1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ali Khamenei: Pemimpin Iran yang Ingin Hancurkan Israel

2 Maret 2026

Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sejak tahun 1989, tewas dalam serangan udara Israel di usia 86 tahun. Selama berkuasa, ia menentang upaya modernisasi Republik Islam.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berbicara dalam sebuah pertemuan di Teheran, Iran, pada 3 Januari 2026
Sebelum Revolusi Islam 1979, Khamenei beberapa kali dipenjara karena menentang Shah yang berkuasa kala ituFoto: Office of the Iranian Supreme Leader/WANA/REUTERS

Ayatollah Ali Khamenei melakukan segala upaya untuk memastikan berakhirnya Negara Israel. Ia berulang kali menyebut Israel sebagai "negara yang tidak sah" dan menekankan dukungan Iran untuk "pembebasan Palestina." Sebagai pemimpin ideologis dari apa yang disebut "Poros Perlawanan," ia membentuk aliansi dengan pasukan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, Yaman, dan wilayah Palestina setelah menjabat pada tahun 1989. Tujuan utamanya: penghancuran Israel.

Namun, apa yang disebut Poros tersebut mulai runtuh setelah serangan teroris Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Tentara Israel merespons dengan serangan besar-besaran, tidak hanya terhadap Hamas di Gaza, tetapi juga terhadap target di Lebanon, Suriah, Yaman, dan akhirnya di wilayah Iran. Khamenei selamat dari serangan pada Juni 2025, tetapi tidak dari serangan besar-besaran oleh AS dan Israel pada 28 Februari 2026.

"Wakil Tuhan di Bumi"

Isyarat kecil terkadang menyampaikan makna besar. Dalam berbagai penampilannya sejak 2021, Ayatollah Ali Khamenei semakin sering merujuk pada dirinya sendiri ketika berbicara tentang negara.

Pada akhir 2023, ia bahkan mengatakan bahwa Tuhan telah berbicara melalui dirinya. Ia mengingat bagaimana lebih dari 20 tahun yang lalu, ia mulai membagikan pesan yang menginspirasi kepada para perwira Garda Revolusi yang menyertainya. "Tuhan Yang Maha Kuasa telah berbicara! Memang lidah saya yang bergerak, tetapi kata-kata itu adalah kata-kata Tuhan; itu adalah pertemuan yang sangat luar biasa,” klaim Khamenei. Ia menambahkan: "Hal itu memiliki dampak yang signifikan.”

Pemimpin politik dan agama tertinggi Iran itu tampaknya meyakini bahwa dirinya adalah "wakil Tuhan di bumi.” Khamenei mengambil gelar ini pada tahun 1989 setelah kematian Ayatollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, sehingga menjadikannya kepala negara Iran seumur hidup.

Lahir pada tahun 1939 di Mashhad, sebuah kota suci bagi umat Syiah di bagian timur laut Iran, Khamenei memiliki kewenangan akhir dalam semua urusan negara selama lebih dari tiga dekade.

Dia tidak suka orang-orang mempertanyakan keputusan-keputusannya. Dia tidak pernah memberikan wawancara. Pada tahun 2018, seorang mahasiswa dijatuhi hukuman dua tahun penjara karena "mencemarkan nama baik pemimpin agama” setelah dia bertanya kepada Khamenei di depan kamera apakah pemimpin tertinggi boleh ditanyai.

Rezim Shah digulingkan oleh Revolusi Islam pada tahun 1979, membuka jalan bagi pendahulu Khamenei, Ayatollah Ruhollah KhomeiniFoto: United Press International/picture alliance

Menentang Shah dan bangkit setelah 1979

Khamenei menganggap dirinya sebagai penyair dan kritikus sastra. Ia menulis puisi di masa muda. Sebelum Revolusi Islam 1979, ia beberapa kali dipenjara karena menentang Shah yang berkuasa saat itu. Sebagai seorang tokoh sastra yang gemar merokok pipa, cendekiawan agama muda ini memberikan kesan yang cukup lembut di kalangan intelektual yang kritis terhadap rezim.

Setelah monarki tumbang dan Republik Islam berdiri, Khamenei dengan cepat naik pangkat dalam hierarki teokrasi.

Ia dikenal fasih berbicara dan menjadi khatib salat Jumat di Teheran, serta selamat dari upaya pembunuhan pada tahun 1981 oleh kelompok perlawanan yang dikenal sebagai Mujahidin Rakyat. Serangan tersebut menyebabkan tangan kanannya lumpuh.

Khamenei belajar menulis dengan tangan kirinya. Kemudian, ia naik pangkat menjadi anggota lingkaran kepemimpinan dalam lembaga keagamaan.

Ia menjabat sebagai presiden dari tahun 1981 hingga 1989, periode yang juga mencakup Perang Teluk Irak-Iran (1980-1987), yang mengakibatkan kerugian besar bagi kedua belah pihak.

Sebagai pemimpin tertinggi, Ali Khamenei memegang keputusan akhir dalam pemerintahan IranFoto: picture alliance/ASSOCIATED PRESS

Pilar kekuasaan Khamenei

Ia pernah mengatakan bahwa dirinya tahu bagaimana rasanya hidup di bawah diktator dan menjadi korban teror. Dia merujuk pada masa pemerintahan Shah, sambil mengabaikan pelanggaran hak asasi manusia besar-besaran yang terjadi di bawah kepemimpinannya sendiri.

Basis dukungan utama Khamenei adalah Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), organisasi paramiliter yang dibentuk pada 1979 untuk "melindungi revolusi.”

Di bawah pengawasannya, IRGC berkembang pesat hingga menjadi kekuatan militer utama negara, dengan angkatan darat, laut, dan udara sendiri, serta sayap intelijen dan unit khusus untuk misi luar negeri.

IRGC, yang juga mengendalikan sebagian industri minyak dan gas Iran melalui kelompok konstruksi Khatam al-Anbiya, merupakan negara dalam negara. Pasukan paramiliter ini memungkinkan pemimpin tertinggi untuk menerapkan kehendaknya dengan melampaui presiden dan parlemen.

Amerika Serikat sebagai "musuh nomor satu”

Sepanjang hidupnya, Khamenei mempertahankan gaya hidup sederhana, meski ia membiarkan orang-orang di sekitarnya menikmati keuntungan dari sistem ekonomi korup negara tersebut.

Di tengah pandemi Covid-19, para penasihat terdekatnya berjanji mengembangkan vaksin Iran terhadap SARS-CoV-2. Proyek itu menghabiskan sekitar US$1 miliar (sekitar Rp15,5 triliun), tetapi gagal menghasilkan vaksin.

Bagi jutaan warga Iran yang kehilangan anggota keluarga selama pandemi, Khamenei dinilai bertanggung jawab atas buruknya penanganan krisis kesehatan, dan menuduh bahwa virus corona adalah senjata biologis Amerika Serikat (AS) yang telah dimodifikasi secara genetik untuk menyerang Iran. Menguatkan pendirian ini, Khamenei melarang pemerintah Iran mengimpor vaksin yang dikembangkan di AS dan Inggris.

Ayatollah Khamenei memandang Republik Islam sebagai satu-satunya kekuatan perlawanan sejati terhadap "imperialis” Barat, dan ia bermimpi tentang Iran Syiah yang kuat di dunia Islam. Pidatonya dipenuhi dengan istilah ‘musuh', dan musuh utama selalu adalah AS.

"Amerika adalah musuh utama bangsa kita,” katanya selalu.

Program nuklir dan rudal Iran yang kontroversial didirikan di bawah kepemimpinannya. Fakta bahwa ia melarang produksi dan penggunaan senjata nuklir dengan fatwa, sebuah pendapat hukum Islam, tidak meyakinkan siapa pun di panggung internasional. Ia hanya mengizinkan negosiasi untuk membatasi program nuklir Iran setelah Iran telah memperoleh cukup pengalaman dan pengetahuan untuk dapat meningkatkan kembali program ini kapan saja.

Harga yang harus dibayar oleh negara dan rakyat Iran akibat sikap tak kompromi Khamenei adalah isolasi internasional dan sanksi ekonomi yang ketat.

Demonstrasi rutin di seluruh Iran yang menuntut kebebasan politik dan sosial yang lebih besar ditumpas dengan brutal selama pemerintahannya, begitu pula kerusuhan yang disebabkan oleh penderitaan ekonomi. Represi terhadap perempuan juga mencapai skala baru di bawah kepemimpinan Khamenei. Sementara itu, emigrasi talenta muda dan akademisi mencapai rekor tertinggi. Semua harapan untuk perubahan dan reformasi yang berkelanjutan dalam sistem politik Iran yang ada pupus di bawah kekuasaannya.

Seiring bertambahnya usia Khamenei, ia menjadi semakin tidak toleran dan penuh dendam; lingkaran orang-orang kepercayaannya pun semakin mengecil. Tidak ada ruang bagi hal-hal yang tidak ia sukai. Para kritikusnya — dan bukan hanya mereka — meragukan apakah ia menyadari besarnya ketidakpuasan publik terhadap sistem politik, betapa banyak kepercayaan yang hilang terhadap otoritas agama, dan beratnya kondisi ekonomi dan sosial masyarakat. Ia tidak menunjukkan minat untuk berdialog dengan rakyat.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman.

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: Melisa Lolindu

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya