1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ancar-ancar Koalisi Pemerintahan Jerman

22 September 2009

Untuk memerintah diperlukan suara mayoritas. Dalam pemilu Jerman 2005, partai konservatif CDU/CSU dan Partai Sosial Demokrat SPD terpaksa bergabung, supaya cukup suara untuk memerintah.

Symbolbild Jamaika Koalition
Koalisi Jamaika, Hitam-Kuning-Hijau (CDU/CSU, FDP dan Partai Hijau)Foto: Fotomontage/AP Graphics/DW

Untuk pemilihan parlemen mendatang, baik CDU maupun SPD bersiap untuk memiliki mitra koalisi baru. Sebuah jajak pendapat baru menyatakan, dukungan untuk SPD naik menjadi 25%, Partai Hijau turun menjadi 10% dan Partai Linke mencatat 11%. Sedangkan CDU/CSU tetap pada 36% dan dukungan untuk FDP turun, tersisa 13% suara. Hitam-Kuning kehilangan suara mayoritas, dan kini raihan suaranya setara dengan Merah-Merah-Hijau.

Ke lima partai, yang pasti lolos dalam pemilu Jerman mendatang, menggunakan warna tertentu untuk dikenali. Partai Hijau tentunya disimbolkan dengan warna hijau, sedangkan partai konservatif CDU/CSU dikenali berwarna hitam. Lalu warna kuning menggambarkan partai Liberal, FDP. Sedangkan partai sosialis demokrat, SPD menggunakan warna merah, sama merahnya seperti digunakan partai „die Linke“.

Menjelang pemilu, CDU/CSU berharap bisa memerintah dengan mitra lamanya, FDP yang liberal. Pada setiap kesempatan, Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan niatnya untuk membentuk koalisi Hitam-Kuning. Di televisi ia mengatakan, di pucuk pimpinan pemerintahan seperti itu, ia akan bisa menjalankan kebijakannya lebih baik.

"Saya rasa, bahwa kami dengan FDP, dan ini bukan mengenai saya atau Guido Weterwelle, melainkan karena kemiripan konsep program partai kami, misalnya dalam ekonomi, pengadaan lapangan kerja. Kendati begitu, kami tentu saja memperjuangkan agar CDU/CSU tampil dengan kuat, dan itulah yang menjadi dasar untuk berkoalisi lagi dengan FDP. Bagi saya yang terpenting adalah bagaimana cara terbaik untuk membuka lapangan kerja? Siapa yang memiliki kompetensi terbaik dalam ekonomi. Bagi saya, koalisi inilah yang terbaik. "

Guido Westerwelle, yang mengharapkan hasil positif dalam pemilu mendatang juga memandang partainya sebagai mitra koalisi terbaik bagi CDU. "Lihat nanti saja bagaimana langkah CDU/CSU. Bukan rahasia lagi, bahwa kami mendukung Hitam- Kuning itu."

Sementara kubu sosial-demokrat, SPD, mengupayakan koalisi Merah-Hijau, seperti yang dulu mengambil alih pemerintahan dari koalisi Hitam-Kuning pimpinan Helmut Kohl. Sekjen SPD, Hubertus Heil mengatakan, "Kami ingin agar Frank-Walter Steinmeier menjadi kanselir dan melihat kesamaan besar dengan Partai Hijau. Tapi bila koalisi itu tidak cukup, maka kami harus melihat lagi kemungkinan apa yang ada.“

Di pihak lain, Partai Hijau kali ini tampak lebih enggan untuk memastikan partai mana yang akan dijadikan mitranya. Claudia Roth, Ketua Partai Hijau mengatakan, "Kami bukan mitra junior partai manapun. Hijau yang mandiri, artinya Partai Hijau akan berkampanye tanpa menyatakan partai mana yang bakal menjadi mitra koalisinya. Kami tak akan mengibarkan bendera Hijau-Merah, atau Merah-Kuning Hijau."

Yang pasti Roth menilai koalisi Jamaika, Hitam-Kuning-Hijau, jadi antara CDU/CSU, FDP dan Partai Hijau, dianggap tidak realistis. Demikian pula, koalisi Merah-Hijau- Merah, antara SPD, Partai Hijau dan die Linke. Yang paling menentang untuk berkoalisi dengan die Linke adalah SPD. Partai ini tak mau memaafkan bekas ketuanya, Oskar Lafontaine, yang hengkang dari SPD tahun 1998, kemudian bergabung dengan die Linke. Dengan semua kerumitan ini, siapa tahu, usai pemilu mendatang Hitam-Merah akan terpaksa berkoalisi kembali.

Bettina Marx/Edith Koesoemawiria

Editor: Hendra Pasuhuk