1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Alam Semesta Mengembang Semakin Cepat

4 Oktober 2011

Saul Perlmutter, Brian P.Schmidt dan Adam G.Riess meraih penghargaan Nobel Fisika atas temuannya mengenai percepatan pengembangan alam semesta dengan mengamati supernova.

Ledakan sebuah bintang besar atau Supernova.Foto: picture-alliance/ dpa


Alam semesta terbukti terus mengembang semakin cepat dengan akselerasi konstan. Sejak lama diketahui bahwa alam semesta terus mengembang. Para pakar astronomi dan astro-fisika juga memperkirakan, pengembangan alam semesta terus mengalami akselerasi, digerakkan oleh apa yang disebut energi dan materi gelap. Namun hingga kini belum diketahui secara rinci apa energi gelap ini. Berdasarkan perhitungan, diperkirakan energi dan materi gelap ini volumenya sekitar 75 persen dari massa alam semesta.

“Para ilmuwan sejak seabad lalu meyakini, alam semesta terus mengembang. Hal itu merupakan konsekuensi dari dentuman besar yang terjadi 14 milyar tahun lalu. Tapi sejauh ini belum diyakini sepenuhnya bahwa pengembangannya juga terus dipercepat,” kata Lars Brink dari Komite Nobel di Stockholm.

Akselerasi Konstan

Saul Perlmutter , Adam G. Riess, Brian P. Schmidt.Foto: picture alliance/dpa/DW-Montage

Kini pakar astro-fisika Perlmutt (52) dari Lawrence Berkeley National Laboratory di California AS, bersama Schmidt (44) dari Australian National University di Weston Creek, Australia dan Riess (42) dari John Hopkins University di Baltimore, AS dapat membuktikan, bahwa akselerasi pengembangan alam semesta juga berlaku terus menerus. Ketiga ilmuwan menyimpulkan hal itu, setelah mengamati supernova atau ledakan bintang  yang terjadi jauh di ujung alam semesta dalam riset masing-masing yang dilakukan secara terpisah.

Hasil riset terhadap lebih dari 50 supernova amat jauh menunjukkan, emisi cahaya yang dipancarkannya lebih lemah dari yang diperhitungkan. Hal itu membuktikan bahwa pengembangan alam semesta berlangsung dalam percepatan atau akselerasi yang juga terjadi terus menerus atau konstan.

Temuan para ilmuwan yang dianugerahi Nobel Fisika itu, membawa implikasi, bahwa alam semesta semakin lama akan semakin dingin. “Ini merupakan dampak dari pemuaian materi yang juga semakin dipercepat,“ kata Lars Bergstrom, sekretaris komite Nobel untuk bidang fisika.

Alam Semesta Cerai Berai

Dalam waktu beberapa milyar tahun ke depan, alam semesta akan menjadi amat besar, tetapi amat dingin dan sunyi. Kebalikan dari “dentuman besar“ atau “big bang“, pada akhir hidupnya, alam semesta mengalami apa yang disebut “robekan besar“ atau “big rip“, untuk menggambarkan tercerai berainya alam semesta yang kita kenal ini. Galaksi-galaksi akan terbang amat cepat, sehingga cahayanya tidak mampu bergerak melintasi alam semesta seperti yang dapat diamati sekarang. Dampaknya, langit akan terlihat gelap.

Komite Nobel menyebutkan, temuan Perlmutt, Schmidt dan Riess itu juga menegaskan bahwa asumsi Albert Einstein mengenai konstanta alam semesta yang ia tambahkan pada teori relativitas umumnya, terbukti benar.

Agus Setiawan/ap/dpa/dapd/afp

Editor : Vidi Legowo-Zipperer