Para penyelidik menyimpulkan Air Algerie yang terbang dengan 116 orang hancur berkeping saat menyentuh tanah, demikian pernyataan pejabat Prancis, membantah kemungkinan pesawat itu menjadi korban serangan.
Foto: Reuters
Iklan
“Pesawat itu hancur pada saat jatuh (ke tanah),” kata Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve. 51 penumpang yang ada di dalam pesawat adalah warga Prancis yang hendak pulang ke negaranya setelah melakukan perjalanan di Afrika.
“Kami pikir pesawat itu jatuh karena alasan cuaca, meski tidak ada teori yang bisa dikecualikan saat ini,” tambah dia.
Secara terpisah, Menteri Transportasi Prancis Minister Frederic Cuvillier menyatakan bau menyengat bahan bakar pesawat di lokasi kejadian serta fakta bahwa puing-puing itu tersebar di daerah yang relatif kecil juga menambah keyakinan bahwa penyebab jatuh adalah cuaca, masalah teknis atau gabungan keduanya.
Lalu lintas udara tergolong paling aman dibanding lalu lintas darat atau laut. Tapi kecelakaan pesawat terbang pasti jadi berita besar.
Foto: imago/Rüdiger Wölk
Air Algerie
24 Juli 2014, pesawat Air Algerie yang membawa 110 penumpang jatuh di Mali. Insiden pesawat di ini, menambah daftar tragedi udara tahun 2014, setelah hilangnya Malaysia Airlines MH370, jatuhnya MH17 akibat tembakan rudal, dan kecelakaan ATR-72 yang dioperasikan TransAsia Airways Taiwan.
Foto: Reuters
MH17 Ditembak
17 Juli 2014, pesawat penumpang Malaysia Airlines MH17, rute Amsterdam- Kuala Lumpur jatuh di Ukraina terkena tembakan rudal darat ke udara. Seluruh dan kru --yang berjumlah hampir hampir 300 orang-- meninggal dunia.
Foto: AFP/Getty Images
Malaysia Airlines MH370
8 Maret 2014, Boeing 777-200 milik Malaysia Airlines terbang dari Kuala Lumpur ke Beijing ketika tiba-tiba hilang dari radar di ketinggian 35.000 kaki. 239 penumpang dan awak nasibnya belum diketahui. Tim SAR mencari jejak pecahan pesawat di sekitar perairan Vietnam.
Foto: picture-alliance/dpa
Bhoja Air
20 April 2012, Boeing 737 milik Bhoja Air jatuh di dekat ibukota Pakistan, Islamabad, ketika berupaya mendarat saat badai. 127 penumpang dan awak pesawat tewas. Investigasi menunjukkan penyebab kecelakaan adalah pilot yang mengabaikan peringatan ko-pilot bahwa pesawat terbang terlalu rendah.
Foto: Reuters
Iran Air
9 Januari 2011, Boeing 727 milik Iran Air pecah berkeping-keping akibat terhempas di barat laut Iran. 77 penumpang dan awak tewas. Hasil investigasi penyebab kecelakaan hingga kini tidak diumumkan kepada publik.
Foto: picture-alliance/dpa
Air India
22 Mei 2010, Air India Express rute Dubai-Mangalore keluar landas pacu saat mendarat dan jatuh ke jurang. 152 penumpang dan awak tewas. Investigator menuding pilot yang bersalah. Keluarga pilot balik menuding manajemen maskapai penerbangan, menugasi pilot yang sudah kelelahan.
Foto: AP
Afriqyah Airways
12 Mei 2010, pesawat milik Afriqiyah Airways yang sedang terbang menuju Tripoli dari Johannesburg, jatuh di kawasan gurun pasir sekitar 2 km dari bandara, menewaskan seluruh 103 penumpang dan awak. Penyebab kecelakaan: pilot yang lelah dan kesalahan teknis.
Foto: AP
Pesawat Kepresidenan Polandia
10 April 2010, pesawat terbang yang ditumpangi Presiden Polandia Lech Kaczynski jatuh ketika berusaha mendarat saat cuaca buruk di kota Smolensk barat Rusia. Semua 96 penumpang termasuk presiden Polandia tewas. Penyebab kecelakaan: pilot dipaksa oleh pejabat tinggi di dalam pesawat untuk mendarat, walau cuaca buruk.
Foto: AP
Air France
1 Juni 2009, pesawat Air France tipe Airbus A330 terjebak badai saat penerbangan dari Rio de Janeiro ke Paris dan jatuh ke Samudra Atlantik menewaskan seluruh 228 penumpang dan awak. Penyebab kecelakaan: serangkaian kesalahan pilot dan terlambat bereaksi mengatasi masalah teknis.
Foto: picture alliance / dpa
Yemen Airways
30 Juni 2009, pesawat Airbus 310 milik Yemenia atau Yemen Airways yang sedang terbang menuju pulau Comoro jatuh ke Samudera Hindia, menewaskan 153 penumpang dan awak. Hasil investigasi penyebab kecelakaan: kesalahan pilot memasukan data pengendali hingga memicu masalah pada aerodinamik pesawat, serta diabaikannya peringatan bahaya oleh awak pesawat.
Foto: AP
10 foto1 | 10
Pesawat itu Al Algerie jatuh hari Kamis di tengah hujan badai.
Jenderal Gilbert Diendere, seorang pembantu dekat Presiden Burkina Faso Blaise Compaore yang memimpin komite krisis terkait kasus ini mengatakan penduduk menemukan reruntuhan pesawat dan mayat, sekitar 50 kilometer dari perbatasan Burkina Faso di dekat desa Boulikessi, Mali.
“Mereka menemukan mayat manusia dan reruntuhan pesawat yang terbakar total dan tersebar,” kata dia.
Sebelum kehilangan kontak, pilot sempat mengirimkan pesan terakhir meminta ijin menara pengawas udara Niger untuk mengubah rute karena hujan lebat, demikian pernyataan Menteri Transportasi Burkina Faso Jean Bertin Ouedraogo.
Jatuhnya Air Algerie ini adalah rangkaian tragedi ketiga dalam rentang waktu sepekan di dunia pernerbangan.
Rabu malam lalu sebuah pesawat Taiwan jatuh akibat angin topan di sebuah pulau kecil yang menewaskan 48 orang. ATR-72 yang dioperasikan TransAsia Airways Taiwan membawa 58 penumpang dan kru ketika jatuh dan menabrak sebuah rumah di pulau Penghu, Selat Taiwan antara Taiwan dengan Tiongkok Rabu malam.
Jumat pekan lalu, Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH17 jatuh dan menewaskan seluruh 298 penumpang dan kru yang ada di dalamnya. Diduga kuat pesawat itu ditembak oleh rudal darat udara, oleh kelompok separatis Ukraina yang pro-Rusia. Hingga kini penyelidikan kasus ini masih berlanjut.