Saat mata uang resmi 19 negara anggota Uni Eropa melemah hingga menyentuh level paritas atau 1 euro setara 1 dolar AS, pedagang mata uang mengatakan penurunan tidak mungkin berhenti di situ.
Melemahnya mata uang euro akan semakin menaikkan inflasi di zona euroFoto: Klaus-Dieter Esser/agrarmotive/picture alliance
Iklan
Penurunan mata uang euro terhadap dolar AS terjadi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari lalu. Nilai tukar euro jatuh ke level terendah dalam 20 tahun terakhir karena lonjakan harga gas dan ketidakpastian seputar pasokan energi Rusia yang memicu kekhawatiran resesi di zona euro.
Mata uang bersama 19 negara Uni Eropa tersebut diperdagangkan rendah sekitar $1.0007 pada hari Selasa (12/07), merosot dari level $1,15 sebelum Rusia melancarkan perang di Ukraina. Penurunan nilai tukar ini telah membawa euro hampir mencapai angka yang sama terhadap dolar AS untuk pertama kalinya sejak akhir 2002.
Iklan
Mengapa euro merosot?
Ketergantungan besar ekonomi utama seperti Jerman dan Italia pada gas Rusia telah membuat investor "terkesima", dengan para ekonom memperkirakan resesi terjadi jauh lebih cepat dan lebih menyakitkan di kawasan euro daripada di Amerika Serikat.
Federal Reserve AS telah menaikkan suku bunga secara agresif untuk menurunkan inflasi, sementara Bank Sentral Eropa (ECB) sejauh ini menolak kenaikan tajam.
"Suku bunga di AS diperkirakan akan naik menjadi 3% versus 1% di Eropa. Jadi, uang akan pergi ke tempat dengan hasil yang lebih tinggi," Carsten Brzeski, Kepala Ekonom untuk Jerman dan Austria di ING, mengatakan kepada DW .
Dolar AS juga diuntungkan dari daya tarik instrumen safe haven. Di tengah semua kesuraman, malapetaka, dan ketidakpastian ekonomi global, investor merasa nyaman dengan keamanan yang ditawarkan dolar karena tidak terlalu terekspos pada beberapa risiko besar saat ini.
Apa itu paritas dolar dan kenapa jadi masalah besar bagi euro?
Level paritas pada dasarnya berarti €1 sama dengan $1, tidak lebih dari ambang psikologis bagi pelaku pasar yang terkenal dengan kegemaran mereka pada angka bulat.
"Pasar keuangan selalu senang menemukan semacam makna simbolis," kata Brzeski.
Viraj Patel, ahli strategi valuta asing di Vanda Research, mengatakan tingkat paritas bisa menjadi titik di mana "bulls dan bears" euro untuk menentukan arah mata uang pergi dari sana.
"Baru-baru ini, kami mulai melihat investor bertaruh pada euro jatuh di bawah paritas. Namun, Anda dapat membayangkan bahwa lebih banyak investor akan mulai membeli euro saat kami mendekati level itu," katanya kepada DW.
Bagaimana Perang Putin Memengaruhi Ekonomi Dunia
Efek perang Rusia terhadap Ukraina dirasakan di seluruh dunia. Harga makanan dan bahan bakar meningkat di mana-mana. Di beberapa negara kerusuhan pecah akibat naiknya harga barang kebutuhan utama.
Foto: Dong Jianghui/dpa/XinHua/picture alliance
Belanja Semakin Mahal di Jerman
Konsumen di Jerman merasakan kenaikan biaya hidup. Konsekuensi dari perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia mulai terasa. Pada bulan Maret, tingkat inflasi Jerman mencapai level tertinggi sejak 1981. Pemerintah Jerman ingin segera mengembargo batubara Rusia, tetapi masih memperdebatkan pelarangan impor gas dan minyak dari Rusia.
Foto: Moritz Frankenberg/dpa/picture alliance
Antrian Mengisi Bahan Bakar di Kenya
Antrian panjang mobil di SPBU Nairobi. Di Kenya, warga juga merasakan dampak perang di Ukraina. Bahan bakar kian mahal, dan pasokannya terbatas, belum lagi krisis pangan. Duta Besar Kenya untuk PBB Martin Kimani dalam sidang Dewan Keamanan menyatakan keprihatinannya, dan membandingkan situasi di Ukraina timur dengan perubahan yang terjadi di Afrika setelah berakhirnya era kolonial.
Foto: SIMON MAINA/AFP via Getty Images
Siapa Amankan Suplai Gandum ke Turki?
Rusia adalah produsen gandum terbesar di dunia. Karena larangan ekspor dari Rusia, harga roti sekarang naik di banyak tempat, termasuk di Turki. Sanksi internasional telah mengganggu rantai pasokan. Ukraina juga merupakan salah satu dari lima pengekspor gandum terbesar di dunia, tetapi perang dengan Rusia membuat mereka tidak dapat mengirimkan barang dari pelabuhannya di Laut Hitam.
Foto: Burak Kara/Getty Images
Harga Gandum Melonjak di Irak
Seorang pekerja tengah menumpuk karung-karung tepung tergu di pasar Jamila, pasar grosir terpopuler di Baghdad. Harga gandum telah meroket di Irak sejak Rusia menginvasi Ukraina, karena kedua negara tersebut menyumbang setidaknya 30% dari perdagangan gandum dunia. Irak tetap netral sejauh ini, tetapi poster-poster pro-Putin sekarang telah dilarang di negara itu.
Foto: Ameer Al Mohammedaw/dpa/picture alliance
Unjuk Rasa di Peru
Para demonstran bentrok dengan polisi di ibukota Peru, Lima. Mereka memprotes kenaikan harga pangan, satu di antara rangkaian kenaikan harga. Krisis semakin diperburuk dengan adanya perang di Ukraina. Presiden Peru, Pedro Castillo memberlakukan jam malam dan keadaan darurat untuk sementara. Tapi jika peraturan tersebut dicabut, protes akan terus berlanjut.
Foto: ERNESTO BENAVIDES/AFP via Getty Images
Keadaan Darurat di Sri Lanka
Di Sri Lanka, warga turun ke jalan untuk mengekspresikan kemarahan mereka. Beberapa hari lalu, ada yang mencoba menyerbu kediaman pribadi Presiden Gotabaya Rajapaksa. Memuncaknya protes terhadap kenaikan biaya hidup, kekurangan bahan bakar, dan pemadaman listrik, mendorong presiden mengumumkan keadaan darurat nasional, sekaligus meminta bantuan pengadaan sumber daya dari India dan Cina.
Warga di Skotlandia juga memprotes kenaikan harga makanan dan energi. Di seluruh Inggris, serikat pekerja telah mengorganisir demonstrasi untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Brexit telah mengakibatkan kenaikan harga di banyak area kehidupan, dan perang di Ukraina makin memperburuk keadaan.
Foto: Jeff J Mitchell/Getty Images
Harga Ikan Goreng di Inggris Melonjak
Warga Inggris punya alasan untuk khawatir terkait hidangan nasional tercinta mereka "fish and chips". Sekitar 380 juta porsi goreng ikan dan kentang dikonsumsi di Inggris setiap tahun. Tetapi sanksi keras saat ini, berarti harga ikan putih dari Rusia, minyak goreng dan energi, semuanya melonjak naik. Pada Februari 2022, tingkat inflasi Inggris mencapai 6,2%.
Foto: ADRIAN DENNIS/AFP via Getty Images
Peluang Ekonomi bagi Nigeria?
Seorang pedagang di Ibafo, Nigeria, tengah mengemas tepung untuk dijual kembali. Nigeria telah lama ingin mengurangi ketergantungannya pada makanan impor, dan membuat ekonominya lebih tangguh lagi. Orang terkaya di Nigeria Aliko Dangot, baru-baru ini membuka pabrik pupuk terbesar di negara itu, dan berharap memiliki banyak pembeli. Apakah itu sebuah peluang? (kp/as)
Foto: PIUS UTOMI EKPEI/AFP via Getty Images
9 foto1 | 9
Bagaimana euro yang lebih lemah berdampak pada konsumen?
Pelemahan euro akan menambah beban rumah tangga dan bisnis Eropa yang sudah terombang-ambing dari rekor inflasi yang tinggi. Mata uang yang lebih lemah akan membuat impor, yang sebagian besar dalam mata uang dolar, lebih mahal. Ketika barang-barang tersebut merupakan bahan mentah atau barang setengah jadi, biayanya yang lebih tinggi dapat semakin menaikkan harga lokal.
Pada saat normal, mata uang yang lemah dipandang sebagai kabar baik bagi eksportir dan ekonomi ekspor berat seperti Jerman, karena mendorong ekspor dengan membuat mereka lebih murah dalam dolar. Namun, kondisi ini kemudian hampir tidak normal berkat gesekan rantai pasokan global, sanksi, dan perang di Ukraina.
"Dalam situasi saat ini dengan ketegangan geopolitik, saya pikir manfaat dari mata uang yang lemah lebih kecil daripada kerugiannya," kata Brzeski.
Untuk pelancong AS yang menuju ke Eropa musim panas ini, euro yang lemah adalah berkah. Misalnya, pada tingkat paritas, secara teoritis mereka akan dapat menukar $1.000 mereka dengan €1.000 alih-alih kurang dari €900 pada Februari lalu.
"Euro diperdagangkan seolah-olah krisis di Eropa sudah di ambang pintu. Jadi, Anda perlu melihat lebih banyak berita buruk sekarang dalam hal keseluruhan narasi seputar pasokan gas dan potensi geopolitik untuk euro melemah melampaui paritas," kata Patel.
Ahli strategi Nomura International memperkirakan bahwa euro bisa jatuh ke level $0,95. Kepala Penelitian Valuta Asing Deutsche Bank, George Saravelos, memiliki prediksi serupa. "Pergerakan turun ke $0,95-$0,97 akan menyamai ekstrem sepanjang masa yang terlihat dalam nilai tukar sejak akhir Bretton Woods pada tahun 1971," tulisnya dalam catatan 6 Juli kepada klien.