Akankah Afrika Selatan Mendekriminalisasi Pekerja Seks?
18 Oktober 2025
Saat berusia 19 tahun, Connie Mathe tidak menganggap dirinya sebagai pekerja seks sampai seorang teman baru menunjukkan hal itu kepadanya.
Mathe, seorang ibu tunggal dari dua anak yang berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup, sedang berpacaran dengan seorang pria menikah yang menyewakan apartemen untuknya di sebuah kawasan mewah di Cape Town.
Temannya, yang juga pekerja seks, mengatakan kepada Mathe: "Itu bukan pacar, itu pekerjaan seks. Dia hanya datang untuk berhubungan seks denganmu, membawa makanan dan membayar sewa."
Mathe sebelumnya sudah mencoba bekerja di ritel, perhotelan, dan pramu pusat layanan (call center), tetapi itu tidak pernah cukup untuk menutupi biaya hidupnya.
Namun, dengan mengambil pekerjaan seks penuh waktu, dia berpikir pada saat itu, dia bisa mandiri dari pacarnya; pekerjaan ini menjanjikan keamanan finansial dan otonomi yang lebih besar. Namun, uang itu datang dengan risiko.
Pekerjaan itu ternyata berbahaya, ditandai dengan pelecehan polisi yang terus-menerus dan razia mingguan, kata Mathe.
Suatu kali, dia ditangkap karena diduga mengelola rumah bordil. Saat penangkapan, dia mengatakan petugas memaksanya untuk membuka pakaian dan melakukan pelecehan seksual terhadapnya.
Setelah dibebaskan, Mathe menemukan seseorang telah mencuri tabungannya. Dia menuduh polisi, tetapi tidak memiliki bukti menuntutnya.
Penangkapan itu akhirnya membawanya ke Sex Workers Education and Advocacy Taskforce (SWEAT), organisasi hak-hak pekerja seks terkemuka di Afrika Selatan.
Sekarang, Mathe menjadi koordinator nasional di Asijiki Coalition, yang memperjuangkan dekriminalisasi pekerjaan seks di Afrika Selatan.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Mengapa mendekriminalisasi pekerjaan seks?
Meskipun membayar dan menerima uang untuk seks ilegal di Afrika Selatan, SWEAT memperkirakan negara ini memiliki sekitar 150.000 pekerja seks.
Perwakilan SWEAT, Megan Lessing, mengatakan kepada DW bahwa angka ini berdasarkan studi tahun 2013, yang juga memperkirakan 90% pekerja seks adalah perempuan. Namun Lessing memperkirakan angkanya sekarang mendekati 80%.
Pekerjaan seks mengacu hanya pada pemberian layanan seksual secara sukarela antara orang dewasa untuk uang, barang, atau imbalan, menurut Global Network of Sex Work Projects.
Pendukung dekriminalisasi pekerjaan seks menunjuk pada orang-orang seperti Connie Mathe. Mereka berargumen bahwa "pekerjaan seks adalah pekerjaan", industri ini tidak secara inheren berbahaya, tetapi kriminalisasi dan stigmatisasi yang membuatnya berbahaya. Pendukung juga mengatakan dekriminalisasi akan mengurangi perdagangan manusia.
Pada 2021, peneliti Afrika Selatan melaporkan sekitar 70% pekerja seks di Afrika Selatan mengalami kekerasan fisik. Hampir 60% telah diperkosa, sementara satu dari tujuh diperkosa oleh polisi. Studi tersebut menemukan kejahatan kekerasan ini jarang dilaporkan karena takut ditangkap atau dilecehkan.
Stigma terhadap pekerja seks menyebabkan mereka terdampak HIV secara tidak proporsional. Meskipun Afrika Selatan telah membuat kemajuan besar dalam memerangi virus ini, negara tersebut masih memiliki epidemi HIV nasional terbesar di dunia, menurut UNAIDS.
SWEAT mengatakan kasus di mana polisi menangkap pekerja seks karena membawa kondom sebagai "bukti pekerjaan seks" merusak kebijakan Afrika Selatan.
Aktivis dan profesional kesehatan mengatakan pekerja seks yang mencari bantuan medis sering menghadapi ejekan dan penghinaan.
Kasus menentang dekriminalisasi pekerjaan seks
Awal September 2025, seorang hakim Pengadilan Tinggi Western Cape memutuskan 16 LSM dapat mengajukan argumen dalam kasus mengenai pertanyaan dekriminalisasi pekerjaan seks. Empat belas mendukung dekriminalisasi. Dua, termasuk Cause for Justice (CFJ), menentangnya, dan Pengadilan Tinggi Western Cape bersiap untuk persidangan besar.
CFJ berdiri untuk apa yang mereka sebut nilai-nilai keluarga, dan mengatakan kasus ini adalah masalah "martabat manusia fundamental." LSM ini menyebut pekerjaan seks sebagai prostitusi, yang menurut mereka "mengurangi manusia menjadi objek seks komersial untuk kepuasan individu predator."
CFJ ingin pekerjaan seks tetap dikriminalisasi dengan alasan bahwa hal itu merendahkan perempuan, mempromosikan perdagangan seks, menyebabkan prostitusi anak, meningkatkan risiko penularan infeksi menular seksual (IMS), dan menjadi gangguan publik.
Pandangan bahwa pekerjaan seks secara inheren merendahkan juga muncul dalam debat feminis, di mana pekerjaan ini dianggap sebagai bentuk ekstrem kekerasan berbasis gender dan eksploitasi tubuh perempuan secara total.
Pendukung dekriminalisasi, sebaliknya, mengatakan pandangan ini merusak otonomi tubuh mereka.
Strategi hukum ganda
Pada 2022, Departemen Kehakiman menerbitkan Rancangan Undang-Undang Dekriminalisasi, yang akan mencabut hukum yang mengkriminalisasi pekerjaan seks.
Namun, rancangan undang-undang itu masih macet dalam proses parlemen karena perluasan konten yang diusulkan, oposisi dari kritikus, dan perubahan kepemimpinan pemerintah.
Perwakilan SWEAT, Lessing, mengatakan urgensi dan kemauan politik telah menurun.
Sementara SWEAT terus mendorong Rancangan Undang-Undang Dekriminalisasi, organisasi ini kini mengejar apa yang Lessing sebut "strategi ganda," di mana mereka juga menentang konstitusionalitas hukum yang menargetkan pekerja seks.
Tim hukum SWEAT menegaskan bahwa kriminalisasi pekerjaan seks tidak konstitusional karena melanggar hak atas kebebasan dan keamanan, hak atas akses keadilan, hak atas praktik kerja yang adil, dan hak atas layanan kesehatan.
Dalam kemenangan besar pada Agustus 2025, SWEAT berhasil mendapatkan moratorium nasional atas penuntutan pekerja seks hingga persidangan di Pengadilan Tinggi Western Cape dimulai.
Masalah global
Afrika Selatan bukan satu-satunya negara yang bergulat dengan legislasi yang tepat untuk pekerjaan seks.
Secara global, ada banyak model, dan masing-masing diperdebatkan. Di negara-negara seperti Swedia, Norwegia, Kanada, dan Israel, digunakan Model Nordik. Hukuman pidana dihapuskan untuk penjualan seks, tetapi pembelian seks tetap ilegal.
Di negara lain, termasuk Jerman, Belanda, Peru, dan Senegal, pekerjaan seks dilegalkan, yang berarti pemerintah memberlakukan undang-undang dan regulasi tertentu. Beberapa negara mewajibkan pendaftaran dan pemeriksaan kesehatan wajib.
Sementara itu, dekriminalisasi sepenuhnya hanya diterapkan di Selandia Baru dan Belgia. Ini berarti semua hukum dan regulasi yang menghukum pekerjaan seks antara orang dewasa yang setuju dihapus. Pekerjaan seks diperlakukan seperti profesi lain untuk mengurangi stigma, menjunjung otonomi tubuh, dan meningkatkan kesehatan serta keselamatan.
Dekriminalisasi adalah model hukum yang paling disukai oleh inisiatif yang dipimpin pekerja seks secara global.
Organisasi internasional seperti WHO, Amnesty International, Human Rights Watch, dan Joint United Nations Programme on HIV/AIDS juga mendorong dekriminalisasi pekerjaan seks.
"Seumur hidup kriminal"
Connie Mathe mengatakan kepada DW bahwa keluar dari industri seks sulit, bahkan jika pekerja seks memiliki kualifikasi tambahan.
"Meskipun saya memiliki diploma studi hukum, saya takut melamar pekerjaan lain di luar SWEAT. Jika Anda memiliki catatan kriminal di Afrika Selatan, tidak ada yang akan mempekerjakan Anda. Bahkan orang yang ingin keluar dari industri ini tidak bisa," katanya, menambahkan bahwa catatan kriminal pekerja seks hanya bisa dihapus 10 tahun setelah penangkapan terakhir, membuat banyak pekerja seks "kriminal seumur hidup."
Baru-baru ini, Mathe khawatir tentang dampak pemotongan dana USAID pada 2025 terhadap kesehatan pekerja seks. Saat mengambil hasil tes medis rutin, Mathe menemukan klinik tempat dia melakukan tes, Ivan Toms Centre for Health di Cape Town, telah ditutup. Klinik yang didanai USAID ini dikenal ramah terhadap komunitas LGBTQ+ dan bersifat rahasia. Menurut Mathe, ini salah satu dari sedikit tempat di mana pekerja seks menerima perlakuan yang hormat dan adil.
Setelah penutupan, Mathe dan beberapa pasien lain dikirim ke rumah sakit lokal, di mana mereka harus menunggu berjam-jam dan diminta menggabungkan masalah medis mereka secara kelompok.
"Kami tidak diterima di rumah sakit umum," kata Mathe. "Mereka menatap kami seolah-olah kami menuntut layanan khusus."
Persidangan penting untuk pekerja seks segera digelar
Mathe tetap berharap Pengadilan Tinggi Western Cape akan memutuskan mendukung mereka saat kasus ini disidangkan pada Mei 2026. Ini akan membuka jalan bagi pekerja seks untuk mengakses hak dan layanan dasar yang sama seperti orang lain.
Perwakilan SWEAT Megan Lessing mengakui, "Kami tahu dekriminalisasi tidak akan memperbaiki segalanya. Tapi ini adalah langkah pertama untuk menangani spektrum luas masalah seputar pekerjaan seks."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid