Angka Harapan Hidup Global akan Meningkat pada 2050
17 Mei 2024
Penelitian baru memperkirakan peningkatan angka harapan hidup di seluruh dunia selama tiga dekade mendatang, khususnya di Afrika. Di sisi lain, obesitas diprediksi memainkan peran lebih besar dalam buruknya kesehatan.
Langkah-langkah kesehatan masyarakat telah berkontribusi pada manusia untuk hidup lebih lama dari sebelumnyaFoto: ISSOUF SANOGO/AFP/Getty Images
Iklan
Berdasarkan penelitian baru, angka harapan hidup global akan meningkat hampir lima tahun pada tahun 2025. Namun, orang-orang juga diprediksi akan menghadapi kemungkinan gangguan kesehatan, seperti obesitas dan tekanan darah tinggi.
Temuan ini merupakan bagian dari Global Burden of Diseases, Injuries and Risk Factors Study 2021, yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet pada hari Kamis (16/05).
"Tren masa depan mungkin sangat berbeda dibandingkan tren masa lalu karena faktor-faktor, seperti perubahan iklim dan peningkatan obesitas serta kecanduan,” kata Liane Ong, ilmuwan peneliti utama di Institute for Health Metrics and Evaluation (IHMEE) di University of Washington, yang memimpin penelitian tersebut.
Rentang hidup yang lebih panjang di seluruh dunia
Tim Global Burden of Diseases memperkirakan angka harapan hidup diperkirakan akan meningkat dari 71,1 tahun menjadi 76 tahun untuk pria dan dari 76,2 tahun menjadi 80,5 tahun untuk perempuan.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Negara-negara yang saat ini memiliki tingkat kesejahteraan hidup yang lebih rendah akan mengalami peningkatan terbesar.
"Ini merupakan indikator bahwa meskipun kesenjangan kesehatan antara wilayah berpendapatan tertinggi dan terendah akan tetap ada, kesenjangan tersebut semakin mengecil, dengan peningkatan terbesar diperkirakan terjadi di Afrika Sub-Sahara,” kata Direktur IMHEE Dr. Chris Murray.
Para peneliti mengatakan tren ini sebagian besar didorong oleh langkah-langkah kesehatan masyarakat yang telah mencegah dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dari penyakit seperti penyakit jantung, COVID-19, dan berbagai penyakit menular, penyakit ibu, bayi baru lahir, dan kekurangan gizi.
Iklan
Obesitas membebani hasil kesehatan
Penelitian ini juga menemukan bahwa jumlah tahun yang hilang akibat faktor risiko metabolik seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi telah meningkat hampir 49,4% sejak tahun 2000.
9 Negara Paling Sehat di Dunia
Negara manakah yang paling sehat? Ini daftarnya tidak berdasarkan peringkat, antara lain berdasarkan jumlah PDB yang digunakan untuk kesehatan dan perkiraan harapan hidup. Luas negara dan populasi juga jadi pertimbangan.
Foto: imago/Bluegreen Pictures
Monako
Monako adalah negara kota berdaulat di tepi Côte d'Azur (French Riviera), Eropa. Penduduknya hanya 38.320, dan termasuk negara dengan angka harapan hidup ketiga tertinggi di dunia. Dari segi keamanan, Monako termasuk negara teraman, dengan jumlah polisi tertinggi per kapita. Negara ini punya pemandangan mengagumkan dan garis pantai yang cantik.
Foto: picture-alliance/dpa/U.Baumgarten
Jepang
Jumlah populasinya 127,3 juta. Angka harapan hidup di Jepang 84,7. Orang kerap menganggap Jepang sebagai salah satu negara tersehat di dunia. Tapi bukan itu saja yang menarik. 50.000 warga Jepang berusia lebih dari 100 tahun. Tingkat obesitas negara itu hanya 3,5%. Sebagai bandingan: di AS angkanya lebih dari 30%.
Foto: DW
Islandia
Jumlah populasinya 330.000. Luas negara yang juga disebut Tanah Es itu 102.775 km2. Letaknya di sebelah barat laut Eropa, di bagian utara Samudra Atlantik. Angka harapan hidup di Islandia 82,97. Produk Domestik Bruto yang digunakan untuk sektor pelayanan kesehatan: 9,1%. Islandia adalah negara dengan penduduk paling tinggi di dunia. Tinggi rata-rata pria: sekitar 2,2 meter.
Foto: Fotolia/frenk58
Swiss
Luas negara di pegunungan Alpen ini 41.285 km2. Jumlah warganya 8,02 juta. Angka harapan hidup 82,5. Dari produk domestik bruto 11.5% digunakan untuk membiayai sektor kesehatan. Swiss juga berada di puncak daftar negara paling bersih sedunia, menurut Forbes.
Foto: S. Stroncik
Luksemburg
Luksemburg adalah salah satu negara terkecil di Eropa, dan berbatasan dengan Perancis, Jerman, Belgia. Luasnya 2.586 km2, dan jumlah penduduknya 543.202 orang. Tingkat harapan hidup 82.17. Angka kematian anak di bawah lima tahun di negara ini adalah yang paling kecil sedunia. Menurut media online Business Insider, negara ini adalah yang terbaik di dunia.
Foto: AP
Australia
Populasi Australia berjumlah 23,91 juta, dan tingkat harapan hidup di negara itu 82,15. Dari produk domestik brutonya 9,4% digunakan untuk sektor layanan kesehatan. Menurut World Happiness Report, Australia adalah negara ke sepuluh yang paling bahagia di dunia. Foto: kota Brisbane.
Foto: Fotolia/kraskoff
Swedia
Negara ini termasuk salah satu negara Skandinavia, dan berbentuk monarki. Luasnya 450.295 km2, dan jumlah populasinya 9,80 juta. Tingkat harapan hidup negara itu 81.98. Dari produk domestik bruto, 9,7% digunakan untuk sektor layanan kesehatan. Foto: pulau Tjörn.
Foto: picture-alliance/pixeljunge
Austria
Austria berada di tengah Eropa Barat, dan berbatasan dengan Jerman, Ceko, Slovenia, Italia, Slovakia, Hongaria, Swiss dan Liechtenstein. Luasnya 83.878,99 km², dan jumlah populasinya 8,47 juta. Menurut Index Sistem Perawatan Kesehatan, Austria adalah ke enam terbaik di dunia. Foto: ibukota Wina.
Foto: picture-alliance/dpa/R. Jaeger
Belanda
Belanda luasnya 42.508 km2, dan berpenduduk 16,84 juta. Tingkat harapan hidup 81,23. Secara geografis Belanda merupakan negara berpermukaan rendah, dengan kira-kira 20% wilayahnya, dan 21% populasinya tinggal di kawasan yang lebih rendah dari permukaan laut. 50% tanahnya kurang dari satu meter di atas permukaan laut. Oleh sebab itu nama negara itu Nederland (negeri-negeri berdaratan rendah).
Foto: picture alliance/Bildagentur-online
9 foto1 | 9
Polusi udara, merokok, dan berat badan lahir rendah juga merupakan kontributor terbesar terhadap jumlah tahun kesehatan yang hilang karena kesehatan yang buruk dan kematian dini.
"Ada peluang besar di masa depan bagi kita untuk memengaruhi masa depan kesehatan global dengan mengatasi peningkatan faktor risiko metabolisme dan pola makan, terutama yang terkait dengan faktor perilaku dan gaya hidup seperti gula darah tinggi, indeks massa tubuh tinggi, dan tekanan darah tinggi. " kata Murray.