1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Akademi Yahudi Dibuka di Frankfurt, Jadi Wadah Pendidikan dan Dialog

6 November 2026

Sebuah akademi Yahudi resmi dibuka di Frankfurt. Proyek ini digagas oleh Dewan Pusat Yahudi, payung utama komunitas Yahudi di Jerman, dengan tujuan memerangi antisemitisme serta mendorong dialog dan pendidikan.

Tampak luar bangunan akademi Yahudi di Frankfurt am Main 2026
Akademi Yahudi baru milik Dewan Pusat Yahudi di Jerman memadukan tradisi dan modernitasFoto: Michael Probst/REUTERS

Pemilihan lokasi akademi ini di Frankfurt, bukanlah keputusan tanpa alasan. Akademi tersebut merupakan yang pertama di Jerman. Selama ini, Frankfurt dikenal sebagai salah satu episentrum kehidupan intelektual Yahudi. Hingga kini, kota tersebut masih menjadi salah satu pusat kehidupan Yahudi terpenting di Jerman, bersama Berlin, München, dan Düsseldorf.

Berjarak kurang dari 10 menit berjalan kaki dari sinagoge terbesar di kota itu, gedung Akademi Yahudi juga berada dalam jarak pandang dari bangunan bersejarah Festival Hall di kawasan Frankfurt Trade Fair (Pameran Frankfurt). Di tempat itulah, pada 1938, kaum Nazi menggiring para pria Yahudi sebelum mendeportasi mereka ke kamp-kamp konsentrasi.

Frankfurt juga merupakan tempat berdirinya Dewan Pusat Yahudi di Jerman pada 1950, meskipun kini kantor pusat organisasi tersebut berada di Berlin. Selain itu, Frankfurt menjadi rumah bagi Dewan Kesejahteraan Pusat Yahudi di Jerman (Zentralwohlfahrtsstelle der Juden in Deutschland/ZWST) dan Museum Yahudi yang dibuka pada 1988.

Para pemikir Yahudi telah memainkan peran penting dalam sejarah intelektual dan akademis Frankfurt. Komunitas Yahudi di kota ini turut berkontribusi dalam pendirian Universitas Goethe pada 1914.

Warisan penting lainnya adalah Jewish Lehrhaus (rumah pembelajaran Yahudi). Didirikan pada 1920, lembaga ini dengan cepat menjadi pusat pendidikan yang berpengaruh dan hingga kini erat dikaitkan dengan filsuf Franz Rosenzweig (1886–1929). Namun, lembaga tersebut ditutup oleh rezim Nazi pada 1938. Akademi baru ini memandang dirinya sebagai penerus tradisi Lehrhaus yang dirintis Rosenzweig.

Kehidupan Yahudi di Jerman di Tengah Meningkatnya Ancaman

01:21

This browser does not support the video element.

Ruang untuk pendidikan dan dialog

Dalam upacara peresmian yang berlangsung pada Senin (04/11), Josef Schuster, Presiden Dewan Pusat Yahudi di Jerman, menegaskan pentingnya pendidikan dalam melawan kebencian.

"Kita harus melawan kebencian dengan pendidikan, pendidikan, dan lebih banyak lagi pendidikan," ujarnya.

Schuster menyebut pendirian lembaga ini sebagai sebuah "tonggak penting" yang mencerminkan "tekad komunitas Yahudi untuk menjadikan Jerman sebagai rumah mereka."

Namun, ia juga mengingatkan bahwa "kehidupan Yahudi di Jerman kinimenghadapi ancaman yang lebih besar dibandingkan sejak tragedi kemanusiaan berupa Shoah." (Ed: Shoah adalah istilah dalam bahasa Ibrani yang berarti malapetaka besar atau kehancuran. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada Holokaus, yaitu genosida terhadap sekitar enam juta orang Yahudi yang dilakukan oleh rezim Nazi Jerman dan para kolaboratornya selama Perang Dunia II.)

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier turut menekankan pentingnya menolak antisemitisme secara tegas dan tanpa kompromi. Menurutnya, antisemitisme juga harus diperangi melalui langkah-langkah politik.

Steinmeier mengatakan bahwa pembantaian enam juta orang Yahudi dalam Holokaus juga merupakan serangan terhadap dunia pembelajaran dan pengetahuan Yahudi. Ia secara khusus memberikan penghormatan kepada warisan pemikiran Rosenzweig.

"Tempat pengetahuan dan dialog ini merupakan sumber harapan, sesuatu yang menggugah sekaligus menghadirkan hal baru," ucapnya.

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier (kedua dari kanan) menghadiri upacara peresmian Akademi YahudiFoto: Kirill Kudryavtsev/AFP

Menjembatani tradisi dan modernitas, dunia akademis dan masyarakat umum

Akademi Yahudi memadukan karakter arsitektur sebuah vila Jerman berusia 110 tahun dari awal abad ke-20 dengan bangunan modern berlantai empat. Perpaduan ini menghadirkan pertemuan antara masa lalu dan masa kini, sejarah dan modernitas.

"Kami ingin menjadi tempat di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan dikaji secara seimbang," kata Sabena Donath, Direktur Akademi Yahudi, kepada DW. Donath bersama rekan direktur, Doron Kiesel, memandang akademi ini sebagai "jembatan antara dunia akademis dan masyarakat umum", sekaligus "rumah bagi para akademisi dan mereka yang gemar mengajukan pertanyaan."

Donath menjelaskan bahwa akademi ini akan berfokus pada berbagai topik seputar filsafat agama dan etika, serta perdebatan aktual mengenai kehidupan Yahudi masa kini.

Program-program yang diselenggarakan juga dirancang untuk mencerminkan beragam aspek kehidupan Yahudi dan berbagai aliran dalam agama Yahudi.

Kiesel mengatakan kepada DW, "Kami ingin menunjukkan bagaimana orang-orang Yahudi menjalani kehidupan mereka saat ini dan betapa beragamnya kehidupan Yahudi. Karena itu, sangat keliru jika kita berbicara tentang 'orang Yahudi' seolah-olah mereka adalah kelompok yang seragam, atau menganggap hanya ada satu cara berpikir Yahudi."

Menjelang peresmian akademi, Presiden Dewan Pusat Yahudi juga menyebut dialog antaragama sebagai salah satu tema utama lembaga tersebut.

Dalam wawancara dengan surat kabar Jerman Frankfurter Allgemeine, Schuster mengungkapkan harapannya agar akademi ini dapat menghadirkan berbagai isu dan perspektif Yahudi ke ruang publik, tidak hanya terbatas pada persoalan antisemitisme dan penganiayaan terhadap orang Yahudi. Meski demikian, kedua persoalan tersebut tetap akan menjadi bagian dari agenda akademi.

"Kita menghadapi persoalan di negara ini, yakni antisemitisme kerap tersembunyi di balik berbagai isu, tetapi terus muncul kembali. Terkadang terlihat jelas, terkadang hadir secara lebih terselubung," kata Kiesel.

Proyek akademi ini berawal dari inisiatif mantan Ketua Dewan Pusat Yahudi, Dieter Graumann, yang pada 2012 mendorong pembentukan sebuah departemen pendidikan. Pengembangan program dan kegiatannya kemudian turut dibentuk oleh para direktur lembaga yang kini resmi berdiri tersebut.

Doron Kiesel dan Sabena Donath menjabat sebagai direktur bersama lembaga baru tersebutFoto: Rafael Herlich

Biaya pembangunan membengkak akibat kebutuhan keamanan

Sebuah mezuzah, yakni kapsul kecil berisi ayat-ayat Taurat yang dipasang sebagai pengingat akan perintah-perintah Tuhan, terpasang di pintu masuk akademi. Selain itu, sistem dan langkah-langkah pengamanan menjadi bagian tak terpisahkan dari bangunan baru ini.

"Ini adalah kenyataan pahit bahwa lembaga-lembaga Yahudi harus selalu dijaga keamanannya," kata Donath.

Akademi ini mendapat pengamanan serupa dengan yang diterapkan di sekolah-sekolah dan sinagoge Yahudi. "Bagi kami, ini merupakan kenyataan sehari-hari yang menyedihkan," tambahnya.

Biaya pembangunan akademi mencapai sekitar 40 juta euro. Sekitar separuh biaya ditanggung oleh Dewan Pusat Yahudi, sedangkan sisanya dibiayai oleh pemerintah federal dan pemerintah negara bagian.

Jumlah tersebut ternyata jauh lebih besar daripada perkiraan awal saat peletakan batu pertama pada 2021. Salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi standar dan persyaratan keamanan bangunan.


Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Ayu Pruwaningsih
Editor: Rizki Nugraha dan Prita Kusumaputri

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait