Aktivitas dua gunung berapi di tanah air meningkat. Status Gunung Soputan naik menjadi siaga dan bandara di Malang ditutup akibat aktivitas Gunung Bromo.
Iklan
Bandara Abdulrachman Saleh Malang Selasa (5/1/2015) pagi ditutup, akibat meningkatnya aktivitas Gunung Bromo, Jawa Timur. Semburan asap dari Bromo dianggap membahayakan aktivitas penerbangan di Malang.
Penutupan bandara ini adalah yang kesekian kalinya. Sebelum masa libur Natal dan Tahun Baru, bandara tersebut juga ditutup. Situasi mirip dengan saat pertama terjadi letusan 4 Desember lalu. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer, namun belum dilakukan pengungsian.
Gunung Bromo telah meletus bebeberapa kali, dengan interval waktu yang cukup teratur, yaitu sekitar 30 tahun. Pada tahun 1974, pernah terjadi letusan terbesar di gunung ini. Letusan besar juga terjadi pada tahun 2011.
Gunung Soputan Siaga
Sementara itu di perbatasan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kabupaten Minahasa Tenggara, Gunung Soputan meletus pada hari Senin (4/1/2016) malam. Status gunung itu meningkat menjadi siaga. Asap dan abu vulkanik dilaporkan terlontar hingga ketinggian 300 meter.
Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengingatkan: "Masyarakat atau pengunjung dilarang beraktivitas dalam radius empat kilometer dan sektoral 6,5 kilometer ke arah barat daya-barat-barat laut dari puncak Gunung Soputan."
Namun menurutnya, masyarakat belum perlu mengungsi karena permukiman masih jauh di luar dari radius yang dilarang. Terdengar dari gunung Soputan, suara gemuruh dari puncak gunung dan lava pijar tampak menuruni lereng gunung bagian timur.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini menyediakan sistem dengan konsep baru mengenai aktivitas gunung berapi:
Soputan merupakan salah satu gunung api paling aktif di Sulawesi. Kerapkali gunung ini meletus dalam rentang waktu beberapa tahun sekali.
Dari 127 gunung api aktif di Indonesia, saat ini satu gunung berstatus awas, yaitu Gunung Sinabung, empat berstatus siaga, yakni Soputan, Bromo, Karangetang dan Lokon, sementara 15 gunung berstatus waspada.
Gunung Api Paling Berbahaya dan Mematikan
Di seluruh dunia terdapat 1.500 gunung api aktif, yang erupsinya dalam dua abad terakhir menewaskan ratusan ribu orang. Indonesia dengan 130 gunung api aktif, memegang rekor letusan terdahsyat dan korban terbanyak.
Foto: picture-alliance/dpa
Tambora, Indonesia
Letusan gunung Tambora di Sumbawa tahun 1815 memuntahkan jutaan kubik meter material ke atmosfir, yang menyebabkan Eropa pada 1816 mengalami tahun tanpa musim panas. Sedikitnya 92.000 orang tewas akibat erupsi. Sekitar 100.000 korban lain tewas di Eropa dan Amerika akibat kelaparan yang dipicu gagal panen gara-gara abu letusan Tambora menyebabkan musim dingin panjang.
Foto: picture-alliance/AP
Krakatau, Indonesia
Letusan gunung Krakatau 27 Agustus 1883 menyemburkan material ke atmosfir hingga ketinggian 20 km. Debu vulkaniknya tersebar ke seluruh dunia dan erupsi memicu tsunami dahsyat. Dentumannya terdengar hingga ke Mauritius yang jaraknya 4.800 km. Sedikitnya 36.000 orang meninggal akibat letusan tersebut. Kini dari bekas kaldera muncul gunung Anak Krakatau.
Foto: AP
Mt. Pelee, Martinique Perancis
Letusan dahsyat yang terjadi mulai 25 April hingga mencapai puncaknya 8 Mei 1902 menewaskan lebih 40.000 orang di pulau kawasan Antilles Kecil milik Perancis. Gunung api yang diduga sudah mati itu tiba-tiba aktif dan melontarkan isi dapur magmanya. Letusan final tanggal 8 Mei sangat hebat, sehingga meluluhlantakkan kota St. Pierre. Hanya dua orang warga kota yang selamat dari kematian.
Foto: K. Tribouillard/AFP/Getty Images
Vesuvius, Italia
Erupsi yang dicatat sebagai paling dramatis dalam sejarah dunia, adalah letusan gunung Vesuvius di Italia pada tahun 79 Masehi. Akibat letusan, kota-kota Pompeii, Herculaneum dan Stabia hancur dan lebih dari 10.000 orang tewas dilanda awan dan lahar panas. Sementara letusan tahun 1631 tercatat menewaskan lebih 6.000 orang.
Foto: Imago
Kelud, Indonesia
Letusan gunung Kelud 19 Mei 1919 menghancurkan lebih dari 100 desa dan menewaskan sedikitnya 5.000 orang. Saat erupsi, 38 juta kubik meter air dilontarkan dari danau kawah. Letusan terakhir terjadi 2014 yang membuat sengsara warga di sekitar Blitar hingga ke Yogyakarta.
Foto: Reuters
Nevado del Ruiz, Columbia
Gunung api ini sebetulnya sudah melontarkan sinyal akan meletus hebat, dengan tremor dan gempa kecil terus menerus. Tapi pemerintah Columbia mengabaikannya, hingga sebuah erupsi hebat tanggal 13 November 1985 malam, menyemburkan lava, lahar panas serta lahar dingin yang menimbun kota Armero. Sedikitnya 23.000 orang tewas akibat letusan gunung api tersebut.
Foto: picture-alliance/dpa/Ingeominas
Merapi, Indonesia
Gunung Merapi di dekat Yogyakarta yang berpopulasi padat terkenal sebagai gunung api paling aktif dalam beberapa dekade terakhir ini. Erupsi yang terjadi tahun 1930 tercatat menelan korban terbanyak, 1.300 tewas. Letusan tahun 2010 yang merupakan erupsi terhebat sejak 1872 menewaskan sedikitnya 350 orang.
Foto: picture alliance/dpa
Mount Nyiragongo, Republik Demokrasi Congo
Gunung berapi yang berlokasi di Virunga National Park dekat perbatasan antara Republik Demokrasi Congo dan Ruanda ini terkenal karena danau lava cairnya dengan diameter sekitar 1,2 km. Erupsi yang terjadi 2002 meluluhlantakan kota Goma dengan aliran lava cairnya. Sejarah mencatat erupsi, gunung api Nyiragongo menyumbang kontribusi 40% dari seluruh kasus letusan gunung api di benua Afrika.
Foto: AP
Unzen, Jepang
Erupsi gunung api Unzen pada tahun 1792 dicatat sebagai salah satu bencana alam terhebat dalam sejarah Jepang. Letusan Unzen yang berlokasi dekat kota Nagasaki itu memicu tanah longsor dan tsunami. Sedikitnya 15.000 orang tewas akibat kombinasi bencana alam letusan gunung api, tanah lonsor dan tsunami.
Foto: picture-alliance/dpa
Laki Volcanic System, Islandia
Erupsi berlangsung 8 bulan mulai 8 Juni 1783 hingga Februari 1784 muntahkan lebih dari 14,7 kubik kilometer lava dan sebabkan munculnya retakan sepanjang 27 kilometer. Tapi sekitar 9.500 korban tewas bukan diakibatkan lontaran material vulkanik padat, melainkan akibat dilanda gas beracun yang juga dilontarkan ke atmosfir dan memicu hujan asam, yang membunuh ribuan hewan ternak dan meracuni tanah.