1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanAfrika

Afrika Rencanakan Revolusi Vaksin COVID-19

Jan Philipp Wilhelm
6 Juli 2021

Sangat sedikit vaksin yang disuntikkan ke orang Afrika ketika negara-negara di benua itu berjuang melawan lonjakan infeksi COVID-19. Beberapa negara sekarang ingin mulai memproduksi vaksin sendiri, berhasilkah mereka?

Sejumlah negara Afrika berharap mereka dapat memproduksi vaksin COVID-19 mereka sendiri
Sejumlah negara Afrika berharap mereka dapat memproduksi vaksin COVID-19 mereka sendiriFoto: picture-alliance/AP/S. Mednick

Afrika kini tengah dihantam gelombang ketiga infeksi virus corona. Para ahli pun khawatir ini akan jadi gelombang terparah. Kondisi di benua itu tidak bisa lebih buruk: Varian delta SARS-CoV-2 yang lebih menular, yang telah mendatangkan malapetaka di India, sekarang menyebar di Afrika. Keadaan ini semakin diperparah dengan sebagian besar populasi yang belum divaksinasi.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika lebih dari 1% orang di seluruh benua telah sepenuhnya divaksinasi dan sekitar 2,5% telah menerima setidaknya dosis pertama. Sebagai perbandingan, di seluruh UE, setidaknya 50% orang kini telah menerima dosis pertama, menurut laman Our World in Data, dan satu dari tiga orang sudah memiliki perlindungan vaksinasi penuh.

Peringatan untuk Afrika

Kesenjangan dalam pasokan vaksin COVID-19 ini menyebabkan kemarahan dan ketidakpahaman di antara banyak politisi Afrika. "Keegoisan di dunia ini buruk," kata Presiden Uganda Yoweri Museveni pekan lalu di KTT Kesehatan Dunia di Kampala. Namun, dia juga menggunakan pidato pembukaannya untuk memperingatkan rekan-rekannya di Afrika: Situasi saat ini adalah peringatan, kata Museveni. "Sangat disayangkan bahwa benua Afrika sedang tertidur dan menunggu untuk diselamatkan oleh orang lain."

Negara-negara Afrika sejauh ini mengandalkan hampir seluruhnya pada impor vaksin dari Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Ini tidak hanya dalam memerangi COVID-19, tetapi juga melawan penyakit seperti campak, tetanus, dan TBC. Hanya sekitar 1% vaksin yang diberikan di seluruh benua yang diproduksi di Afrika dan fasilitas produksi aktif saat ini hanya ada di Tunisia, Aljazair, Afrika Selatan, dan Senegal.

Infografik jumlah orang yang divaksin COVID-19 di Afrika

Itulah yang saat ini tengah diubah. Beberapa negara Afrika saat ini bekerja untuk mempromosikan produksi vaksin lokal. Uni Afrika ingin memproduksi 60% vaksin yang dibutuhkan di Afrika pada tahun 2040 dan sesegera mungkin vaksin lokal juga akan mengurangi pandemi COVID-19.

Kemudian pertanyaan muncul. Mengapa Afrika baru melakukannya sekarang? Apa saja kesulitan dalam memproduksi vaksin? Dan seberapa cepat rencana itu bisa diimplementasikan?

Mengapa hampir tidak ada vaksin yang diproduksi di Afrika sejauh ini?

Pada dasarnya, kendala teknis untuk memproduksi vaksin sangat tinggi. Tidak hanya pembangunan fasilitas produksi yang mahal, tetapi pelatihan dan pendidikan lebih lanjut dari personel yang berkualifikasi memerlukan investasi bernilai besar. Bahkan di negara-negara industri seperti AS atau Jerman, pengembangan dan produksi vaksin  didukung dengan investasi pemerintah yang sangat besar.

Namun, banyak pemerintah Afrika tidak mampu menginvestasikan anggarannya besar-besaran. Oleh karena itu, bukan kebetulan bahwa beberapa fasilitas produksi yang ada di Afrika, seperti Institut Pasteur di Senegal, Tunisia, dan Aljazair, sebagian besar dibiayai oleh kerjasama pembangunan. Jadi, misalnya, proyek-proyek yang kurang didanai dengan baik di Nigeria atau Etiopia belum berhasil membawa produksi vaksin ke pasaran, meskipun ada upaya bertahun-tahun.

Apa yang berubah akibat pandemi?

Sejak awal pandemi, tetapi terutama sejak dimulainya kampanye vaksinasi di negara-negara maju, pembangunan fasilitas produksi vaksin telah menjadi agenda utama di banyak negara Afrika.

Sejumlah proyek sudah dalam proses, mulai dari pembangunan oleh masing-masing perusahaan atau negara hingga membangun apa yang disebut pusat vaksin regional yang melibatkan beberapa negara. Inisiatif ini dibiayai dan didukung oleh UE, Bank Dunia, dan donor internasional lainnya. Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn juga menjanjikan bantuan hingga €50 juta (Rp850 miliar) dalam kunjungannya ke Afrika Selatan pada bulan Mei lalu.

Menkes Jerman Jens Spahn menjanjikan bantuan jutaan euro untuk AfrikaFoto: Christoph Soeder/dpa/picture alliance

Seperti apa sebenarnya proyek-proyek itu, dan seberapa cepat mereka dapat diimplementasikan?

Sebagian besar proyek yang diumumkan ditujukan untuk produksi regional atau pengisian vaksin yang sudah berlisensi di fasilitas produksi yang ada. Karena, selain dari negosiasi perizinan, hanya jalur produksi yang harus disesuaikan dan bahan baku yang disediakan, proyek-proyek ini dapat direalisasikan dengan relatif cepat.

Aspen Pharmacare dari Afrika Selatan adalah yang tercepat untuk merespons dan sejauh ini merupakan satu-satunya fasilitas di Afrika yang memproduksi vaksin COVID-19 atas nama perusahaan AS Johnson & Johnson. Perusahaan Mesir VACSERA berencana untuk mulai memproduksi vaksin Sinovac Cina dalam beberapa minggu mendatang. Perjanjian kerjasama serupa antara perusahaan farmasi Afrika dan produsen vaksin internasional juga ada di beberapa negara lain, seperti Senegal dan Aljazair.

Dibutuhkan sekitar 18 bulan untuk menyiapkan lini produksi pengisian dan penyelesaian, kata Simon Agwale, pengusaha biotek dan Direktur Aliansi Produsen Vaksin Afrika (AVMI). Dan ada masalah lain, katanya: "Karena pandemi, ada daftar tunggu yang panjang sekarang untuk produsen peralatan semacam itu." Akibatnya, Agwale tidak percaya bahwa jadwal ambisius dari beberapa pemerintah yang telah mengumumkan vaksin yang diproduksi secara lokal untuk tahun ini dapat dipenuhi.

Pembiayaan proyek semacam itu juga lebih rumit dan panjang. "Semua orang berbicara tentang membangun pabrik untuk produksi vaksin COVID-19 sekarang. Tapi apa yang terjadi setelah COVID?" kata Agwale. Menurutnya, perlu ada rencana konkret bagaimana, misalnya, fasilitas produksi mRNA yang dibutuhkan untuk vaksin COVID-19 milik BioNTech atau Moderna nantinya bisa digunakan untuk vaksin lain. Pusat transfer teknologi untuk vaksin mRNA saat ini sedang dibangun di Afrika Selatan dan diperkirakan belum akan beroperasi hingga musim panas 2022.

Banyak tantangan

Tantangan untuk membangun infrastruktur vaksin khusus di Afrika sangat besar. Selain kesulitan yang biasa terjadi seperti pembiayaan dan kurangnya keahlian teknis, masalah seputar perlindungan paten juga masih belum terselesaikan. Selain itu dipertanyakan apakah sebagian besar proyek yang saat ini sedang dilakukan di Afrika benar-benar akan membuat benua itu tidak terlalu bergantung pada perusahaan farmasi dari negara-negara maju.

Menurut Direktur AVMI Simon Agwale, sebagian besar proyek adalah pengisian pabrik yang mengandalkan pasokan bahan baku dari produsen vaksin. Meskipun hal ini pada prinsipnya disambut baik, dia berkata: "Jika tidak ada investasi dalam produksi zat yang sebenarnya, kita akan berakhir dengan pabrik pengisi yang tak terhitung jumlahnya, tetapi tidak ada produk yang dapat diisi."

(Ed: rap/ha)