Akankah Drone jadi Alat Peperangan di Masa Depan?

This browser does not support the video element.
Perang Iran diperkirakan menelan biaya sekitar 1 miliar dolar AS per hari bagi Amerika Serikat. Namun, di balik besarnya biaya tersebut, Iran memiliki keunggulan strategis: Drone berbiaya rendah.
Drone ini hanya membutuhkan sekitar 20 ribu hingga 50 ribu dolar AS untuk diproduksi. Sebaliknya, biaya untuk mencegatnya bisa mencapai 500 ribu hingga jutaan dolar AS per tembakan. Bahkan, dalam banyak kasus, diperlukan lebih dari satu tembakan untuk menjatuhkan satu drone.
Ketimpangan biaya ini membuat sistem pertahanan udara Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya di kawasan Teluk berisiko cepat terkuras. Analis Kelly Grieco menilai, dari sisi biaya, pendekatan ini bukanlah cara yang efisien.
Menurutnya, masalahnya tidak hanya soal biaya. Sistem pencegat canggih seperti Patriot memiliki stok terbatas dan proses produksi yang kompleks. Bahkan dengan anggaran militer terbesar di dunia, Amerika Serikat tidak dapat dengan cepat menggantikan persediaan yang habis karena kapasitas pabrik terbatas dan rantai pasokan penuh hambatan. Akibatnya, persediaan bisa terkuras jauh lebih cepat daripada kemampuan untuk menggantinya, bahkan tidak dalam waktu singkat.
Ia juga menyoroti bahwa banyak negara saat ini sedang berebut sistem pertahanan yang sama. Ukraina berada di antrean teratas, diikuti negara-negara Eropa, Taiwan, hingga negara-negara Teluk, sementara Amerika Serikat sendiri berupaya menambah stoknya. Situasi ini turut diamati oleh Rusia dan Cina.
Analis Kelly Grieco menambahkan, bagi Cina, keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik di Timur Tengah dapat memberi “ruang bernapas” di kawasan Indo-Pasifik. Sementara itu, negara-negara Eropa dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi ancaman drone murah, meskipun Rusia telah lebih dulu menggunakannya dalam perang di Ukraina.