Apa Jadinya Kota Tanpa Mobil?
8 Mei 2026
Warga Berlin kehilangan sekitar 60 jam dalam kemacetan lalu lintas sepanjang tahun lalu. Situasi itulah yang ingin diubah oleh Oliver Collmann. Sang insinyur sejatinya mengembangkan perangkat lunak untuk mobil tanpa pengemudi, sebelum menyadari bahwa dia ingin menggunakan keahliannya untuk sesuatu yang "lebih berpihak pada kepentingan umum umat manusia."
Setelah perlahan meninggalkan pekerjaannya, Collmann bergabung dengan kelompok yang mengampanyekan referendum untuk mengurangi lalu lintas kendaraan di pusat ibu kota Jerman.
"Berlin adalah salah satu dari sedikit ibu kota Eropa yang hingga kini masih sangat berorientasi pada mobil dalam kebijakan transportasinya," kata Collmann, yang menjadi salah satu juru bicara gerakan tersebut. "Mobil menguasai sekitar 75 hingga 80 persen ruang yang tersedia di dalam kota."
Pusat Berlin dilingkari jalur kereta melingkar sepanjang 37 kilometer. Para penggagas kampanye ingin seluruh jalan di dalam lingkaran itu diklasifikasikan sebagai kawasan "minim mobil”.
Dalam skema ini, kendaraan bermotor hanya diperbolehkan masuk ke zona hijau dalam kondisi tertentu—misalnya untuk mengangkut warga dengan keterbatasan mobilitas, kendaraan layanan darurat, atau pengiriman komersial berskala besar. Warga Berlin juga hanya akan diizinkan membawa mobil pribadi ke pusat kota maksimal 12 kali dalam setahun.
Collmann menegaskan rancangan aturan ini bukan gerakan anti-mobil, melainkan upaya melawan "penggunaan mobil yang berlebihan dan kendaraan berukuran terlalu besar di kawasan kota."
Dia dan para aktivis lain meyakini kebijakan tersebut akan menghasilkan udara yang lebih bersih dan kebisingan yang berkurang. Selain itu, lebih banyak ruang dapat dialokasikan untuk pepohonan yang membantu menurunkan suhu kota dan meningkatkan kesehatan publik. Pohon menurunkan suhu permukaan dan udara dengan memberi naungan serta mendinginkan lingkungan melalui proses penyerapan air oleh akar dan penguapannya melalui daun.
Namun Oliver Lah, profesor tamu perencanaan spasial di Blekinge Institute of Technology, Swedia, menilai pelarangan bukanlah jawaban.
"Menyediakan sesuatu yang benar-benar diinginkan orang—itulah yang membantu," katanya. Ia berharap warga Berlin dapat "mencapai konsensus tentang apa yang masuk akal dan berguna bagi dunia usaha di kota maupun bagi mereka yang tinggal di pusat kota."
Sejumlah kota di Eropa telah bereksperimen dengan berbagai cara untuk menekan lalu lintas kendaraan bermotor di pusat kota, antara lain Wina, Kopenhagen, Barcelona, dan Oslo.
Oslo: Prioritas bagi pejalan kaki
Ibu kota Norwegia itu menerapkan program bebas mobil pada 2017 untuk memprioritaskan pejalan kaki di pusat kota, sekaligus mengurangi penggunaan mobil pribadi.
Adapun pintu tol berbayar di pintu-pintu masuk kota secara otomatis memantau kendaraan yang masuk dan keluar. Biayanya lebih murah bagi mobil listrik dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.
Evaluasi pemerintah kota pada 2020 menunjukkan lalu lintas di kawasan percontohan tercatat turun 28 persen.
Selain mengurangi kendaraan, program yang juga melibatkan partisipasi publik itu bertujuan membuka lebih banyak ruang kota bagi manusia dan alam. Pada 2022, sebagian kawasan pusat Oslo diubah menjadi "jalan layak huni” dengan menutupnya sementara bagi mobil pribadi.
Jalan-jalan tersebut kemudian didekorasi ulang dengan bangku, area duduk, petak tanaman, serta elemen alami seperti batang kayu. Kawasan ini dipenuhi penghijauan—mulai dari bunga, semak, tanaman herbal, hingga tanaman padang rumput—untuk menciptakan ruang yang lebih santai dan ramah bagi warga dari berbagai usia.
Pusat kota Oslo kini lebih ramai dibanding satu dekade lalu, dengan peningkatan aktivitas pejalan kaki hingga 38 persen pada hari Sabtu. Proyek ini juga menciptakan lalu lintas yang lebih ramah pesepeda.
Statistik kota menunjukkan proporsi warga yang berjalan kaki dan bersepeda di ibu kota Norwegia naik dari 36 persen pada 2014 menjadi 46 persen pada 2023. Meski demikian, jalan-jalan kota itu tidak sepenuhnya bebas mobil.
Dari seluruh mobil baru yang terdaftar di Oslo sepanjang tahun ini, sebanyak 98,1 persen merupakan kendaraan tanpa emisi.
Paris mempopulerkan "kota 15 menit"
Paris dikenal luas dengan konsep "kota 15 menit", yakni perancangan kawasan perkotaan sehingga sebagian besar kebutuhan harian dan layanan dapat dijangkau dalam waktu berjalan kaki atau bersepeda sekitar 15 menit.
Gagasan ini dicetuskan peneliti urban Prancis-Kolombia Carlos Moreno, lalu mendapat perhatian Anne Hidalgo, wali kota Paris saat itu.
"Pernahkah Anda bertanya: mengapa jalan yang bising dan penuh polusi harus tetap bising dan penuh polusi? Hanya karena memang begitu? Mengapa tidak menjadi jalan yang tenang, dipenuhi pepohonan, tempat orang bisa bertemu, berjalan ke toko roti, dan anak-anak berjalan kaki ke sekolah?” ujar Moreno dalam presentasi TED pada 2020.
Sebagai bagian dari konsep tersebut, Paris mengurangi mobil di pusat kota tanpa memberlakukan larangan langsung. Pada akhir 2024, ibu kota Prancis itu menerapkan zona lalu lintas terbatas di sebagian besar pusat kota.
Dalam aturan ini, perjalanan yang dimulai atau berakhir di dalam zona masih diperbolehkan. Namun kendaraan tidak boleh sekadar melintas untuk memotong jalan melalui area tersebut. Kebijakan ini menurunkan lalu lintas sekitar 6 persen di dalam zona pembatasan dan sekitar 8 persen di area pusat kota di sekitarnya selama dua bulan terakhir 2024.
Pemerintah kota juga belum memberlakukan denda bagi pelanggar aturan itu, agar para pengemudi memiliki waktu beradaptasi dengan perubahan. Kini Moreno membantu sejumlah negara lain, termasuk Belanda, menerapkan konsep serupa di berbagai kota.
Sebuah studi pada 2026 menunjukkan bahwa model kota yang ramah pejalan kaki seperti Paris memiliki emisi transportasi per kapita yang lebih rendah.
Sementara itu di Berlin, para penggagas inisiatif bebas mobil memiliki waktu hingga 8 Mei untuk mengumpulkan tanda tangan dari sedikitnya 7% pemilih terdaftar. Jika ambang batas itu tercapai, warga ibu kota Jerman kemungkinan akan memberikan suara dalam referendum pada akhir tahun 2026.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid