Koneksi ini murni soal praktis, bukan politik apalagi hukum,” ujarnya kepada RedaktionsNetzwerk Deutschland. "Kami harus berbicara dengan banyak pemerintahan atau rezim yang pandangan dan tindakannya tidak kami setujui. Namun, terkadang kepentingan kami mengharuskannya. Mengingkari itu berarti menolak realitas.”
Peternak Lebah Afganistan Menyamar agar Menghindari Taliban
Pakistan bahkan menghentikan perpanjangan kartu registrasi pengungsi yang dikeluarkan PBB. Mulai September, sebanyak 1,3 juta orang akan terancam dipulangkan meski memegang izin tinggal sah.
Gelombang kepulangan pengungsi menjadi tantangan besar bagi Taliban. Sebagian besar pengungsi tidak punya rumah, pekerjaan, atau sumber penghidupan. Ironisnya, krisis kemanusiaan ini justru memperkuat kekuasaan para talib. Deportasi dari Eropa hanya mungkin jika Kabul mau bekerja sama.
Namun, laporan lokal menyebut para deportan jarang bertahan lama di penjara. Taliban bungkam soal nasib mereka. Sebagian bahkan kembali menempuh perjalanan ke Eropa setelah sempat ditahan sebentar.
Larangan Kuliah oleh Taliban, Hak Perempuan Afganistan Dirampas
Sejak merebut kekuasaan pada pertengahan 2021, Taliban semakin membatasi hak-hak perempuan dan anak perempuan Afganistan. Kini, mereka membatasi akses perempuan ke pendidikan tinggi hingga memicu kemarahan internasional.
Foto: AFP
Perpisahan untuk selamanya?
Perempuan tidak akan diizinkan untuk kembali berkuliah. Dalam pernyataan pemerintah pada hari Selasa (20/12), Taliban menginstruksikan semua universitas di Afganistan, baik swasta maupun negeri, untuk melarang perempuan mengenyam pendidikan. Sekarang ini semua mahasiswa perempuan dilarang masuk ke universitas
Foto: AFP
Perempuan disingkirkan
Pasukan Taliban menjaga pintu masuk sebuah universitas di Kabul, sehari setelah larangan untuk perempuan berkuliah diberlakukan. Para mahasiswi diberitahu bahwa mereka tidak bisa masuk kampus. Larangan diberlakukan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Namun, sudah ada aksi protes di universitas, di mana siswa laki-laki batal mengikuti ujian dan beberapa dosen laki-laki juga mogok mengajar.
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Pendidikan tinggi hanya untuk laki-laki
Sejumlah pembatasan telah diberlakukan sebelum ini. Setelah Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021, universitas harus memisahkan pintu masuk dan ruang kuliah berdasarkan jenis kelamin. Mahasiswi hanya boleh diajar oleh dosen perempuan atau oleh pria tua. Gambar ini menunjukkan ada batas pemisah untuk mahasiswi di Universitas Kandahar.
Foto: AFP/Getty Images
Angkatan terakhir
Mahasiswi Universitas Benawa di Kandahar, masih bisa ikut wisuda Maret lalu dengan gelar di bidang teknik dan ilmu komputer. Pembatasan baru atas hak-hak perempuan di Afganistan mengundang kecaman keras dari dunia internasional. Human Rights Watch menyebut larangan kuliah bagi perempuan sebagai "keputusan yang memalukan", sementara PBB menyatakan keputusan itu melanggar hak asasi perempuan.
Foto: JAVED TANVEER/AFP
Dampaknya menghancurkan masa depan negara
Ribuan perempuan dan anak perempuan mengikuti ujian masuk universitas pada Oktober lalu, salah satunya di Universitas Kabul. Banyak yang ingin belajar kedokteran atau menjadi guru. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, larangan Taliban "tidak hanya melanggar persamaan hak perempuan dan anak perempuan, tetapi akan berdampak buruk pada masa depan negara."
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Tutup peluang pendidikan untuk perempuan
Larangan untuk perempuan berkuliah adalah satu lagi pembatasan pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan. Selama lebih dari setahun, gadis remaja hanya bisa bersekolah sampai kelas tujuh di sebagian besar provinsi. Gadis-gadis yang berjalan ke sekolah di Afganistan timur ini beruntung karena beberapa provinsi yang jauh dari pusat kekuatan Taliban mengabaikan larangan tersebut.
Foto: AFP
Negeri tanpa kehadiran perempuan
Perempuan dan anak perempuan sekarang disingkirkan dari sebagian besar aspek kehidupan publik Afganistan. Mereka tidak diizinkan mengunjungi gym atau taman bermain di Kabul selama berbulan-bulan. Taliban membenarkan larangan tersebut dengan berkilah, peraturan tentang pemisahan jenis kelamin tidak dipatuhi, dan banyak perempuan tidak mengenakan jilbab seperti yang diwajibkan oleh mereka.
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Realitas distopia
Sejumlah perempuan mengumpulkan bunga safron di Herat. Ini adalah pekerjaan yang boleh mereka lakukan, tidak seperti kebanyakan profesi lainnya. Sejak berkuasa, Taliban telah memberlakukan banyak peraturan yang sangat membatasi kehidupan perempuan dan anak perempuan. Misalnya, mereka dilarang bepergian tanpa pendamping laki-laki dan harus mengenakan hijab di luar rumah setiap saat.
Foto: MOHSEN KARIMI/AFP
Sebuah aib yang memalukan
Banyak perempuan Afganistan menolak penghapusan hak-hak mereka dan berdemonstrasi di Kabul pada November lalu. Sebuah plakat bertuliskan "Kondisi Mengerikan Perempuan Afganistan Merupakan Noda Aib bagi Hati Nurani Dunia." Siapapun yang ikut protes perlu keberanian besar. Demonstran menghadapi risiko represi kekerasan dan pemenjaraan. Para aktivis hak-hak perempuan juga dianiaya di Afganistan.
Menurut Shukria Barakzai, mantan diplomat Afganistan, hak-hak perempuan dijadikan alat tawar politik. "Taliban menekan perempuan dengan pembatasan baru untuk mengukuhkan kekuasaan,” katanya.
Perempuan dilarang total tampil di ruang publik. Sebanyak 1,4 juta anak perempuan usia di atas 12 tahun dilarang sekolah. SMA dan universitas juga tertutup bagi mereka. Laporan organisasi HAM menunjukkan kekerasan berbasis gender marak di seluruh negeri.
Jurnalis dan oposisi menghadapi represi keras. Reporter without Borders mencatat, pada 2024 sedikitnya 12 media ditutup. "Taliban mengancam, menangkap, dan mengusir jurnalis, menyensor berita, serta menggerebek kantor media,” tulis mereka. Afganistan kini berada di peringkat 175 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers.
Aktivis Afganistan Memperjuangkan Hak-hak Perempuan
04:03
This browser does not support the video element.
Bencana kemanusiaan
Situasi kemanusiaan di Afganistan tetap memprihatinkan. Komisi Eropa mencatat 22,9 juta orang—sparuh dari populasi di negara itu—bergantung pada bantuan internasional. WFP menyebut satu dari empat warga mengalami krisis pangan, setara 10 juta orang, sementara sepertiga anak-anak mengalami kekurangan gizi.
Krisis ini kian parah ketika AS menutup USAID pada Juli, dan menghentikan bantuan kemanusiaan. Tiga juta orang kehilangan layanan kesehatan, 420 klinik tutup.
Sejak 2021, Jerman mengucurkan 551 juta euro bantuan pembangunan, disalurkan lewat Bank Dunia, badan-badan PBB, dan LSM—tanpa melibatkan Taliban. Namun, pemerintah baru menghentikan program Bundesaufnahmeprogramm, yakni aksi untuk membawa warga Afganistan yang pernah bekerja untuk misi Jerman sebelum 2021 ke Jerman.
Sekitar 2.400 mantan pekerja lokal sudah mendapat persetujuan masuk, tapi tak kunjung memperoleh visa. Mereka kini terjebak di Iran atau Pakistan, terancam deportasi massal.
Awal Juli, Pengadilan Administrasi Berlin memerintahkan pemberian visa darurat bagi seorang perempuan Afganistan dan keluarganya yang sudah lebih dari setahun menunggu di Pakistan, mempertimbangkan ancaman deportasi. Putusan itu ditentang pemerintah Jerman saat ini, yang mengajukan banding.
Artikel ini disusun bersama Shabnam Alokozay dan Waheed Ahmady dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha Editor: Agus Setiawan