Trump Ancam Hantam Iran dalam Dua pekan, Teheran Membalas
2 April 2026
Dalam pidato utama dari Gedung Putih pada Senin malam (1/4) waktu setempat, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa operasi militer Washington hampir mencapai tujuan utamanya, tetapi serangan terhadap Iran akan terus berlanjut dalam waktu dekat.
“Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan,” kata Trump. “Kami akan membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada.”
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menghancurkan angkatan laut dan angkatan udara Iran serta melumpuhkan program misil balistik dan nuklir negara tersebut. Ia menegaskan Washington memiliki keunggulan penuh dalam konflik ini.
“Kami memegang semua kartu. Mereka tidak memiliki apa pun,” ujar Trump.
Namun, Trump tidak memberikan jadwal yang jelas mengenai kapan perang akan berakhir. Ia juga tidak menjelaskan status uranium yang diperkaya Iran maupun bagaimana jalur perdagangan energi global di Selat hormuz akan dibuka kembali.
Trump sebelumnya mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali selat tersebut.
Di sisi lain dukungan publik di AS terhadap perang melawan Iran dilaporkan menurun seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak ekonomi konflik tersebut.
Survei yang dilakukan oleh Ipsos untuk Reuters menunjukkan bahwa 60% pemilih Amerika tidak menyetujui perang tersebut, sementara hanya 35% yang mendukungnya.
Sebanyak 66% responden mengatakan Amerika Serikat seharusnya berusaha mengakhiri keterlibatannya dalam konflik secepat mungkin, bahkan jika itu berarti tidak semua tujuan perang tercapai.
Pidato Presiden Donald Trump pada Rabu malam tidak banyak menjawab kekhawatiran tersebut. Dalam pidato itu, Trump tidak memberikan jadwal jelas untuk mengakhiri konflik, meskipun menyatakan tujuan militer hampir tercapai.
Iran balas ancaman dengan serangan rudal
Teheran menanggapi pidato Trump dengan keras. Iran menembakkan rudal ke Tel Aviv, memicu sistem pertahanan udara Israel dan sirene serangan udara di kota tersebut. Komando militer Iran Khatam Al-Anbiya memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan Israel harus bersiap menghadapi serangan yang lebih besar.
“Dengan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, perang ini akan terus berlanjut hingga kalian mengalami penghinaan, aib, penyesalan yang permanen dan pasti, serta menyerah,” demikian pernyataan militer Iran.
Serangan terbaru terjadi ketika warga Yahudi di Israel merayakan Passover, hari raya penting dalam tradisi Yahudi yang memperingati pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir kuno. Hal ini membuat sebagian warga merayakan perayaan tersebut di bunker perlindungan.
Sementara itu, kelompok militan Hizbullah juga meluncurkan drone dan roket dari Lebanon ke Israel utara. Menurut otoritas Lebanon, serangan Israel di negara itu sejak awal konflik telah menewaskan lebih dari 1.300 orang.
Di Iran sendiri, pejabat pemerintah mengecam pidato Trump sebagai pernyataan yang tidak masuk akal. Seorang juru bicara presiden Iran mengatakan ucapan tersebut justru memperkuat tekad negara itu.
“Trump terjerat dalam pernyataan-pernyataan yang tidak masuk akal,” kata Elias Hazrati di televisi pemerintah Iran.
Harga energi naik, pasar keuangan tertekan
Pidato Trump gagal meredakan kekhawatiran pasar global. Harga minyak melonjak tajam setelah pernyataan tersebut.
Minyak Brent naik hingga sekitar $106–108 atau sekitar sekitar Rp1,8 juta per barel, sementara minyak mentah AS melampaui $104 per barel. Harga bensin di Amerika Serikat juga naik di atas $4 per galon, pertama kali sejak 2022.
Kenaikan harga energi diperkirakan akan menyebar ke sektor lain. Para analis memperingatkan bahwa biaya bahan bakar yang lebih tinggi akan mendorong kenaikan harga bahan pangan karena meningkatnya biaya transportasi dan kemasan.
Pasar saham Asia juga jatuh setelah pidato Trump. Indeks Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan turun tajam, mencerminkan kekhawatiran investor bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama.
Menurut analis pasar Stephen Innes dari SPI Asset Management, pesan dari pidato Trump menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari selesai.
“Pesan yang disampaikan jelas menunjukkan bahwa urusan ini belum selesai,” katanya. “Dan di pasar keuangan, urusan yang belum selesai adalah oksigen bagi volatilitas.”
Kekhawatiran juga datang dari lembaga internasional. Direktur pelaksana Bank Dunia Paschal Donohoe mengatakan perang tersebut berpotensi memperburuk inflasi, lapangan kerja, dan ketahanan pangan global.
Di berbagai negara, dampaknya sudah terasa. Maskapai di Cina menaikkan biaya bahan bakar, pegawai negeri di Malaysia diminta bekerja dari rumah untuk menghemat energi, sementara negara kecil seperti Bhutan mengalami antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar.
“Kami tidak berdaya,” kata Karma Kalden, warga ibu kota Bhutan, Thimphu, ketika harga bahan bakar melonjak.
Dengan serangan yang masih berlangsung dan jalur energi utama dunia terancam, konflik Iran dengan AS–Israel kini tidak hanya menjadi krisis regional, tetapi juga ancaman bagi stabilitas ekonomi global.
Editor: Yuniman Farid