1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Amankah Produk Makanan Cina?

20 Juli 2007

Cina mengalami pertumbuhan perekonomian yang luar biasa pesatnya, namum negara itu masih saja mengabaikan mutu makanan juga yang diekspor.

Foto: AP

Isu makanan beracun asal Cina yang mengakibatkan sejumlah binatang mati dan menyebabkan penyakit pada manusia sejak beberapa pekan lalu semakin mencuat di Jepang. Pertengahan Juli lalu Kementerian Kesehatan Jepang memulangkan 25 ton jahe ke Cina karena mengandung bahan pestisida tingkat tinggi dan tidak memenuhi standar Jepang. Konsumen Jepang kini semakin waspada membeli makanan asal Cina. Mislanya Megumi Nakamura, ibu dua putra menceritakan:

„Beberapa hari lalu saya membaca di koran roti-roti kecil yang dijajakan di pasar Cina isinya ternyata dibuat dari kertas. Sekarang kalau saya belanja, saya perhatikan negara asal produknya. Produk Cina memang sangat murah. Satu bawang putih Jepang harganya kira-kira 200 Yen, sedangkan dengan harga yang sama bisa dapat empat sampai lima bawang putih dari Cina. Tapi saya tidak akan beli yang dari Cina.“

Namun isu makanan beracun asal Cina juga mencuat di negara-negara lain. Di Amerika Serikat sejumlah anjing mati karena makanannya mengandung melamin. Bahan itu dipakai untuk membuat plastik. Hal ini mengakibatkan berbagai produk Cina ditarik dari pasar Amerika Serikat. Produk makanan Cina seperti ikan, teh dan jamur dinilai sangat berbahaya. Bahkan ada perusahaan yang mencantumkan pada produknya tulisan „China free“ untuk meyakinkan para konsumen bahwa produk mereka tidak mengandung bahan asal Cina.

Sementara pemerintah Cina menganggap reaksi itu berlebihan. Mereka menyebutkan 99 persen produk yang diekspor memenuhi standar internasional. Sedangkan produk yang dianggap beracun itu adalah produk ilegal.

Roger Skinner utusan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, memaparkan bahwa pengawasan makanan di Cina kurang ketat. Ia menuturkan:

„Konstitusi Cina menyangkut makanan sama sekali tidak menyebutkan bahwa makanan itu tidak boleh membahayakan keselamatan manusia dan binatang. Sebuah harian yang memuatkan artikel yang mengutip sebuah perusahaan makanan hewan, berisi: Selama hukum tidak melarang, melamin tetap akan digunakan. Ini salah. Seharusnya mereka bilang: Karena saya memproduksi makanan, maka saya harus menjamin produk yang aman – apakah itu diatur oleh hukum atau tidak.“

Skinner menuntut dari pemerintah Cina agar pengawasan makanan ditingkatkan. Ia mengatakan:

“Jika Cina mengekspor makanan, maka harus memenuhi peraturan negara tujuan.”

Pejabat WHO Skinner menekankan, dalam hal ini konsumenlah yang sebenarnya lebih berkuasa. Jika para konsumen menghindari makanan Cina karena takut, maka pemerintah Cina tidak bisa mengabaikan masalah ini.

Karena isu makanan beracun asal Cina menimbulkan kekhawatiran di sejumlah negara akhirnya pemerintah Cina bereaksi juga dan mulai menutup beberapa perusahaan makanan hewan yang kandungannya berisikan bahan beracun.