Apa Peran Cina dan Rusia dalam Konflik AS Melawan Venezuela?
24 Desember 2025
Di Venezuela, keberadaan armada perang Amerika Serikat (AS) di Laut Karibia meluapkan ketegangan di kawasan. Kapal-kapal perang AS tak lagi hanya membidik perahu yang dituding membawa narkotika, tetapi sejak Desember 2025 juga menghentikan tanker minyak milik Venezuela. Meski peran rezim Nicolas Maduro dalam perdagangan narkoba masih diperdebatkan analis, satu hal nyaris tak terbantahkan: minyak adalah urat nadi ekonomi negeri.
Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel, meski infrastrukturnya remuk karena salah urus bertahun-tahun. Dalam kalkulasi strategis Presiden AS Donald Trump, yang dikenal ramah industri minyak, kekayaan ini hampir pasti menjadi faktor penting. Bagaimanapun juga, minyak pula yang selama ini melumasi gerak diplomasi Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Meski demikian, konflik Venezuela tak bisa dijelaskan oleh minyak semata, menurut analis. Beragam kepentingan global bertaut, termasuk manuver dua kekuatan besar lain: Cina dan Rusia.
Apa sasaran Cina di Venezuela?
Bagi Cina, Venezuela adalah sumber energi alternatif di tengah kompetisi global perebutan bahan baku dan sumber daya alam. Meski kontribusinya baru sekitar 4% dari total impor minyak Cina, volume minyak Venezuela terus meningkat.
Reuters mengutip analis pasar yang memperkirakan impor Cina dari Venezuela bisa melampaui 600 ribu barel per hari, hampir seluruh produksi harian Venezuela.
Jenis minyak Merey yang terkena sanksi Barat justru menguntungkan Beijing. Sebagai imbalannya, aliran dana Cina mengucur deras ke Caracas, terutama lewat kredit. Sejumlah estimasi menyebut utang Venezuela ke Cina mencapai 60 –70 miliar dolar AS.
Cina juga menancapkan pengaruh lewat teknologi dan persenjataan. Infrastruktur telekomunikasi Venezuela banyak bertumpu pada komponen asal Tiongkok. Pada September lalu, Maduro bahkan memamerkan ponsel Huawei yang disebutnya hadiah langsung dari Presiden Xi Jinping dan, menurut klaimnya, mustahil diretas intelijen AS.
Keselarasan ideologis turut memperkuat hubungan ini. Sosialisme nasionalis ala Caracas relatif sejalan dengan doktrin Partai Komunis Cina. Dengan mengecam penyitaan tanker Venezuela, Cina memosisikan diri sebagai sekutu. Pada saat yang sama, keterlibatan Cina di Venezuela berpotensi menyita kekuatan AS di "halaman belakangnya”, ketika Washington ingin memusatkan perhatian ke Indo-Pasifik dan Taiwan.
Kenapa Rusia nimbrung?
Rusia juga melihat Amerika Latin sebagai panggung untuk menantang dominasi AS. Hubungan Moskow–Caracas menguat sejak era Hugo Chávez. Rusia menjadi pemasok senjata utama dan memperoleh dukungan diplomatik Venezuela dalam konflik Georgia 2009.
Ketika kekuasaan Maduro terancam pada 2019, saat Juan Guaidó mengklaim diri sebagai presiden interim dengan dukungan AS, Rusia turun tangan cepat. Dua pesawat militer dikirim ke Caracas. "Untuk pertama kalinya sejak Krisis Kuba, AS terpaksa bernegosiasi langsung dengan Rusia soal Amerika Latin,” kata Vladimir Rouvinski dari Universitas Icesi, Kolombia.
Namun dalam konfrontasi terbaru, Moskow tampak lebih berhati-hati. Dukungan sejauh ini terbatas pada pernyataan politik.
Apa ambisi Amerika Serikat?
Trump, lewat laman media sosial Truth Social, menuntut Venezuela mengembalikan "minyak, tanah, dan aset lain” yang disebutnya pernah "dicuri”. Pernyataan ini diduga merujuk pada nasionalisasi industri minyak Venezuela pada 2007, yang tak sepenuhnya mengganti rugi perusahaan AS. Saat ini, hanya Chevron yang masih beroperasi lewat pengaturan khusus.
Kepentingan AS justru lebih besar di Guyana, tetangga Venezuela, yang berseteru dengan Venezuela seputar wilayah Essequibo yang kaya minyak dan juga diklaim Caracas. Dari sudut pandang Washington, ada lebih dari satu alasan ekonomi untuk mendorong kejatuhan Maduro.
Pada masa jabatan pertamanya, Trump memperketat sanksi yang diwarisi dari Barack Obama dan mencoba menggoyang Caracas. Upaya itu gagal. Kini, Trump tampak lebih bersikeras. Venezuela kembali menjadi simpul konflik, tempat kepentingan energi, ideologi, dan geopolitik global saling berkelindan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid