1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Angin Segar bagi Hubungan Jerman dan Rusia

7 Maret 2008

Kanselir Jerman Angela Merkel melawat ke Rusia dan bertemu dengan Presiden terpilih Dimitri Medvedev. Diharapkan kepemimpinan baru Rusia membawa angin segar bagi hubungan diplomatiknya dengan Jerman.

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam Konferensi G8 tahun 2007 di Heiligendamm
Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam Konferensi G8 tahun 2007 di HeiligendammFoto: AP
Angin segar bagi hubungan Jerman dan Rusia. Setelah beberapa tahun mengalami stagnasi, kini terdapat dorongan baru bagi sikap kedua negara. Presiden terpilih Rusia Dimitri Medvedev kini dinggap sebagai pembawa harapan. Menurut Koordinator hubungan Jerman dan Rusia, Andreas Schockenhoff, Medvedev layak mendapatkan tambahan kepercayaan. Lebih lanjut Schockenhoff, “Medvedev adalah orang pertama di kalangan politisi terkemuka Rusia yang tidak dibesarkan secara politis dan karir oleh pemerintah Uni Soviet. Putin terkenal dengan pengalaman Dresden tahun 1989 dan karirnya di dinas rahasia luar negeri. Medvedev berasal dari lingkungan yang berbeda dan dia tampil sebagai generasi baru pasca Uni Soviet.“

Medvedev ingin memodernisasi negara hukum, perekonomian dan kemasyarakatan Rusia. Untuk itu dia memerlukan dukungan. Negara-negara Barat tidak boleh begitu saja mundur, hanya mengamati perkembangan dan kemudian membagikan penilaian. Makanya, kunjungan Kanselir Jerman Angela Merkel Sabtu (08/03) merupakan lawatan yang sangat berarti.

Andreas Schockenhoff mengatakan, "Saya pikir ini kunjungan Kanselir ke Moskow kali ini dan bertemu dengan presiden terpilih Rusia merupakan hal yang luar biasa, atau setidaknya sinyal yang tepat.“

Angela Merkel merupakan politisi penting internasional yang mengadakan kunjungan kenegaraan tak lama setelah pemilihan presiden Rusia. Berbeda dengan pendahulunya Gerhard Schröder yang memiliki hubungan pribadi sangat dekat dengan Vladimir Putin, Merkel cenderung terlihat sangat berhati-hati menghadapi pemimpin pemerintahan Kremlin. Putin sangat kecewa terhadap sikap Kanselir Jerman yang tidak ragu-ragu melontarkan kritik mengenai pengekangan masyarakat sipil Rusia, pembatasan ruang gerak oposisi serta tindakan kasar pemerintah Rusia terhadap media massa yang kritis. Politik Putin yang sebelumnya sangat percaya diri dan membatasi diri dari negara Barat menambah kebekuan diplomatik kedua negara. Konflik nilai mengenai standar demokrasi dan tradisi bertambah besar. Orang nomor satu Kremlin memusatkan perhatian pada pertumbuhan perdagangan dan ingin memisahkan hal tersebut dari masalah peralihan yang bersifat politis. Lebih lanjut Putin percaya masa-masa peralihan yang sulit bagi pasar perdagangan di Rusia ditangani dengan sistem yang otoriter. Gaya Putin ini dikritik habis-habisan oleh Jerman dan negara Barat lainnya.

Kini Jerman berharap Dimitri Medvedev memiliki gaya politik yang liberal. Koordinator hubungan Jerman-Rusia, Andreas Schockenhoff, yakin, Jerman dapat mengambil peranan penting dalam hal itu.

"Jerman dapat mempengaruhi Rusia dari kerjasama perdagangan, pendidikan dan penelitian, bidang di mana orang-orang bertemu dan dapat menanam kepercayaan pada masyarakat sipil.“

Secara bebas, hubungan Jerman dan Rusia sangat kompleks. Hubungan antar kedua negara sangat luas, meliputi hubungan perdagangan atau pembicaraan tingkat tinggi. Namun pondasi yang baik sangat diperlukan bagi hubungan pribadi yang baik. Misalnya kemitraan kota dan prakarsa bersama seperti Forum Jerman Rusia atau Dialog Petersburg.

Empat ratus ribu warga Rusia tinggal di Jerman. Tiga juta warga Rusia belajar bahasa Jerman. Ilmuwan kedua negara bekerja sama di Institut Sejarah Jerman di Moskow. Pengalaman di banyak bidang dan menyakitkan meninggalkan latar belakang emosional. Hal itu turut menyumbangkan arti dalam sikap antara Jerman dan Rusia.(ls)