Kenapa Boateng, Hummels dan Müller Terpaksa Pensiun Dini?
6 Maret 2019
Pelatih timnas sepak bola Jerman Joachim Löw secara mengejutkan mencoret tiga pemain bintang dari kadernya. Dia dikatakan ingin bentuk tim yang lebih muda.
Foto: Imago/DeFodi/T. Hiermayer
Iklan
"2019 adalah tahun untuk awal baru di tim nasional Jerman," kata Joachim Löw saat menanggapi laporan dari tabloid Jerman Bild. Ia telah bertemu dengan trio Bayern, Jerome Boateng, Mats Hummels dan Thomas Müller di München untuk menyampaikan secara langsung keputusannya. "Penting bagi saya secara pribadi, meluangkan waktu untuk menjelaskan pemikiran dan rencana saya kepada para pemain dan kepada mereka yang bertanggung jawab di FC Bayern."
Boateng, Hummels dan Müller memainkan peran penting dalam kemenangan Piala Dunia Jerman di Brasil pada tahun 2014, tetapi mereka juga turut andil dalam kegagalan tim di babak grup musim panas lalu di Rusia.
Usai "tragedi" di Rusia, Löw dikecam keras karena dianggap gagal memberikan peluang kepada pemain cadangan yang masih muda.
Joachim Löw telah menukangi timnas Jerman sejak hampir 12 tahun. Kini pelatih berusia 58 tahun itu bersikeras melanjutkan kontraknya hingga 2022 meski hasil buruk di Rusia.
Foto: Getty Images/A. Hassenstein
Jarum Jam Berdetak Kembali
Tidak sedikit yang meyakini karir Joachim Löw sebagai pelatih tim nasional bakal berakhir seiring dengan tersingkirnya Jerman di babak penyisihan grup Piala Dunia 2018. Namun sang pelatih berpandangan lain. Ia menegaskan akan melanjutkan kontrak kerjanya hingga Piala Dunia 2022 di Katar. Niat Löw didukung oleh Federasi Sepakbola Jerman, DFB.
Foto: Getty Images/A. Hassenstein
Kaki Kelas Dua
Karir Löw sebagai pemain tidak sedahsyat kiprahnya sebagai pelatih. Dari 52 laga Bundesliga yang ia lakoni sebagai striker untuk VfB Stuttgart, Eintracht Frankfurt dan Kalrsuhe SC. Löw hanya membukukan tujuh gol. Sebagian besar karirnya di lapangan hijau dihabiskannya bermain untuk Freiburg di divisi kedua Bundesliga.
Foto: picture alliance/dpa
Awal Karir di Swiss
Sejak sebelum memutuskan pensiun , Löw sudah menjajal karir sebagai pelatih. Awalnya ia menangani tim muda FC Winterthur di Swiss, di mana ia juga merumput hingga 1994. Pada 1995 ia kenbali ke Bundesliga sebagai asisten pelatih di Stuttgart, sebelum diangkat sebagai pelatih penuh setahun kemudian. Salah satu bekas pemainnya di sana, Thomas Schneider (ka.), kini menjadi asistennya di tim nasional
Foto: imago sportfotodienst
Hijrah ke Turki
Meski berhasil membawa Stuttgart memboyong gelar Piala Jerman pada 1997, Löw tetap kehilangan jabatannya. Pada 1998 ia menyebrang ke Turki buat melatih Fenerbahce. Di sana Löw juga hanya bertahan satu musim ketika klubnya hanya bertengger di peringkat ketiga klasemen akhir.
Foto: Imago
Sukses Berujung Pemecatan
Setelah sempat menangani Karlsruhe, Adanaspor dan Innsbruck, Löw melatih Austria Vienna pada 2003 dan sukses membawa klubnya itu bertengger di urutan pertama klasemen sementara. Namun manajemen klub memecat Löw sebelum masa kompetisi berakhir. Tanpanya, Austria Vienna gagal menjuarai liga nasional dan hanya terpaut satu angka dari peringkat pertama.
Foto: picture-alliance/dpa
Jogi dan Jürgen dalam Satu Atap
Nasib Löw mulai berbalik arah setelah Rudi Völler mengundurkan diri sebagai pelatih timnas setelah Jerman tersingkir di babak penyisihan grup Piala Eropa 2004. Jürgen Klinsmann yang diplot sebagai pelatih baru kemudian memboyong Joachim Löw sebagai asistennya.
Foto: picture-alliance/dpa/Hannibal
Menjemput Dongeng Musim Panas
Dengan memboyong talenta muda, termasuk kemunculan generasi baru pemain berlatarbelakang migran, Klinsmann dan Löw membawa Jerman menyongsong Piala Dunia 2006 di kandang sendiri. Meski akhirnya gagal di babak Semi Final, timnas Jerman banyak mendulang simpati dari penduduk. Lantaran kemeriahannya, putaran final 2006 hingga kini masih disebut sebagai "dongeng musim panas" oleh penduduk Jerman.
Foto: picture-alliance/dpa
Kekalahan Pahit di Austria
Löw mengambil alih kursi kepelatihan dari Jürgen Klinsmann pasca Piala Dunia 2006 dan membawa timnas Jerman melakoni turnamen besar pertamanya, yakni Piala Eropa 2008 di Austria. Löw yang sukses memboyong Jerman ke final harus menelan pil pahit seteah takluk 0:1 di tangan Spanyol.
Foto: Sven Simon/picture-alliance
Momok Spanyol di Afrika
Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan menjanjikan harapan besar buat skuad muda Jerman. Setelah mempermalukan Inggris (4:1) di babak 16 besar dan Argentina (4:0) di perempat final, Mesut Özil dkk. lagi-lagi menyerah 0:1 di tangan Spanyol pada babak semi final.
Foto: Stephane de Sakutin/AFP/Getty Images
Dijegal Italia di Piala Eropa
Pengalaman serupa dicatat Löw saat menghantar timnas Jerman ke Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina. Sempat memenangkan tiga laga di babak penyisihan grup dan mempermalukan Yunani 4:2 di babak perempat final, Jerman menyerah pada takdir setelah dikalahkan musuh bebuyutannya, Italia, 1:2. Padahal Die Mannschaft sempat mencatat rekor 15 kemenangan berturut-turut.
Foto: Jens Wolf/dpa/picture-alliance
Kampiun Dunia
Mimpi Löw baru terwujud pada Piala Dunia 2014 di Brazil. Jerman tidak hanya menaklukkan Portugal, Amerika Serikat, tetapi juga Ghana dan Perancis sebelum melumat Brazil 7:1 di hadapan pendukung sendiri. Di Final, Jerman yang berhadapan dengan Argentina menang lewat gol semata wayang Mario Götze di menit-menit terakhir.
Foto: picture-alliance/dpa/A.Gebert
Membumi di Perancis
Jerman yang diunggulkan di Piala Eropa 2016 di Perancis awalnya tampil memukau dengan membukukan dua kemenangan dan satu hasil seri di babak penyisihan grup, sebelum mengalahkan Slovakia dan Italia untuk berhadapan dengan tuan rumah di babak semi final. Sayangnya tim asuhan Löw takluk 0:2 dari Perancis.
Foto: picture-alliance/dpa/O. Weiken
Kemenangan Kecil
Adalah kemenangan Jerman di Piala Konfederasi 2017 yang membuat Die Mannschaft diunggulkan menggondol gelar kelima di Rusia. Betapa tidak? ketika tim lain menurunkan skuad utama, Löw memilih bertanding dengan pemain-pemain muda yang ia tarik dari skuad U23. Jerman memastikan gelar juara dengan mengalahkan Chile di final dengan skor tipis 1:0.
Foto: picture-alliance/M.Meissner
Catatan Terburuk dalam Sejarah
Setelah Brazil, Jerman adalah tim yang paling diunggulkan buat putaran final Piala Dunia 2018. Namun sejak kekalahan di laga pertama melawan Meksiko, timnas Jerman sudah mendulang badai kritik. Özill dkk. membutuhkan perpanjangan waktu buat mengalahkan Swedia, sebelum takluk 0:2 di tangan Korea Selatan. Hasil ini menjadi catatan terburuk Jerman sepanjang sejarah Piala Dunia.
Foto: picture-alliance/S.Matzke
14 foto1 | 14
"Pada tahun kualifikasi Piala Eropa 2020, kami mengirimkan sinyal yang jelas: para pemain muda tim nasional akan memiliki ruang yang mereka butuhkan untuk berkembang sepenuhnya," kata Löw. "Mereka yang harus bertanggung jawab sekarang."
"Saya berterima kasih kepada Mats, Jerome dan Thomas untuk tahun-tahun yang sukses dan luar biasa," lanjut Löw.
Boateng bereaksi lewat akun twitter pribadinya.
"Saya pribadi yakin bahwa saya masih bisa bermain di level tertinggi dan akan terus melakukannya," tulis bek itu. "Saya selalu sangat bangga mengenakan kaos tim nasional dan saya tidak akan pernah melupakan musim panas 2014. Tapi saya tentu mengharapkan perpisahan yang berbeda."
"Saya menyesalkan (bahwa) salah satu pemain Jerman terbaik dalam dekade terakhir harus meninggalkan tim nasional dengan cara itu. #Danke @ JB17Official," tulis Ozil di Twitter.
Nama-nama besar lainnya yang masih dipertahankan juga harus memperjuangkan posisinya. Kapten Jerman Manuel Neuer, 32, misalnya harus bersaing dengan kiper Barcelona Marc-Andre ter Stegen, 26.
"Saya mengatakan tahun lalu bahwa Manuel adalah nomor satu sekarang, tetapi tahun ini kami memiliki awal yang baru dan Marc akan mendapatkan peluangnya juga," kata Löw.
Opsi Löw untuk Hummels dan Boateng sebagai bek tengah adalah pemain Bayern Niklas Suele, 23, pemain Chelsea Antonio Ruediger, 26, dan Thilo Kehrer dari Paris Saint-Germain, 22.
Sementara barisan penyerang bisa diisi oleh striker Timo Werner, 22, diapit oleh pemain sayap Bayern München Serge Gnabry, dan Leroy Sane dari Manchester City, keduanya 23.
Jerman menjamu Serbia dalam pertandingan persahabatan pada 20 Maret di Wolfsburg sebelum bertandang ke Belanda untuk menjalani babak kualifikasi Euro 2020 pertama mereka 24 Maret mendatang.
vlz/na (AFP, DPA, Reuters)
Özil mengundurkan diri dari permainan internasional setelah menuduh dapat perlakuan rasis dari Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB). Gelandang tengah yang tenang dan berbakat itu telah menarik banyak penggemar setia.
Özil bergabung dengan tim muda Bundesliga Schalke 04 di kampung halamannya Gelsenkirchen pada 2005. Keberhasilannya di panggung internasional datang lebih cepat, ia memenangkan kejuaraan Eropa U21 dengan tim Jerman tahun 2009.
Foto: Imago/Team 2
Berawal dari Bremen
Karir klub Özil juga tidak mengecewakan. Mereka menggambarkannya sebagai "hal besar berikutnya." Keluar dari Schalke karena alasan gaji, Özil lalu pindah ke Werder Bremen pada 2008. Penampilannya yang luar biasa untuk tim Jerman di Piala Dunia 2010 menarik perhatian klub-klub terbaik Eropa. Ia dijual ke Real Madrid pada 2010 kemudian pindah ke tim Inggris Arsenal dengan rekor klub 50 juta Euro.
Foto: Imago/Sven Simon
Simbol keberhasilan integrasi
Tahun 2010 Özil memenangkan Bambi - penghargaan media bergengsi di Jerman - sebagai contoh cemerlang integrasi di Jerman. Lahir sebagai seorang Jerman generasi ketiga, ia selalu menyatakan bangga akan asal-usulnya di Turki, sambil menekankan bahwa hidupnya dikhususkan untuk Jerman. Sebagai seorang Muslim yang taat, ia pernah memposting foto dirinya berhaji ke Mekah pada 2016.
Foto: picture-alliance/dpa/B. Pedersen
Raja di hati para penggemarnya
Özil bertemu Kanselir Angela Merkel setelah mengalahkan Turki tahun 2012. Ia menarik banyak penggemar setia karena kepribadiannya yang tenang dan sederhana serta gemar melakukan kegiatan filantropi. Tahun 2014 ia dipuji karena menyumbangkan kemenangan Piala Dunia 2014 bagi anak-anak Brasil yang membutuhkan operasi penyelamatan jiwa dan bertemu dengan anak-anak pengungsi Suriah di Yordania.
Özil mengikuti semua tujuh pertandingan sukses Piala Dunia Jerman di Brasil pada 2014. Dikenal sebagai "playmaker Joachim Löw," gelandang tengah ini memiliki hubungan dekat dengan pelatih nasional Jerman tersebut. Secara total sepanjang karir untuk timnas Jerman, ia telah memainkan 92 pertandingan, mencetak 23 gol, dan mencatatkan 40 umpan matang.
Foto: picture-alliance/GES/M. Gillar
Kontroversi Erdogan
Özil pernah bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan beberapa kali, yang terakhir yaitu Mei 2018. Pertemuan ini menghasilkan foto bersama yang akhirnya banyak dikritik di Jerman. Mulai dari politisi kiri yang menganggapnya mendukung pemimpin otoriter, dan politisi kanan yang menuduhnya kurang loyal terhadap Jerman.
Foto: picture-alliance/dpa/Presidential Press Service
Berakhirnya sebuah masa
Jerman tersingkir di babak penyisihan grup Piala Dunia 2018 di Rusia - ini adalah kinerja terburuk dalam beberapa dekade. Presiden Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB), Reinhard Grindel, berusaha menyangkal kritik terhadap dirinya dengan menyalahkan pertemuan Özil dengan Erodgan untuk mengalihkan perhatian tim. Reaksi Grindel ini menuai kritik keras dari politisi dan penggemar sepak bola Jerman.
Foto: picture-alliance/Photoshot
'Kalau menang saya orang Jerman, tapi sewaktu kalah saya imigran'
Özil mengeluarkan unek-unek lewat Twitter sambil menyatakan mengundurkan diri dari permainan internasional pada Juli 2018, saat ia masih berusia 29 tahun. "Saya tidak mau lagi menjadi kambing hitam karena ketidakbecusannya," kata Özil merujuk kepada Grindel. Ia menuduh presiden DFB itu rasis, tapi mengucapkan terima kasih kepada Löw dan rekan di tim Jerman atas dukungan mereka.