Seorang mantan tentara AS takkan lupa: anak-anak tergantung tak bernyawa - jejak kejam perang yang terus menghantuinya."
Pembebasan Kamp Konsentrasi Kaufering di JermanFoto: Public Domain/US Holocaust Memorial Museum
Iklan
Saat pertama kali menjejakkan kaki di Jerman, George Leitmann baru berusia 19 tahun. Dia tiba di musim semi 1945, menjelang akhir Perang Dunia II di Eropa. Pasukan Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Tentara Merah Uni Soviet bergerak dari segala penjuru untuk menumpas Nazi di bawah Adolf Hitler.
Leitmann bertugas di Batalion Zeni ke-286 dari Angkatan Darat Keenam AS. Saat dia dan rekan-rekannya tiba di Jerman selatan, perang masih berkecamuk. "Garis depan berlangsung sangat dinamis,” kenangnya. Tentara Wehrmacht dan SS bertempur secara fanatik, mati-matian mempertahankan rezim NAZI yang sudah di ambang kehancuran.
Pada Mei 2025, George Leitmann genap berusia 100 tahunFoto: George Leitmann
Leitmann menyaksikan banyak kengerian perang, beberapa di antaranya terus menghantuinya sepanjang hidup. Salah satu kenangan paling mengerikan terjadi ketika pasukannya memasuki sebuah pinggiran kota. "Ada sekitar 15 sampai 20 anak laki-laki, usia sekitar 10 hingga 12 tahun. Mereka sudah tak bernyawa. Digantung,” tuturnya nyaris 80 tahun kemudian.
Dia mengetuk pintu rumah terdekat untuk mencari tahu apa yang terjadi. Jawaban dari penduduk membuat darahnya membeku: anggota Waffen-SS yang terkenal kejam telah memaksa anak-anak itu menggunakan pelontar granat untuk menembak bila melihat tank Amerika mendekat. Namun, saat tank benar-benar muncul, anak-anak itu justru melarikan diri. SS kembali keesokan harinya, menangkap dan menggantung mereka di pohon. "Mereka membunuh anak-anak mereka sendiri,” kata Leitmann.
Sejarah kemudian mencatat kekejaman ini sebagai bagian dari "kejahatan tahap akhir," atau dalam bahasa Jerrmannya "Endphaseverbrechen", yang dilakukan tentara Nazi terhadap warga sipil Jerman yang dianggap lemah atau tak lagi mau berperang. Gambar anak-anak tergantung di pohon, tertiup angin, tak pernah hilang dari ingatan George Leitmann.
Auschwitz - Menengok Kekejaman Sebuah Kamp
Kamp konsentrasi Auschwitz berhasil dibebaskan pasukan Soviet, 27 Januari 1945. Sejak tahun 1996, tanggal ini dijadikan sebagai hari peringatan bagi para korban kekejaman Nationalsozialismus (Nazi).
Foto: AP
Pembebasan
75 tahun lalu, Tentara Merah berhasil membebaskan kamp konsentrasi dan kamp pemusnahan Auschwitz-Birkenau. Antara tahun 1940-1945, lebih dari satu juta orang, kebanyakan warga Yahudi, tewas dibunuh di kamp ini. Ketika tentara Soviet membebaskan kamp, mereka hanya menemukan sekitar 7000 orang yang selamat. Tampak dalam foto yang diambil Januari 1945, tiga orang penghuni kamp yang berhasil selamat.
Foto: AP
Hampir Mati Kelaparan
10 hari sebelum Tentara Merah membebaskan kamp ini, Nazi menggiring sekitar 60 ribu tawanan, dengan apa yang disebut Todesmarsch atau Mars Kematian, ke kamp lain. Mereka yang tinggal di kamp adalah para tahanan yang kondisinya telah lemah akibat kelaparan.
Foto: AP
Tahanan Anak
Nazi menahan sekitar 232 ribu anak-anak di Auschwitz-Birkenau. Kebanyak dari mereka adalah anak-anak keturunan Yahudi. Selain itu terdapat juga anak-anak Roma, anak-anak yang dikirim dari Polandia, Rusia dan Ukraina. Saat ini, masih hidup sekitar 300 anak dari 2000 anak yang berhasil diselamatkan 70 tahun lalu.
Foto: AP
Sinisme Nazi
"Arbeit macht frei“ atau terjemahan harfiahnya "Kerja Dapat Membebaskan“, semboyan yang terpampang di depan gerbang utama kamp konsentrasi Auschwitz I. Tahun 2009, plang tulisan asli di gerbang ini telah dicuri, dan diganti dengan satu replika. Plang asli yang berhasil ditemukan kembali kini disimpan di museum.
Foto: AP
Holocaust
Auschwitz-Birkenau merupakan kamp konsentrasi dan kamp pemusnahan terbesar yang dibangun Nazi. Dan kamp ini merupakan satu-satunya yang berhasil dipertahankan kondisinya sesuai dengan kondisi ketika kamp ini dibebaskan tahun 1945 – atau seperti tampak dalam foto yang dibuat tahun 1946.
Foto: AP
Tugu Peringatan Asli
Untuk mempertahankan kamp ini sebagai tugu peringatan, Polandia telah membentuk satu yayasan. Jerman telah menjanjikan 120 juta Euro dana yang dibutuhkan, sehingga pekerjaan pemeliharaan dapat terus dilaksanakan dalam tahun-tahun mendatang. Foto yang diambil tahun 1958 memperlihatkan gudang penyimpanan di balik pagar listrik tegangan tinggi
Foto: AP
Pembunuh
Salah satu dari 116 foto langka para petinggi Nazi di Auschwitz ini diambil pada tahun 1944. Richard Bär, yang sejak Mei 1944 memegang komando tertinggi di Auschwitz, di sebelahnya, Dr. Josef Mengele, komandan di Birkenau, Josef Kramer (tertutup wajahnya), serta mantan komandan Auschwitz Rudolf Höß. Pria paling kanan tidak diketahui identitasnya.
Foto: AP
Fotografer
Wilhelm Brasse berusia 25 tahun ketika tiba sebagai tahanan politik di Auschwitz. Atas perintah SS, ia membuat foto dari sekitar 40 ribu tahanan. Ia pun diharuskan mendokumentasikan eksperimen medis brutal yang dilakukan Dr. Mengele. Akibat trauma, setelah perang berakhir, tidak pernah sekalipun menyentuh kamera lagi. Kisah Brasse diabadikan dalam satu film Polandia berjudul "Potrecista“.
Foto: dpa
Seleksi
Foto dari tahun 1944 yang kini tersimpan di Museum Yad Varshem ini memperlihatkan para perempuan dan anak-anak, yang dipisahkan dari kelompok laki-laki. Mereka sedang menjalani psores ‚penyeleksian, ketika tiba di Auschwitz-Birkenau.
Foto: AP
Kerja Rodi
Mereka yang lolos dari 'seleksi’ diharuskan melakukan kerja yang berat. Tampak dalam foto, para perempuan yang lolos seleksi berdiri dalam antrian untuk menerima perintah kerja.
Foto: AP
Barak Perempuan
Kelaparan dan kedinginan merupakan keseharian yang harus dijalani para perempuan penghuni kamp di Birkenau. Mereka ditempatkan dalam barak terpisah di lokasi kamp.
Foto: dpa
Warisan Holocaust
Di area kamp Auschwitz seluas hampir 200 hektar terdapat 300 barak tahanan. Banyak bagian dari kamp konsentrasi Auschwitz yang sampai sekarang tetap terpelihara keasliannya dan dijadikan sebagai tugu peringatan serta museum kekejaman Holocaust. Museum ini juga dijadikan pusat penelitian Holocaust.
Foto: dpa
Krematorium
Auschwitz-Birkenau memiliki enam kamar gas serta empat krematorium. Rasa kengerian masih dapat dirasakan para pengunjung ketika melihat bekas oven pembakaran jenazah ini. Banyak tahanan dari seluruh Eropa dibunuh pada hari kedatangan mereka dan jenazah mereka dibakar di tempat ini.
Foto: AP
Rencana Pemusnahan
Salinan asli dari rencana pembangunan kamp konsetrasi dan kamp pemusnahan Auschwitz tahun 1941 dan 1942. Salinan asli ini kini disimpan di Museum Holocaust Yad Vaschem di Yerusalem. Dalam salinan ini digambarkan berapa besar dan di mana saja akan dibangun kamar gas dan oven pembakaran korban. Salinan ini ditemukan pada tahun 2008 di sebuah apartemen di Berlin.
Foto: AP
14 foto1 | 14
Keraguan terhadap kemanusiaan
Pengalaman mengerikan ini membekas dalam ingatan George. "Citra anak-anak yang dibunuh itu membuat saya meragukan kemanusiaan,” ungkapnya. Ia, seorang tentara AS dan juga penyintas Holocaust, mempertanyakan apakah manusia benar-benar dapat dipercaya. "Yang memotivasi SS bukanlah hal rasional. Itu membuat saya terusik seumur hidup.”
Di sisi lain, para pelaku genosida Nazi menyangkal keterlibatan dalam ideologi fasis yang membagi manusia dalam kelompok layak dan tidak layak hidup. Ideologi inilah yang melahirkan pembantaian sistematis terhadap orang Yahudi Eropa, Sinti, Roma, dan kelompok-kelompok lain. Dari total korban, 1,5 juta di antaranya adalah anak-anak, kebanyakan dibunuh hanya karena mereka Yahudi.
Antisemitisme: Mengapa Melekat Begitu Kuat?
13:09
This browser does not support the video element.
Penyintas yang menjadi pembebas
Leitmann bukan hanya tentara Amerika biasa. Dia juga korban yang selamat dari persekusi Nazi. Dia lahir di Wina, Austria. Ketika Nazi menganeksasi negara itu, keluarganya yang beragama Yahudi memutuskan untuk melarikan diri. Pada 1940, George, ibunya, dan kakek neneknya berhasil mendapatkan visa ke Amerika Serikat. Hanya ayahnya, Josef, yang tak mendapatkan visa. Dia melarikan diri ke Yugoslavia dan tak pernah lagi terlihat. George dan keluarganya menaiki kapal ke AS, meninggalkan tanah kelahiran dan harapan yang suram.
Setelah perang, George mengejar pendidikan dan menjadi profesor teknik di Universitas California, Berkeley. Dia mendapat berbagai penghargaan akademik, tetapi luka masa lalu tetap membekas. Bersama istrinya Nancy, yang kini juga berusia 100 tahun, dia tinggal di rumah lansia di California. Namun, pertanyaan-pertanyaan moral dari masa lalu tak pernah berhenti menghantuinya.
"Sering saya bertanya: bagaimana mungkin bangsa Jerman, yang begitu berpendidikan, bisa berubah menjadi begitu jahat dalam waktu sesingkat itu?” katanya. Dia mengaku tak punya jawaban, hanya pertanyaan yang terus berputar dalam pikirannya. "Setiap kali bertemu orang Jerman, saya bertanya-tanya: seberapa besar kesalahan mereka atau orang tua mereka? Namun, menjawabnya dengan menyalahkan keturunan terasa tak ilmiah.”
Iklan
Menjadi tentara demi jawaban
Keputusan George untuk bergabung dengan militer AS saat berusia 18 tahun bukan hanya karena patriotisme, dia juga sedang mencari ayahnya. "Perang ini, bagi saya, juga sebuah pencarian,” ujarnya. Ketika unitnya mencapai kamp konsentrasi Kaufering dekat München, dia dan rekan-rekannya menemukan neraka. "Mayat di mana-mana. Banyak yang masih terbakar, tapi tidak hangus karena tubuh mereka hanya tinggal kulit dan tulang,” kenangnya. Gambar-gambar itu terus menghantuinya hingga kini.
Kamp Kaufering merupakan bagian dari Kompleks Dachau, terdiri dari 11 subkamp, tempat lebih dari 23.000 tahanan dipaksa bekerja untuk industri senjata Nazi. Mereka dipaksa mati perlahan lewat kerja paksa, "pemusnahan lewat pekerjaan”.
Peringatan dan kekhawatiran di hari tua
George Leitmann menjadi anggota kehormatan dari yayasan peringatan Holocaust yang mengelola bekas kamp Kaufering. Namun, untuk memperingati 80 tahun pembebasan kamp pada 27 April 2025, dia tak bisa hadir. Perjalanan dari California terlalu berat baginya.
Peringatan tersebut berlangsung dengan nada duka, tetapi juga penuh kekhawatiran terhadap masa depan. Kenaikan ekstrem kanan di Jerman dan Amerika Serikat, kembalinya Donald Trump, serta invasi Rusia ke Ukraina membangkitkan bayang-bayang lama. Sejarawan Florian Wenninger memperingatkan dalam pidatonya: "Ketika empati, keadilan, dan belas kasih diserang, maka jelas bahwa kekejaman dan ketidakpedulian bisa kembali menyelimuti kita semua.”
Leitmann pun resah dengan perkembangan politik dunia. "Bahwa seorang seperti Trump bisa jadi presiden, itu mengejutkan,” katanya. "Dukungan terhadap gagasan-gagasan fasis oleh sebagian besar masyarakat sangat mengganggu. Menyalahkan kelompok tertentu atas segala masalah, hal itu selalu membawa bencana.”
Serangan Teror Ekstremis Kanan: Sebuah Rentang Sejarah
Dalam 10 tahun terakhir telah terjadi banyak serangan terhadap komunitas Muslim dan Yahudi, serta orang non-kulit putih. DW merangkum beberapa serangan teror ekstremis kanan terbesar di dunia.
Foto: picture-alliance/empics/PA Wire/D. Lawson
Jerman 2009: Penusukan terhadap wanita di pengadilan Dresden
Marwa El-Sherbini, seorang apoteker yang tinggal di Dresden bersama dengan suami dan putranya dibunuh di pengadilan Dresden pada 1 Juli 2009. Ia ditusuk seorang pria berusia 28 tahun keturunan Jerman-Rusia, tak lama setelah memberikan kesaksian terhadap pria ini untuk kasus kekerasan verbal. El-Sherbini adalah korban pembunuhan yang pertama dalam serangan Islamophobic di Jerman.
Foto: picture-alliance/dpa/M. Hiekel
Norwegia 2011: Breivik, pembunuh massal dengan serangan teror.
Dua aksi terror dilakukan sendirian oleh extremis sayap kanan, Anders Behring Breivik tewaskan 77 orang tanggal 22 Juli 2011. Aksi pertamanya adalah pemboman di sebuah kantor pemerintahan di Oslo. Aksi dilanjutkan dengan pembantaian anak-anak muda yang berkemah di pulau Utoya. Sebelum, Breivik mengeluarkan manifestasi yang mengecam multikulturalisme dan islamisasi Eropa.
Foto: picture-alliance/dpa/R. Berit
AS 2015: Penembakan di Chapel Hill
Tiga mahasiswa, yakni Deah Barakat, istrinya Yusor Abu-Salha dan saudara perempuannya Razan Abu-Salha ditembak mati oleh tetangga mereka yang berusia 46, 10 Februari 2015. Penembak menggambarkan dirinya sebagai penantang agama dan telah berulang kali dilaporkan karena ancaman dan penghinaan terhadap korbannya. Peristiwa ini viral di media sosial dan bertagar #MuslimLivesMatter.
AS 2015: Pembunuhan massal di gereja di Charleston
17 Juni 2015: Seorang teroris kulit putih melepaskan tembakan di gereja Emanuel African Methodist Episcopal di Charleston, Carolina Selatan. Sembilan orang anggota jemaat Afrika-Amerika terbunuh, termasuk seorang pendeta. Pelaku yang berusia 21 tahun ini dijatuhi hukuman mati akibat melakukan kejahatan berdasarkan kebencian.
Foto: Getty Images/J. Raedle
Jerman 2016: Penembakan massal di München
Sebuah penembakan massal di pusat perbelanjaan di München pada 22 Juli 2016 memakan setidaknya 36 korban luka dan 10 korban jiwa – termasuk pelaku penembakan yang baru berusia 18 tahun. Pelaku adalah warga Jerman keturunan Iran. Menurut keterangan kepolisian, ia banyak membuat komentar bersifat xenofobia dan rasis, serta yang memuja pelaku penembakan sekolah.
Foto: Getty Images/J. Simon
Inggris 2017: Serangan di masjid Finsbury Park
19 Juni 2017, seorang pria berusia 47 tahun membunuh satu orang dan melukai 10 orang lainnya dalam serangan yang menggunakan mobil van. Pelaku menabrakkan mobil ke arah oarang-orang di jalur pejalan kaki dekat masjid Finsbury Park di utara London. Semua korban adalah muslim yang sedang bejalan menuju masjid untuk salat Tarawih. Pelaku dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Foto: picture-alliance/AP Photo/F. Augstein
AS 2017: Serangan mobil saat gerak jalan neo-Nazo di Charlottesville
Satu orang wanita terbunuh dan puluhan lainnya terluka ketika seorang nasionalis kulit putih menabrakkan mobilnya ke arah kerumunan demonstran di Charlottesville, Virginia pada 12 Agustus 2017. Para demonstran menentang aksi protes bernama Unite the Right, yakni pertemuan antar para supremasi kulit putih, nasionalis kulit putih, serta neo-Nazi. Pelaku dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Foto: Getty Images/AFP/P.J. Richards
Kanada 2017: Serangan masjid di Quebec
Seorang pria bersenjata menembaki jamaah di Islamic Cultural Center di Quebec, akhir Januari 2017. Peristiwa ini menewaskan enam orang dan melukai puluhan lainnya. Penembakan itu terjadi di malam hari, saat salat berlangsung. Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau mengutuk penembakan itu sebagai "serangan teroris terhadap Muslim di rumah ibadah dan perlindungan."
Foto: Reuters/M. Belanger
AS 2018: Penembakan Sinagoge Tree of Life
Pada 27 Oktober 2018, seorang pria bersenjata berusia 46 tahun melepaskan tembakan di sebuah sinagoga di kota Pittsburgh, AS. Peristiwa ini menewaskan 11 orang dan melukai tujuh lainnya. Dia dilaporkan meneriakkan ejekan anti-Semit selama serangan dan sebelumnya memposting teori konspirasi di internet. Itu adalah serangan paling mematikan terhadap orang Yahudi dalam sejarah AS.
Foto: picture-alliance/AP/M. Rourke
Jerman 2019: Serangan tahun baru di Bottrop and Essen
Tak lama setelah tengah malam ketika orang-orang merayakan tahun baru, seorang pria berusia 50 tahun melakukan serangan yang ditargetkan terhadap imigran di kota Bottrop dan Essen, Jerman barat - melukai delapan orang dan satu luka serius. Dia sengaja menabrakkan mobilnya ke arah keluarga Suriah dan Afghanistan yang sedang merayakan dengan anak-anak mereka di Bottrop.
Foto: picture-alliance/dpa/M. Kusch
Selandia Baru 2019: Serangan masjid menara kembar di Christchurch
Setidaknya 50 tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan. Pihak berwenang sebut ini sebagai "serangan ekstremis sayap kanan" dan peristiwa penembakan paling mematikan dalam sejarah negara itu. Salah seorang pelaku siarkan langsung serangan itu dan tuliskan manifesto rasis di internet. Perdana Menteri Jacinda Ardern menyebutnya "salah satu hari paling gelap di Selandia Baru." (Ed.: ga/ml)
Foto: picture-alliance/empics/PA Wire/D. Lawson
11 foto1 | 11
Warisan dan luka yang tak hilang
Pada Mei 2025, George Leitmann genap berusia 100 tahun. Dia mengaku tetap merasa bersyukur karena sempat merasakan cinta, menjelajahi dunia, membentuk keluarga, dan bertemu banyak orang hebat. Namun, usia tua juga datang dengan beban. "Jangan coba hidup selama ini,” ujarnya sambil mengangkat jari telunjuknya. "Ini bukan hal yang menyenangkan, saya serius.”
Baru bertahun-tahun setelah perang usai, George akhirnya tahu nasib ayahnya. Di sebuah kamp di Yugoslavia, ayahnya dieksekusi dengan tembakan ke kepala oleh tentara Jerman. Hanya karena dia seorang Yahudi.
Hingga kini, George Leitmann masih membayangkan bagaimana detik-detik terakhir sang ayah. Dia memikirkannya, setiap hari.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman