1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Angka Pengungsi Akibat Cuaca Ekstrem Catat Rekor Baru

Ajit Niranjan
25 Mei 2021

Lebih dari 40 juta orang terusir dari rumah mereka akibat konflik yang terus berlanjut dan cuaca ekstrem yang memburuk pada tahun 2020. Migrasi akibat kekacauan iklim menimbulkan tantangan bagi negara-negara kaya.

Pengungsi
Perempuan dan anak-anak terpaksa harus meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman dari Badai Tauktae yang melanda Gujarat, IndiaFoto: Amit Dave/REUTERS

Badai, banjir, kebakaran hutan, dan kekeringan akibat kenaikan suhu yang menyebabkan kekacauan iklim, membuat lebih dari 30 juta orang mengungsi tahun lalu, demikian menurut laporan Pusat Pemantauan Pemindahan Internal (IDMC). Ditambah dengan konflik perang dan kekerasan, yang memaksa 9,8 juta orang mengungsi di dalam wilayah perbatasan mereka, IDMC mencatat total jumlah pengungsi internal baru pada tahun 2020 menjadi 40,5 juta orang.

Organisasi penelitian yang berbasis di Jenewa, Swiss, ini bahkan memperkirakan rekor baru yakni 55 juta orang hidup terlantar di negara mereka sendiri pada akhir tahun. Itu berarti, dua kali lipat jumlah pengungsi di dunia.

Cuaca ekstrem meningkat secara tidak wajar akibat pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan iklim. Faktor ini diprediksi akan membuat lebih banyak orang mengungsi dari rumah mereka akibat bencana seperti banjir dan badai, serta krisis seperti gagal panen dan kekeringan.

Di negara-negara kaya, para politisinya telah mengemukakan kekhawatiran bahwa migrasi besar-besaran dari daerah yang lebih miskin dapat membebani layanan publik saat planet memanas. Namun gagasan ini dinilai hanya sebagai sebuah "gangguan" karena sebagian besar pengungsian sejatinya bersifat internal, kata Bina Desai, kepala program di IDMC.

"Merupakan kewajiban moral untuk benar-benar berinvestasi dalam mendukung mereka di tempat mereka berada - daripada hanya memikirkan risiko ketika mereka tiba di perbatasan," tambahnya.

Mengungsi akibat kekacauan iklim

Laporan tahunan itu mencatat bahwa lebih dari 80% orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka pada tahun 2020 berada di Asia dan Afrika.

Di Asia, sebagian besar orang terpaksa mengungsi karena cuaca ekstrem. Seperti di Cina, India, Bangladesh, Vietnam, Filipina, dan Indonesia, kombinasi dari pertumbuhan penduduk dan urbanisasi menyebabkan lebih banyak orang terdampak banjir akibat naiknya permukaan laut.

Pengungsi anak-anak akibat Topan Vamco yang melanda Filipina pada 2020 membawa barang-barang dari rumah mereka yang masih bisa diselamatkanFoto: Aaron Favila/picture-alliance/AP

Seperti topan terparah dalam 20 tahun terakhir yang baru-baru ini melanda India, memaksa pihak berwenang untuk mengevakuasi lebih dari 200.000 orang di negara bagian Gujarat. Meskipun sistem peringatan dini berfungsi menyelamatkan banyak orang, namun banyak dari mereka yang tidak memiliki rumah untuk kembali.

Selain itu, topan Amphan yang melanda Bangladesh tahun lalu, menyebabkan 2,5 juta orang mengungsi dan menghancurkan 55.500 rumah. Laporan itu juga menunjukkan bahwa 10% orang yang mengungsi kehilangan tempat tinggal. 

Kalau di Asia banyak orang mengungsi akibat cuaca ekstrem, di Afrika sebagian besar pengungsian pada tahun 2020 justru disebabkan oleh konflik. Kekerasan yang terus-menerus terjadi, memaksa orang-orang meninggalkan rumah mereka di negara-negara seperti Burkina Faso dan Mozambik. Sementara perang baru juga dilaporkan bermunculan di negara lain seperti Ethiopia.

IDMC memperkirakan setengah juta orang telah melarikan diri dari pertempuran di wilayah Tigray Ethiopia pada akhir tahun lalu. Sejak itu, UNICEF mencatat angka di atas satu juta pengungsi.

Beberapa konflik juga diperparah dengan musim hujan yang sangat panjang dan lebat, yang mengakibatkan banjir dan bencana panen. Seperti di Somalia, Sudan, Sudan Selatan dan Niger, hujan deras memaksa pengungsi yang sejatinya sudah terlantar untuk kembali mengungsi di negara tersebut, demikian menurut laporan itu. Bencana lingkungan seperti ini memicu 4,3 juta orang mengungsi di sub-Sahara Afrika pada tahun 2020. Setidaknya setengah dari mereka masih mengungsi hingga akhir tahun.

Di sisi lain, migran dari daerah pedesaan ke kota sering "dipaksa untuk menetap di daerah yang tidak aman untuk tempat tinggal dan rawan banjir atau bahaya lainnya," kata Lisa Lim Ah Ken, seorang spesialis iklim regional di Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB di Kenya. "Banyak yang bisa dilakukan, dimulai dengan pencegahan," tambahnya. 

Jumlah pengungsi semakin meningkat akibat konflik dan perubahan iklimFoto: Alexis Huguet/AFP/Getty Images

Perlu sumber daya untuk bermigrasi

Para peneliti mengatakan hubungan antara iklim dan migrasi kurang dipahami dan terkadang dilebih-lebihkan. Sementara IDMC mengumpulkan data tentang pengungsian internal yang sebagian besar berasal dari bencana mendadak seperti banjir dan badai, hanya ada sedikit data tentang berapa banyak orang yang meninggalkan rumah karena krisis lingkungan seperti kenaikan suhu dan permukaan laut.

Namun, meta-analisis yang diterbitkan pada bulan Maret oleh Pusat Analisis Kebijakan Ekonomi Universitas Potsdam menemukan bahwa bencana yang terjadi dalam waktu lama seperti gelombang panas dan kekeringan lebih cenderung meningkatkan migrasi daripada bencana yang melanda secara tiba-tiba seperti banjir dan badai. Alasannya, kaarena orang membutuhkan uang untuk bermigrasi, kata peneliti. Banjir dan badai biasanya berpotensi membuat mereka kehilangan dan merugi secara materi.

Sementara mereka yang tetap tinggal, kebanyakan tanpa asuransi untuk membangun kembali rumah atau mata pencaharian, dapat terjebak dalam siklus cuaca ekstrem. Meskipun yang lain mungkin memilih untuk tetap tinggal karena alasan lain.

"Jika Anda ingin bermigrasi, maka Anda memerlukan sumber daya untuk melakukannya," kata Barbora Sedova, ekonom yang mempelajari konflik dan migrasi di Institut Potsdam untuk Riset Dampak Iklim, dan salah satu penulis studi tersebut. "Yang tidak begitu banyak dibicarakan adalah populasi yang terperangkap di daerah asalnya dan yang sebenarnya kekurangan sumber daya untuk bermigrasi." 

Cuaca semakin ekstrem

Perubahan iklim telah membuat cuaca ekstrem menjadi lebih ekstrem, termasuk di negara-negara kaya.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Natural Hazards and Earth System Sciences pada bulan Maret menemukan bahwa risiko kebakaran hebat selama musim kebakaran hutan Australia 2019-2020 terjadi 30% lebih mungkin karena perubahan iklim akibat ulah manusia. Kebakaran itu menewaskan 34 orang dan menghancurkan ribuan rumah.

Sementara, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications menemukan bahwa 13 persen dari faktor bencana Badai Sandy yang melanda New York pada tahun 2012 adalah akibat dari kenaikan permukaan laut. Seandainya planet tidak memanas akibat ulah manusia, dan dengan asumsi semua faktor lain tetap konstan, 70.000 orang bisa terselamatkan dari banjir, berdasarkan pemodelan yang dilakukan para peneliti.

Peneliti yang berfokus pada migrasi iklim telah menyerukan kepada pemerintah untuk segera mengurangi emisi gas rumah kaca, beradaptasi dengan perubahan iklim dan terus mendukung komunitas pengungsi.

"Jika kita menciptakan peluang bagi orang-orang ini di kota - dalam hal pekerjaan, perumahan, kehidupan dan martabat - maka migrasi tidak harus menjadi masalah keamanan internasional," kata Sedova. "Jika dikelola dengan baik, bahkan dapat berdampak positif bagi negara." (pkp/gtp)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait