Amerika Serikat dan Cina Saling Membutuhkan
21 Januari 2011
Menanggapi kunjungan Presiden Cina Hu Jintao di Amerika Serikat, harian Perancis Le Monde menulis:
Kunjungan kepala negara dan pimpinan Partai Komunis Cina Hu Jintao di Washington terutama menegaskan satu hal: Hubungan antara Cina dan Amerika Serikat memang sarat konflik. Untuk pertama kalinya sejak waktu yang lama, Amerika harus berhadapan dengan kekuatan lain yang mampu bersaing dengannya, baik dalam bidang ekonomi dan militer, maupun dalam bidang ilmu pengetahuan dan budaya. Raksasa Cina sudah mengubah peta perekonomian dunia. Sekarang ia ingin menjadi kekuatan strategis, tidak hanya di kawasan regionalnya. Jadi memang ada konflik, gesekan dan ketegangan. Jasa Obama adalah, tidak menyembunyikan kenyataan ini.
Harian Swiss Neue Zürcher Zeitung berkomentar:
Ini adalah demonstrasi kelebihan sebuah masyarakat yang terbuka. Para jurnalis Amerika Serikat dengan gamblang melemparkan pertanyaaan soal soal hak asasi manusia kepada kedua politisi. Obama dengan cerdik menyinggung soal ketimpangan antara hukum dan harapan, antara idealisme dan apa yang mampu dicapai secara maksimal. Sementara pemimpin partai komunis membacakan pandangannya tentang kedaulatan sebuah negara dan menolak campur tangan luar. Menurut stasiun siaran BBC, di Cina bagian pembicaraan ini terkena sensor. Mungkin ini adalah sebuah kemajuan, bahwa Hu Jintao mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan kritis dari media yang tidak diawasi oleh pemerintah.
Harian Jerman Stuttgarter Zeitung menulis:
Apakah Cina akan jadi musuh utama pada abad ke 21? Prasyarat untuk hidup berdampingan secara damai sebenarnya lebih baik daripada era perang dingin dengan Uni Soviet. Ekonomi Amerika Serikat dan Cina saling terkait erat, sehingga keduanya harus mempertahankan keseimbangan. Mengamati pertemuan puncak ini, dapat dikatakan, tidak ada terobosan besar. Tapi hubungan antara kedua negara jadi lebih baik, setelah sebelumnya ada guncangan. Kerjasama ekonomi sekarang lancar. Dalam krisis global lain, dari soal ambisi nuklir Iran dan Korea Utara sampai soal perlindungan iklim, Washington dan Beijing masih akan telibat diplomasi alot.
Harian Jerman lain, Leipziger Volkszeitung menulis:
‚Seekor anjing memburu tikus', itu mungkin yang muncul di benak pimpinan Cina Hu Jintao, ketika ia lagi-lagi dikonfrontasikan dengan tema hak asasi manusia. Peribahasa Cina ini menggambarkan orang yang mengurus hal yang sebenarnya bukan urusannya. Tapi Hu memberi jawaban lain. Ia mengatakan, dalam hal hak asasi manusia, memang masih banyak yang harus dilakukan di Cina. Untuk ukuran Cina, ini sudah sangat banyak, sekalipun tidak mengubah kenyataan di lapangan.
Hendra Pasuhuk/dpa/afp
Editor: Kostermans