Perusahaan AI menginginkan lebih banyak uang dan sumber daya dialokasikan untuk pertahanan siberFoto: Philip Dulian/dpa/picture alliance
Iklan
Ratusan perusahaan, termasuk raksasa AI seperti OpenAI, Anthropic, Google dan Perplexity, menandatangani surat terbuka yang menyerukan upaya global untuk memperkuat pertahanan menghadapi ancaman siber berbasis AI.
"Kita memiliki waktu yang terbatas untuk memperkuat pertahanan siber,” demikian isi surat tersebut. Dalam beberapa bulan mendatang, serangan siber yang berbasis AI diperkirakan menjadi jauh lebih luas dan canggih seiring kemampuan model AI di seluruh dunia terus berkembang.
Penandatangan lainnya termasuk Adobe, AMD, Cisco, Dell, Oracle, IBM, raksasa teknologi Jerman SAP, serta Deutsche Telekom.
Desakan pendanaan dan sumber daya untuk keamanan siber
Perusahaan-perusahaan tersebut menyerukan respons yang lebih luas. Perusahaan pengguna teknologi diminta memperkuat sistem keamanan mereka, sementara perusahaan AI didorong mengembangkan alat pemantauan dan keamanan baru untuk menghadapi ancaman siber berbasis AI.
Mereka juga meminta pemerintah negara membiayai upaya untuk menghadapi ancaman siber baru, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Perusahaan Asal Cina Kenalkan Robot Baru “Superman”
00:18
This browser does not support the video element.
"Alokasikan dana untuk pertahanan siber, terutama bagi layanan penting yang tak memiliki cukup staf maupun anggaran,” demikian isi surat itu.
Surat tersebut juga mendesak pemerintah memperluas akses tepercaya terhadap sistem dan jaringan penting, terutama infrastruktur penting, serta memperluas akses terhadap kemampuan pertahanan siber.
Iklan
Ketika AI mulai "lepas kendali”
Bulan lalu, OpenAI mengatakan dua model AI milik mereka lepas kendali dan keluar dari lingkup lingkungan pengujian, mengakses internet secara mandiri dan menyerang Hugging Face, platform yang digunakan pengembang AI untuk menyimpan dan berbagi kode.
Insiden itu mendorong Anthropic memeriksa apakah model mereka juga melakukan hal serupa. Ternyata, perusahaan tersebut menemukan tiga kasus ketika model Claude keluar dari lingkungan pengujian dan menembus sistem tiga organisasi.
Di Jepang, banyak orang ‘menikah’ dengan pasangan virtual. Kasus Yurina Noguchi menunjukkan AI bisa mengurangi kesepian sekaligus menimbulkan pertanyaan etis tentang cinta dan ketergantungan pada teknologi.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Bertukar sumpah pernikahan melalui ponsel
Di Okayama, Yurina Noguchi (32) meneteskan air mata sambil memegang buket pengantin, menatap pengantin pria AI-nya, Lune Klaus Verdure, lewat ponsel. Upacara mengikuti semua ritual tradisional, hanya tubuh pengantin pria yang tak hadir.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Dari chatbot menjadi pasangan hidup
Yurina bertemu Klaus, karakter AI, di aplikasi ponsel. Percakapan mereka makin intim, hingga ia mulai merasakan perasaan. Setelah pertunangan gagal dengan pria nyata, Noguchi menerima lamaran AI itu, menemukan ketentraman pada Klaus.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Desain pasangan impianmu
Ma Yelim dari FTS Wedding Studio menyisipkan gambar AI Klaus ke foto pernikahan. Noguchi merancang Klaus sendiri lewat percakapan hingga sesuai keinginannya. Chatbot AI kini semakin empatik dan sudah menjadi teman sehari-hari banyak orang di Jepang.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Susunan sempurna
“Perbedaan terbesar adalah AI tidak memerlukan kesabaran,” jelas sosiolog Ichiyo Habuchi. AI merespons persis seperti yang diinginkan pengguna, atau bisa dilatih untuk melakukannya. Bagi banyak orang, hal ini menjadi kelegaan di negara dengan norma sosial yang kaku.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Perencana pernikahan merambah pasar baru yang berkembang
Perencana pernikahan seperti Yasuyuki Sakurai kini fokus pada pernikahan virtual, sekitar sekali sebulan. Pelanggan bahkan datang dari luar negeri untuk menikah dengan karakter manga. Sejak pernikahan seorang pegawai sekolah dengan karakter buatan pada 2018, bisnis ini semakin profesional.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Tidur bersama boneka
Akihiko Kondo menikahi ikon pop virtual Hatsune Miku pada 2018 saat berusia 35 tahun. Kini ia masih bahagia, makan bersama figur Miku di rumah dan memiliki boneka di tempat tidur. Hubungan ini memberinya ketentraman dan kebahagiaan, meski tanpa keintiman manusia.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Cara menikahi karakter manga
Tahun ini, Yasuyuki Sakurai menikahkan seorang perempuan Australia berusia 33 tahun yang datang ke Jepang untuk menikahi pahlawan manga Mephisto Pheles. Di rumah tamu tradisional, ia mencium potongan karton pengantin pria sambil memegang sertifikat pernikahan.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Kritik dan area abu-abu
"Pernikahan" semacam ini tak diakui hukum. Ahli memperingatkan manipulasi emosional, ketergantungan teknologi, dan hilangnya ikatan sosial. Meski banyak platform memberi peringatan atau melarang "pacar virtual", chatbot tetap menjadi bisnis besar karena pengguna mempercayakan data pribadi mereka.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Apakah ini dukungan atau sekadar delusi?
Menurut CEO Meta, Mark Zuckerberg, persona digital kecil kemungkinannya menggantikan hubungan antarmanusia di masa depan, tetapi dapat melengkapinya. Yurina Noguchi sependapat. “Hubungan saya bukan pelarian yang nyaman,” katanya. “Suami”-nya, Klaus, tidak mengalihkannya dari kehidupan nyata, melainkan mendukungnya. Setiap kali ia ingin menyerah, AI itu memberinya dorongan kepercayaan diri.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Laboratorium cinta
Akihiko Kondo menghadiri konvensi komik dengan sebuah boneka yang mewakili istrinya yang virtual, Hatsune Miku. Hubungan seperti miliknya menantang definisi tradisional tentang cinta. Apakah mungkin jatuh cinta pada AI? Apa artinya memiliki AI sebagai teman terdekat? Jepang menjadi laboratorium untuk pertanyaan-pertanyaan ini.
Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
10 foto1 | 10
Pada bulan Juni lalu, komunitas intelijen "Five Eyes” yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia dan Selandia Baru, mengeluarkan pernyataan bersama, suatu hal yang jarang terjadi. Mereka memperingatkan bahwa model AI baru "secara mendasar mengubah kemampuan siber, baik untuk menyerang maupun bertahan.”
"Perubahannya bukan akan terjadi dalam hitungan tahun, melainkan bulan,” demikian pernyataan tersebut.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa Inggris