Aksi Protes Semarak Lagi di Iran
8 Desember 2009
Harian Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung menulis:
Kerusuhan besar pertengahan Juni lalu tidak membuat gerakan oposisi Iran menjadi gentar. Pada peringatan yang disebut ‚Hari Mahasiswa' digelar lagi aksi demonstrasi di pusat kota Teheran. Bentrokan lalu terjadi lagi, di beberapa tempat cukup keras. Makin jelas, bahwa pergeseran Republik Iran menuju sebuah rejim militer, ternyata tidak membuat gerakan oposisi mengurungkan niat untuk turun ke jalan dan menyuarakan tuntutannya. Sekalipun ada pembatasan informasi, beberapa hal bisa sampai ke luar Iran. Informasi terbatas ini sudah cukup meyakinkan, bahwa situasi Iran pada tahun-tahun mendatang tetap akan panas. Upaya menindas kaum oposisi tidak akan berhasil. Sejak 12 Juni lalu, Iran menjadi negara yang sangat terpolarisasi.
Harian Jerman lainnya, die tageszeitung berkomentar:
Rejim di Tehran telah kehilangan basisnya. Semua upaya agitasi, serangan terhadap apa yang disebut ‚musuh-musuh asing', berbagai seruan dengan sentimen nasionalisme, semuanya tidak mendapat gema yang luas dari publik. Tidak hanya para reformis yang sekarang menentang pemerintah. Di kubu konservatif mulai muncul front baru menentang pemerintahan Ahmadinejad dan pemimpin revolusi Ali Khamenei. Dalam situasi seperti ini, rejim penguasa hanya melihat penggunaan kekerasan sebagai satu-satunya jalan keluar. Tapi, satu rejim yang naik ke tampuk kekuasaan melalui perlawanan rakyat, tidak akan bisa bertahan tanpa loyalitas rakyatnya. Kekuasaannya akan segera berakhir.
Tema lain yang jadi sorotan pers adalah situasi politik di Rumania. Presiden Traian Basescu berhasil memenangkan pemilu. Namun pertarungan politik di negara itu masih berlanjut, Haian Swiss Neue Zürcher Zeitung menulis:
Masih belum jelas, apakah Basescu akan bisa membentuk pemerintahan yang mampu beraksi dan memiliki mayoritas luas. Rumania perlu pemerintahan yang kuat, karena situasi ekonominya parah. Rumania perlu segera melakukan langkah-langkah penghematan. Basescu bertikai dengan hampir semua partai politik. Pertikaiannya makin runcing. Sejak pecahnya koalisi pemerintahan yang lalu, sudah dua kepala pemerintah yang diangkat Basescu gagal. Ini bukan pertanda baik. Basescu dan Partai Liberal Demokrat akan tergantung dari politisi yang berpindah kubu, jika ingin menghindari pemilu baru.
Harian Inggris Guardian menyoroti kemenangan Presiden Evo Morales di Bolivia sebagai berikut:
Pada masa jabatannya yang pertama, Morales menasionalisasi perusahaan gas dan menaikkan harga lisensi pengolahan sumber daya alam. Hasilnya adalah tiga tahun surplus anggaran dan simpanan cadangan senilai 8 miliar dollar AS. Tapi prospek ke depan masih belum jelas. Memang selalu demikian, jika seorang penguasa punya begitu banyak kekuasaan. Belum jelas bagaimana Morales akan memperlakukan lawan politiknya. Bolivia perlu investasi asing, sehingga nantinya mampu mengekspor produk barang jadi dan tidak tergantung pada ekspor bahan mentah. Untuk sekarang, kemenangan dan upaya Morales memperbaiki Bolivia patut disambut.
HP/AP/dpa/afp