Tiga aktivis demokrasi Hongkong mulai diadili karena perannya dalam unjuk rasa Occcupy 2014, yang menuntut pemilu bebas. Ketiganya dituduh pemerintah Cina telah mengganggu ketertiban publik.
Iklan
Sekitar 100 orang berkumpul di depan pengadilan Hongkong hari Senin (19/11) untuk menunjukkan dukungan mereka kepada para terdakwa. Ketiga aktivis yang dihadapkan ke pengadilan lantara mengikuti aksi protes tahun 2014 bisa dijerat hukum dengan sanksi penjara bertahun-tahun.
Ketika para terdakwa mendekati ruang sidang, para pengunjuk rasa menyambut mereka melambaikan payung dan dan meneriakkan "Saya ingin hak pemilu yang umum." Para aktivis yang digiring ke ruang sidang mengangkat dan mengepalkan tangannya tanda tetap bersemangat."Hentikan penganiayaan politik" seru mereka.
Ketiga terdakwa, dua guru besar dan seorang pensiunan pendeta, adalah tiga pemimpin utama gerakan "Occupy Central", yang tahun 2014. Profesor Benny Tai dan Chan Kin-man, dan pensiunan pendeta Chu Yiu-Ming bergabung dengan gerakan protes mahasiswa dan mengepung pusat pemerintahan daerah selama 79 hari untuk menuntut pemilu bebas.
Tekanan pemerintah pusat di Beijing?
Ketiganya sekarang menghadapi tuduhan konspirasi untuk melakukan gangguan ketertiban umum dan menyebarkan hasutan yang mengganggu ketertiban umum. Jika terbukti bersalah, mereka bisa dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara.
Jaksa Andrew Bruce mengatakan kepada pengadilan, para aktivis mendukung demo "yang melanggar hukum tempat umum dan memblokir jalan utama."
Chu, Benny dan Chan bersikeras mereka tidak bersalah. Dalam persidangan terpisah dua tahun lalu, mereka sebenarnya sudah diberi sanksi melakukan kerja sosial. Namun pemerintahan pusat di Beijing menekan pada para hakim dan menuntut ketiganya diadili lagi.
Selain ketiga aktivis, masih ada dua anggota parlemen dan dua pemimpin mahasiswa yang menghadapi gugatan serupa.
Umbrella Movement trial begins
02:08
'Bersiap untuk berjalan di jalur ini'
Minggu yang lalu, Profesor Chan masih memberi ceramah perpisahan di universitasnya, Chinese University of Hong Kong. Di sana dia mengajar sosiologi selama lebih dari 20 tahun.
"Selama kita tidak dihancurkan dengan pemenjaraan dan persidangan, dan tidak menjadi terlalu frustrasi dan marah, maka kita akan menjadi lebih kuat dan dapat menginspirasi lebih banyak orang," katanya kepada sekitar 600 orang yang hadir.
"Hanya pada masa-masa tergelap, kita bisa melihat bintang-bintang," ujarnya.
Kepada kantor berita AFP Chan mengatakan, dia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan harus menjalani masa tahanan di penjara. Mantan pendeta Chu menerangkan:
"Kami selalu siap berkorban untuk membangunkan orang-orang," katanya.
Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina
Hong Kong dikembalikan ke bawah kekuasaan Cina 20 tahun lalu, setelah dikuasai Inggris selama 156 tahun. Sejarah kawasan itu selama ini sudah ditandai sejumlah aksi protes terhadap Cina.
Foto: Reuters/B. Yip
1997: Momentum Bersejarah
Penyerahan Hong Kong dari Inggris kepada Cina terjadi tanggal 1 Juli 1997. Wilayah Hong Kong menjadi koloni Inggris tahun 1842 dan dikuasai Jepang selama Perang Dunia II. Setelah Hong Kong kembali ke Cina, situasi politiknya disebut "satu negara, dua sistem."
Foto: Reuters/D. Martinez
1999: Tidak Ada Reuni Keluarga
Keluarga-keluarga yang terpisah akibat perbatasan Hong Kong berharap akan bisa bersatu lagi, saat Hong Kong kembali ke Cina. Tetapi karena adanya kuota, hanya 150 orang Cina boleh tinggal di Hong Kong, banyak yang kecewa. Foto: Aksi protes warga Cina (1999) setelah permintaan izin tinggal ditolak oleh Hong Kong.
Foto: Reuters/B. Yip
2002: Harapan Yang Kandas
Masalah izin tinggal muncul lagi April 2002 ketika Hong Kong mulai mendeportasi sekitar 4.000 warga Cina yang "kalah perang" untuk dapat izin tinggal di daerah itu. Keluarga-keluarga yang melancarkan aksi protes di lapangan utama digiring secara paksa.
Foto: Reuters/K. Cheung
2003: Pandemi SARS
2003, virus SARS yang sangat mudah menular mencengkeram Hong Kong. Maret tahun itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan adanya pandemi di kawasan itu. Pria ini (foto) hadir dalam upacara penguburan Dokter Tse Yuen-man bulan Mei. Dr. Tse secara sukarela menangani pasien SARS dan tertular virus itu. Hong Kong dinyatakan bebas SARS Juni 2003. Hampir 300 orang tewas akibat penyakit ini.
Foto: Reuters/B. Yip
2004: Demonstrasi bagi Demokrasi
Politik Cina "satu negara, dua sistem" kerap sebabkan ketegangan. 2004, dalam peringatan ke tujuh penyerahan kembali Hong Kong, ratusan ribu orang memprotes, dan menuntut reformasi politik. Mereka menyerukan demokrasi dan pemilihan pemimpin Hong Kong berikutnya.
Foto: Reuters/B. Yip
2008: Tidak Ada Tempat Tinggal
Harga properti yang sangat tinggi sebabkan biaya sewa yang juga tinggi. 2008 rasanya tak aneh jika melihat orang seperti Kong Siu-kau tinggal di apa yang disebut "rumah kandang." Besarnya 1,4 m persegi, dikelilingi kawat besi, dan dalam satu ruang biasanya ada delapan. Sekarang sekitar 200.000 orang menyebut sebuah "kandang" atau satu tempat tidur di apartemen yang disewa bersama, sebagai rumah.
Foto: Reuters/V. Fraile
2009: Mengingat Lapangan Tiananmen
Saat peringatan 20 tahun pembantaian brutal pemerintah Cina di Lapangan Tiananmen (4 Juni 1989), penduduk Hong Kong berkumpul dan menyalakan lilin di Victoria Park. Ini menunjukkan perbedaan besar antara Hong Kong dan Cina. Di Cina pembantaian atas orang-orang dan mahasiswa yang prodemokrasi hanya disebut Insiden Empat Juni.
Foto: Reuters/A. Tam
2014: Aksi Occupy Central
Sejak September 2014, protes skala besar yang menuntut lebih luasnya otonomi mencengkeram Hong Kong selama lebih dari dua bulan. Ketika itu Beijing mengumumkan Cina akan memutuskan calon pemimpin eksekutif Hong Kong dalam pemilihan 2017. Aksi protes disebut Revolusi Payung, karena demonstran menggunakan payung untuk melindungi diri dari semprotan merica dan gas air mata.
Foto: Reuters/T. Siu
2015: Olah Raga Yang Penuh Politik
Kurang dari setahun setelah Occupy Central berakhir, Cina bertanding lawan Hong Kong dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia sepak bola, 17 November 2015. Para pendukung Cina tidak disambut di Hong Kong. Para fans Hong Kong mengejek dan berteriak-teriak ketika lagu kebangsaan Cina dimainkan, dan mengangkat poster bertuliskan "Hong Kong bukan Cina." Pertandingan berakhir 0-0.
Foto: Reuters/B. Yip
2016: Kekerasan Baru
February 2016 tindakan brutal polisi Hong Kong kembali jadi kepala berita. Pihak berwenang berusaha singkirkan pedagang ilegal di jalanan dari kawasan pemukiman kaum buruh di Hong Kong. Mereka mengirim polisi anti huru-hara, yang menggunakan pentungan dan semprotan merica. Bentrokan ini yang terbesar setelah Revolusi Payung 2014. Penulis: Carla Bleiker (ml/hp)