1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Akankah Iran Jadi Anggota SCO?

27 Agustus 2008

Pertemuan Organisasi Kerjasama Shanghai SCO Kamis (28/08). Yaitu enam negara Asia Tengah, Rusia dan Cina, ditambah dengan beberapa negara lain sebagai pengamat. Di antaranya Iran.

Schanghai Kooperation Organisation SCO Symbolbild Logo und Flaggen
Logo SCO - Organisasi Kerjasama Shanghai.

Tahun 1969 kedua negara sosialis, Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina berada di ambang peperangan, terkait sengketa perbatasan pada Sungai Ussuri. Tetapi masalah sebenarnya lebih terletak pada perbedaan ideologi. Walaupun perang dapat dicegah, tetapi masih diperlukan waktu bertahun-tahun sampai kedua negara mengakhiri sengketa perbatasan.

Bubarnya Uni Soviet mengharuskan Cina berembuk dengan masing-masing republik. Yaitu Rusia, Kasachstan, Kirgistan dan Tajikistan. Tahun 2001 perundingan 'Shanghai 5', berubah menjadi 'Shanghai Cooperation Organisation' (SCO), yang bertambah anggotanya dengan Uzbekistan. Kini, Mongolia, India, Pakistan dan Iran memiliki status pengamat. Afghanistan merupakan mitra dialog. SCO berkembang menjadi perhimpunan negara yang luas dan bertambah maknanya, setelah memperoleh status pengamat pada PBB tahun 2004.

Tujuan mereka pun berubah. Setelah sengketa perbatasan diakhiri, perhatian dipusatkan pada soal perang anti teror. Kekuasaan Taliban di Afghanistan berpengaruh pada negara-negara di kawasan sekitarnya dan hampir semua memang punya masalah dengan kelompok radikal. Karena SCO membuka diri ke mana saja, maka beberapa anggotanya dapat ditarik oleh AS dalam upayanya menghadapi Taliban. Di balik itu memang ada kepentingan strategis AS, mengingat sumber daya alam yang dimiliki negara-negara bekas Uni Soviet itu. Termasuk juga letaknya yang dekat dengan pusat terjadinya konflik regional seperti Irak, Afghanistan dan Iran. Setelah digulingkannya Taliban di Afghanistan dan Saddam Hussein di Irak, Iran merasa dikelilingi oleh negara-negara dimana AS sudah menjejakkan kaki. Padahal pemimpin revolusi Iran, Khomeini menyebut AS sebagai 'setan besar'.

Selama ini yang menikmati keuntungan dari SCO adalah negara-negara kecil. Mereka tidak berminat untuk memutuskan hubungan yang menguntungkan dengan negara-negara barat. Terutama dengan AS yang memiliki pangkalan militer di Kirgistan dan Uzbekistan. Cina dan Rusia pun punya kepentingan sendiri di kawasan itu. Bagi Moskow, SCO adalah sarana keamanan dan merupakan pegangan bahwa organisasi itu membatasi pengaruh AS yang terus bertambah. Sebaliknya Cina hendak menjamin terbukanya jalan menuju sumber-sumber energi di dekatnya. Jadi, meskipun terdapat perbedaan ideologi, Beijing merupakan motor penggerak untuk meningkatkan kerjasama ekonomi di kawasan itu.

Dalam hal ini, mau tidak mau Iran memainkan peranan penting. Sebab dengan India dan Pakistan, Teheran menyepakati pembangunan pipa penyaluran gas, yang suatu waktu mungkin dapat menjangkau Cina. Sekarang pun Cina sudah merupakan pelanggan terpenting Teheran. Lebih dari itu Iran menganggap negara-negara sekelilingnya sebagai tempat memasarkan produk industrinya. Di sana tidak ada negara yang takut berniaga dengan republik Islam itu, walau pun di dalam negeri mereka harus mengatasi kelompok radikal Islam. Teheran tidak mendukung Taliban. Dan berbeda dengan peranannya di Libanon dalam soal Israel-Palestina, di negara-negara SCO Iran tidak mendukung kelompok radikal.

Kemungkinan diterimanya Iran dalam SCO membunyikan tanda bahaya di AS. Pemberian status pengamat pun sudah dikritik oleh AS mengingat sikap agresif Presiden Mahmud Ahmadinejad dan sengketa atom. Masih belum jelas apakah ketegangan dengan Moskow terkait kasus Georgia juga akan berdampak pada SCO, walaupun kini Washington masih bersikap tenang. (dgl)