Italia tetapkan pedoman baru "negara asal yang aman" lewat "Model Albania," namun Pengadilan Italia dan Mahkamah Eropa kembali meninjau ulang pedoman tersebut.
Para migran di Pelabuhan Shengjin Albania yang akan diberangkatkan ke ItaliaFoto: Vlasov Sulaj/AP Photo/picture alliance/dpa
Iklan
Negara-negara anggota Uni Eropa (UE), pada prinsipnya, dapat menetapkan definisi "negara asal yang aman,” dalam undang-undang nasionalnya. Namun, Mahkamah Eropa (ECJ) memutuskan, pengadilan nasional negara anggota tersebut harus dapat memverifikasi - apakah peraturan Uni Eropa yang berlaku telah diimplementasikan dalam UU nasionalnya. Sumber informasi yang digunakan suatu negara untuk menentukan "negara asal yang aman” pun harus dapat diakses oleh baik oleh pengadilan maupun pemohon yang bersangkutan.
Putusan ini diawali dengan kasus dua migran asal Bangladesh yang dibawa ke Albania berdasarkan Protokol Albania-Italia. Di sana, kedua pemohon suaka tersebut ditolak oleh otoritas Italia karena Bangladesh dianggap negara "aman” berdasarkan peraturan nasional Italia.
Jika negara asal dianggap "aman", permohonan suaka dapat diproses secara cepat di perbatasan. Namun, pengadilan Italia ingin kasus ini ditinjau kembali oleh Mahkamah Eropa (ECJ).
Gelombang Migrasi Global
Ada 68 juta manusia yang terpaksa menjadi pengungsi. Mereka tersebar di lima benua dunia. Inilah kisah mereka dalam gambar.
Foto: Imago/ZUMA Press/G. So
Mengungsi dengan truk
Gerakan migrasi paling baru terjadi di Amerika Tengah. Kekerasan dan kelaparan menyebabkan orang-orang dari Honduras, Nikaragua, El Salvador dan Guatemala mengungsi. Tujuannya: Amerika Serikat. Namun di sana, Presiden Trump mengusir para migran tersebut. Sebagian besar pengungsi dari Amerika Tengah itu terdampar di perbatasan Meksiko-Amerika Serikat.
Foto: Reuters/C. Garcia Rawlins
Pengungsi yang dialihkan
Pemerintah konservatif Australia tidak mau menerima pengungsi. Mereka yang benar-benar berhasil mencapai Australia akan langsung dideportasi. Pemerintah Australia telah menandatangani perjanjian dengan beberapa negara Pasifik, termasuk Papua Nugini dan Nauru, untuk menempatkan para pengungsi di kamp di negara-negara tersebut. Pengamat menggambarkan situasi ini sebagai sesuatu yang sangat buruk.
Foto: picture alliance/AP Photo/Hass Hassaballa
Pengungsi yang terlupakan
Hussein Abo Shanan berusia 80 tahun. Dia hidup sebagai pengungsi Palestina di Yordania selama beberapa dekade. Kerajaan ini memiliki hampir sepuluh juta penduduk. Di antara mereka adalah 2,3 juta pengungsi terdaftar dari Palestina. Sebagian dari mereka hidup sejak tahun 1948 di negara itu - setelah berakhirnya perang Arab-Israel. Selain itu, Yordania menampung sekitar 500 ribu pengungsi Suriah.
Foto: Getty Images/AFP/A. Abdo
Diterima oleh tetangga
Kolombia adalah kesempatan terakhir bagi banyak pengungsi dari Venezuela. Di sini mereka tinggal di kamp-kamp seperti "El Camino" di luar ibukota Bogota. Kebijakan Presiden Nicolás Maduro menyebabkan pemerintah Venezuela tidak mampu mendukung warganya. Persediaan makanan dan obat-obatan menipis.
Foto: DW/F. Abondano
Menerjang dingin
Dari waktu ke waktu, mereka yang ingin mengungsi ke Eropa, seperti para lelaki di gambar, mencoba menyeberangi perbatasan Bosnia-Herzegovina ke Kroasia. Kroasia sebagai anggota Uni Eropa adalah tujuan para migran. Rute ini berbahaya, terutama di musim dingin di Balkan. Salju, es dan badai menyulitkan pendakian.
Foto: picture-alliance/A. Emric
Perhentian terakhir: Bangladesh?
Musim hujan di kamp pengungsi Kutupalong di Bangladesh. Para wanita Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar melindungi diri dari hujan dengan payung mereka. Lebih dari satu juta Muslim Rohingya melarikan diri dari pasukan Myanmar ke negara tetangga. Bangladesh, salah satu negara termiskin di dunia, kewalahan dengan situasi ini. Kutupalong saat ini adalah kamp pengungsi terbesar di dunia.
Foto: Jibon Ahmed
Hidup tanpa jalan keluar
Banyak mineral dan tanah yang subur: Republik Afrika Tengah sebenarnya memiliki segalanya untuk membangun masyarakat yang stabil. Namun perang saudara, konflik dengan negara-negara tetangga, pemerintah yang korup dan pemahaman Islam radikal memicu kekerasan di wilayah tersebut. Hal ini menyebabkan banyak orang, seperti tampak pada foto, tinggal di lokasi penampungan di kota Bangui.
Foto: picture-alliance/dpa/R. Blackwell
Tiba di Spanyol
Dibungkus selimut merah, para pengungsi dirawat oleh petugas Palang Merah setelah tiba di pelabuhan Malaga, Spanyol. 246 migran diselamatkan oleh kapal penyelamat "Guadamar Polimnia". Banyak orang Afrika mengambil rute Mediterania barat dari Aljazair atau Maroko untuk mencapai pantai Eropa.
Foto: picture-alliance/ZUMA Wire/J. Merida
Pengungsi Sudan di Uganda
Untuk waktu yang lama, Uganda adalah negara yang dilanda perang saudara. Namun, situasinya kini telah lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara Afrika lainnya. Bagi para pengungsi dari Sudan Selatan ini, kedatangan mereka di Kuluba mereka berada dalam situasi yang aman. Ratusan ribu orang Sudan Selatan kini menemukan perlindungan di Uganda. (Ed: na/ap)
Foto: Imago/ZUMA Press/G. So
9 foto1 | 9
Negara asal harus dinyatakan aman untuk seluruh rakyatnya
Pemerintah berhaluan kanan Italia di bawah pimpinan Giorgia Meloni ingin mengimplementasikan prosedur suaka di Albania dalam hukum Italia. Namun upaya ini gagal terbentur penolakan dari pengadilan Italia. Perselisihan kian memanas antara lembaga peradilan dengan pemerintah, terkait siapa yang berhak menentukan definisi "negara asal yang aman”.
Oktober 2024 lalu, pemerintah Italia melalui dekrit 158/2024 menetapkan sekitar 19 negara, termasuk di dalamnya Bangladesh, merupakan negara asal yang aman. Sejak Maret 2025, kamp-kamp pengungsian di Albania menampung pemohon suaka yang ditolak hingga mereka dideportasi.
Juru bicara kebijakan hukum organisasi Pro Asyl, Wiebke Judith, tidak terkejut dengan putusan Mahkamah Eropa (ECJ). Ia menganggap putusan tersebut sebagai klarifikasi penting, meski dampaknya terbatas. Dalam putusannya, ECJ menetapkan bahwa suatu negara asal dianggap "aman” jika seluruh kelompok masyarakat di sana dilindungi. Meski kebanyakan orang di suatu negara aman, tapi mungkin tidak bagi kelompok minoritas seperti anggota gerakan LGBTIQ+.
Perdana Menteri Italia, Giorgia MeloniFoto: Fabio Frustaci/ZUMA/IMAGO
PM Meloni 'serang' ECJ
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, merespons keras putusan ECJ tersebut. Ia mengatakan, peradilan Eropa mengklaim sesuatu "diluar kewenangannya, sementara tanggung jawabnya diemban para politisi”. "Sebelumnya, pemerintah sayap kanan Meloni juga menyerang peradilan Italia yang mendapat dukungan ECJ," ujart Andreina De Leo, pakar hukum di Universitas Maastricht.
Dalam wawancara dengan DW, Leo melihat hanya ada dua kemungkinan yang bisa diambil pemerintah Italia: Yakni menghentikan proses cepat permohonan suaka dari negara-negara yang tidak sepenuhnya aman buat sebagian warganya, namun ini berarti tidak ada negara yang tersisa dari daftar 'negara asal yang aman' buatan pemerintah Italia. Pilihan lainnya adalah dengan menyatakan bahwa negara-negara dalam daftar tersebut sepenuhnya aman. Pilihan terakhir menurut De Leo akan menjadi masalah.
Iklan
Putusan dengan dampak terbatas
Dengan reformasi suaka UE yang akan berlaku pada Juni 2026, situasi akan berubah. Untuk negara asal yang secara umum diklasifikasikan sebagai "aman”, kelompok minoritas tertentu dapat dikecualikan, seperti yang ditetapkan oleh ECJ. Untuk orang-orang dari kelompok tersebut, prosedur cepat tidak dapat diterapkan. Namun, secara potensial, lebih banyak negara dapat dikategorikan sebagai "negara asal yang aman”.
Kelompok pembela suaka "Pro-Asyl" mengkritik rencana reformasi suaka UE, karena standar untuk menentukan negara asal yang aman akan menurun secara drastis, menurut pakar hak asasi manusia, Judith. Hal ini akan menimbulkan lebih banyak lagi pertanyaan hukum.
Kisah Perempuan Muslim Melawan Diksriminasi di Myanmar
Minoritas Muslim di Myanmar biasanya menutup diri lantaran mengkhawatirkan intimidasi kelompok Buddha garis keras. Namun Win Lae Phyu Sin, seorang blogger Muslim, justru memilih sebaliknya.
Foto: Reuters/A. Wang
Perempuan Muslim Modern
Perempuan muda berusia 19 tahun ini menjadi pusat perhatian saat peluncuran produk kecantikan di Yangon. Pasalnya dia termasuk segelintir blogger kecantikan yang mengenakan jilbab. "Saya tidak menyesali keputusan mengenakan jilbab" kata Win. "Jilbab adalah kunci buat saya. Saya bisa berpergian kemanapun dan melakukan apapun yang saya suka."
Foto: Reuters/A. Wang
Rentan Diskriminasi
Kaum Muslim hanya berjumlah 5% dari 50 juta penduduk Myanmar. Kebanyakan mengeluhkan tidak bisa membangun masjid baru selama satu dekade terakhir dan kesulitan menyewa rumah dari pemilik beragama Buddha. Diskriminasi dan persekusi sistematis terhadap minoritas Muslim sedang marak di Myanmar. Lebih dari 700.000 anggota etnis Rohingya misalnya terpaksa melarikan diri ke Bangladesh.
Foto: Reuters/A. Wang
Persekusi Tanpa Akhir
Kaum muslim di Myanmar juga mengeluhkan tidak mendapat kartu identitas penduduk dan ditolak masuk ke sejumlah rumah ibadah. Demikian laporan Human Rights Network tahun lalu. Akibatnya kebanyakan kaum Muslim tidak bisa menikmati fasilitas yang disediakan pemerintah Myanmar.
Foto: Reuters/A. Wang
Pemberdayaan Perempuan
Buat sebagian murid Win Lae Phyu Sin, perawatan wajah dan kecantikan lebih dari sekedar urusan penampilan, tetapi juga membangun rasa percaya diri di tengah mayoritas Buddha. "Saya melihat perempuan berjilbab merias wajahnya dan dia terlihat sangat cantik," kata Hay Mann Aung tentang Win Lae Phyu Sin. "Saya ingin terlihat cantik seperti dia," imbuhnya.
Foto: Reuters/A. Wang
Jembatan Kebudayaan
Upaya Win Lae menghadirkan warna muda dan modern pada wajah Muslim Myanmar dengan mengenakan busana yang berpadu serasi dengan warna jilbabnya atau dengan dandanan yang menekankan kecantikan wajahnya, sukses menyedot penggemar non partisan. Ia mampu menonjolkan sisi positif kaum minoritas yang sering disalahpahami oleh masyarakat Myanmar.
Foto: Reuters/A. Wang
Meniti Sukses di Medsos
Win kini memiliki 6.000 pengikut di Facebook dan ribuan penggemar di kanal media sosial yang lain. Lebih dari 600 murid ikut serta dalam program pelatihan tentang bagaimana mengenakan kosmetika atau membangun studio kecantikan di rumah sendiri. Sejak awal tahun, sekitar 150 kursus yang ditawarkan Win selalu penuh pengunjung.
Foto: Reuters/A. Wang
Mengundang Permusuhan
Tapi upaya Win bukan tanpa cela. Ia berulangkali mendapat ejekan atau serangan verbal di media sosial ketika ketahuan ia seorang Muslimah. Sebaliknya kelompok Islam konservatif mengritiknya karena dianggap merusak moral perempuan Muslim di Myanmar. Namun Win tidak peduli. "Saya cuekin saja. Ada banyak pekerjaan yang harus saya tuntaskan," tukasnya. (rzn/as: Reuters)
Foto: Reuters/A. Wang
7 foto1 | 7
Aturan baru suaka seluruh Eropa
Konsep "negara asal yang aman” juga akan diterapkan dalam aturan suaka baru. Komisi Eropa telah mengajukan proposal untuk daftar bersama Eropa pada April lalu, di dalamnya termasuk Kosovo, Bangladesh, Kolombia, Mesir, India, Maroko, dan Tunisia.
Komisi Eropa juga mengusulkan pengecualian untuk "negara asal yang aman”, serta penerapan prosedur perbatasan sebelum 2026. Prosedur perbatasan diberlakukan bagi para pemohon suaka dengan peluang kecil (kurang dari 20 persen) menerima perlindungan internasional. Namun, hal ini masih harus menunggu persetujuan Parlemen UE dan negara-negara anggotanya.
"Dari sudut pandang kami, konsep negara asal yang aman bertentangan dengan prosedur suaka yang adil dan tidak memihak,” kata Judith. Ini hanyalah "salah satu elemen dalam kerangka besar yang bertujuan untuk mempersulit, mengisolasi, dan menakut-nakuti para pengungsi.”
Kamp pengungsian di Gjader, AlbaniaFoto: Alketa Misja/dpa/picture alliance
Tidak Menolak Model Albania
Kedua ahli sepakat: Putusan ECJ tidak secara umum memvalidasi Model Albania. Wiebke Judith menekankan,penerapan peraturan hukum Eropa tidak berlaku Albania. Selain itu, tindakan Italia menimbulkan masalah hak asasi manusia lainnya, misalnya terkait penahanan para pengungsi.
Di UE sendiri, model-model semacam ini telah dibahas sejak lama dengan istilah "solusi inovatif”. Denmark juga tertarik melakukan prosedur suaka di luar wilayahnya. Jerman dan beberapa negara lainnya ingin dapat menempatkan pemohon suaka yang ditolak di negara ketiga.
Lantas dapatkah keputusan ECJ berlaku di Albania? Hal ini lah yang turut disoroti pakar hukum De Leo. Negara-negara angota UE lain yang mendukung model Italia-Albania ini tentu menantikan putusan ini.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman