1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Amerika Serikat Setelah Pemilu

11 November 2008

Proses peralihan kepemimpinan AS dibayangi krisis keuangan, dua perang yang belum berakhir, ancaman teroris serta harapan besar yang dipicu terpilihnya presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat.

Bakal Presiden AS ObamaFoto: AP

Media internasional menyoroti situasi di Amerika Serikat pasca pemilu presiden yang dimenangkan Barack Obama.

Harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma menulis:

Bila Senin ini (10/11) George W. Bush menerima Barack Obama di Oval Office Gedung Putih, Amerika Serikat memasuki masa serah terima kekuasaan yang terpenting dalam sejarahnya selama 70 tahun silam. Serah terima ini juga menjadi proses tersulit karena dibayangi krisis keuangan, dua perang yang belum berakhir, ancaman teroris serta harapan besar yang dipicu terpilihnya presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat. Masa peralihan antara presiden yang akan meletakkan jabatan dan presiden terpilih kerap dibandingkan dengan situasi tahun 1933, saat Demokrat Franklin Delano Roosevelt mengambil alih tampuk kepresidenan dari Herbert Hoover. Saat itu, presiden yang baru juga menghadapi krisis ekonomi global terparah.

Surat kabar Inggris The Independent berkomentar:

Masa peralihan yang panjang antara pemilihan serta pengangkatan sumpah presiden juga memicu rasa frustasi banyak orang di luar negeri yang mengharapkan perubahan segera dalam politik luar negeri Amerika Serikat. Obama menjanjikan perubahan dalam dua aspek yang dapat berdampak langsung pada suasana internasional. Ia ingin menormalisir hubungan dengan Kuba dan siap berdialog langsung dengan Iran. Ucapan selamat Iran atas terpilihnya Obama mengisyaratkan bahwa Teheran menyimpan minat. Yang tak boleh dilupakan adalah bahwa tatanan kekuasaan tetap berlaku. Sampai ia diangkat sumpahnya, Obama hanyalah seorang warga Amerika Serikat yang dilindungi secara khusus oleh negara. Di Amerika Serikat, yang memerintah hanyalah sang presiden.


Harian Jerman Frankfurter Allgemeine menyoroti tugas kenegaraan yang menanti Obama.

Dalam waktu sepuluh minggu lagi, presiden terpilih Obama akan menjadi Presiden AS Obama. Sampai saat itu tiba, tanggung jawab pemerintahan tetap berada di tangan Bush. Tanpa menarik persamaan dengan sejarah pun terlihat bahwa situasi ekonomi saat ini sangat buruk. Karena itu, Obama tak dapat membuang-buang waktu. Karena itu pula Presiden Bush harus bertindak penuh tanggung jawab dalam dua bulan mendatang. Pertemuan keduanya di Gedung Putih tak hanya sarat makna simbolis saja. Alangkah baiknya bila Obama menerima uluran tangan Bush yang menawarkan kerja sama seluas-luasnya, kerja sama yang sesuai dengan sikap lintas partai yang dijanjikan Obama. (zer)