1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ancaman Siber Berbasis AI Kini Kian Nyata

Zac Crellin sumber: AFP, Reuters
28 Agustus 2026

Kekhawatiran terhadap keamanan siber dunia meningkat setelah sejumlah model AI dilaporkan lepas kendali dan menerobos sistem beberapa organisasi.

Beberapa aplikasi AI di layar sebuah ponsel pintar
Perusahaan AI menginginkan lebih banyak uang dan sumber daya dialokasikan untuk pertahanan siberFoto: Philip Dulian/dpa/picture alliance

Ratusan perusahaan, termasuk raksasa AI seperti OpenAI, Anthropic, Google dan Perplexity, menandatangani surat terbuka yang menyerukan upaya global untuk memperkuat pertahanan menghadapi ancaman siber berbasis AI.

"Kita memiliki waktu yang terbatas untuk memperkuat pertahanan siber,” demikian isi surat tersebut. Dalam beberapa bulan mendatang, serangan siber yang berbasis AI diperkirakan menjadi jauh lebih luas dan canggih seiring kemampuan model AI di seluruh dunia terus berkembang.

Penandatangan lainnya termasuk Adobe, AMD, Cisco, Dell, Oracle, IBM, raksasa teknologi Jerman SAP, serta Deutsche Telekom.

Desakan pendanaan dan sumber daya untuk keamanan siber

Perusahaan-perusahaan tersebut menyerukan respons yang lebih luas. Perusahaan pengguna teknologi diminta memperkuat sistem keamanan mereka, sementara perusahaan AI didorong mengembangkan alat pemantauan dan keamanan baru untuk menghadapi ancaman siber berbasis AI.

Mereka juga meminta pemerintah negara membiayai upaya untuk menghadapi ancaman siber baru, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Perusahaan Asal Cina Kenalkan Robot Baru “Superman”

00:18

This browser does not support the video element.

"Alokasikan dana untuk pertahanan siber, terutama bagi layanan penting yang tak memiliki cukup staf maupun anggaran,” demikian isi surat itu.

Di Amerika Serikat, pemerintahan Donald Trump tahun lalu memangkas anggaran dan personel Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA), dengan jumlah staf yang berkurang sekitar sepertiga.

Surat tersebut juga mendesak pemerintah memperluas akses tepercaya terhadap sistem dan jaringan penting, terutama infrastruktur penting, serta memperluas akses terhadap kemampuan pertahanan siber.

Ketika AI mulai "lepas kendali”

Bulan lalu, OpenAI mengatakan dua model AI milik mereka lepas kendali dan keluar dari lingkup lingkungan pengujian, mengakses internet secara mandiri dan menyerang Hugging Face, platform yang digunakan pengembang AI untuk menyimpan dan berbagi kode.

Insiden itu mendorong Anthropic memeriksa apakah model mereka juga melakukan hal serupa. Ternyata, perusahaan tersebut menemukan tiga kasus ketika model Claude keluar dari lingkungan pengujian dan menembus sistem tiga organisasi.

Pada bulan Juni lalu, komunitas intelijen "Five Eyes” yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia dan Selandia Baru, mengeluarkan pernyataan bersama, suatu hal yang jarang terjadi. Mereka memperingatkan bahwa model AI baru "secara mendasar mengubah kemampuan siber, baik untuk menyerang maupun bertahan.”

"Perubahannya bukan akan terjadi dalam hitungan tahun, melainkan bulan,” demikian pernyataan tersebut.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Adelia Dinda Sani

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait