Aksi Perompak Somalia Tak Berhenti
14 April 2009
MV Irene adalah kapal ke-9 yang dibajak di Teluk Aden dan Samudera Hindia sejak awal bulan ini. Kapal barang Yunani seberat 35 ribu ton itu dibajak Selasa (14/04) beberapa jam sebelum subuh tiba. Ke-22 kru kapal, semuanya warga Filipina, diyakini dalam keadaan selamat.
Senin kemarin (13/04), kepala kelompok yang membajak kapal dagang AS Maersk Alabama bertekad membalas kematian tiga perompak dalam operasi militer akhir pekan lalu.
Dalam operasi itu, marinir AS menembak tiga dari empat bajak laut yang menyandera kapten kapal AS Richard Phillips dalam sebuah perahu penyelemat sejak Rabu pekan lalu. Bajak laut ke-empat menyerahkan diri kepada tentara.
AS menyambut gembira pembebasan tersebut. Presiden Barrack Obama menyampaikan rasa bangga terhadap militer dan seluruh jajaran yang terlibat di dalamnya. Senin kemarin ia menyerukan tekad baru dalam upaya memerangi bajak laut.
"Kami bertekad meredam bangkitnya perompakan di kawasan tersebut. Dan untuk mencapai sasaran itu kita harus melanjutkan bekerja dengan para mitra guna menghindari serangan perompak di masa depan. Kita harus bersiap untuk melawan dan memastikan bahwa mereka yang melakukan perompakan harus bertanggungjawab atas kejahatan yang mereka lakukan", kata Obama.
Hingga saat ini lebih dari selusin kapal laut ada di tangan perompak Somalia. Termasuk diantaranya Hansa Stavanger, dengan kapten kapal dan 4 awak berkewarganegaraan Jerman.
Thomas Kossendey, pejabat di Kementrian Pertahanan Jerman, menyetujui tindakan keras terhadap perompak. Wewenang untuk itu sudah diberikan oleh parlemen Jerman Bundestag.
Kossendey mengatakan, "Mandat yang diberikan Bundestag kepada angkatan laut Jerman untuk bergabung dalam operasi Atalanta dari UE, juga mencakup cara kekerasan. Mandat itu mencakup semua kemungkinan untuk melawan perompak, tidak bisa pilih-pilih. Tapi kita juga harus melihat upaya untuk mengendalikan situasi di Somalia sendiri. Jika di negeri itu tak ada kepuasan, maka pemberantasan bajak laut akan sulit berhasil."
Kossendey menyentuh persoalan yang lebih dalam. Bajak laut, seperti yang tewas dalam operasi penyelamatan kapten Richard Phillips, kebanyakan anak muda yang kehilangan perspektif setelah 18 tahun perang saudara melanda Somalia.
Andrew Mwangura, koordinator Program Pendampingan Pelaut Afrika yang bermarkas di Mombasa mengatakan, "Anda tidak bisa menghentikan orang yang lapar. Orang yang lapar adalah orang yang marah. Ia akan melakukan apapun untuk bertahan hidup. Dia akan menempuh resiko apapun karena tidak akan kehilangan apapun."
Andrew Mwangura yang telah bertahun-tahun mengamati aksi para perompak Somalia mengkuatirkan, aksi pembebasan dengan kekerasan, akan mempersulit situasi dalam jangka panjang.
"Itu hanya akan membuat para perompak semakin keras. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dulu para perompak mengambil sandera dan bilang, kami tidak akan melukai mereka, begitu uang tebusan datang, mereka kami bebaskan. Tapi sekarang semakin sering terjadi, perompak membunuh sandera demi menyelamatkan nyawa mereka sendiri“, kata Mwangura.
(RP/rtr/dpa/afp)
Editor: Hendra Pasuhuk