Apakah Merek Fesyen Eropa Benar-Benar Ramah Lingkungan?
26 November 2025
Dua puluh tahun lalu, keberlanjutan hampir tidak dibahas dalam komunikasi publik perusahaan fesyen. Seiring meningkatnya perhatian dunia pada perubahan iklim, polusi, dan praktik ketenagakerjaan, situasinya berubah. Kini, perusahaan lebih menonjolkan upaya mereka untuk menggunakan kapas yang lebih ramah lingkungan serta mengurangi penggunaan air dan emisi gas rumah kaca dalam produksi lini pakaian mereka.
DW bersama European Data Journalism Network (EDJNet) mengevaluasi 468 komitmen keberlanjutan dari lebih 200 laporan oleh 17 perusahaan fesyen terbesar Eropa. Hasilnya menunjukkan beberapa perusahaan sudah cukup memenuhi komitmen mereka, sementara yang lain masih jauh dari target. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar fesyen berkelanjutan menjadi sebuah kebiasaan.
Dampak industri fesyen: Polusi, deforestasi, dan bahan bakar fosil
Menurut studi yang dilakukan oleh World Resources Institute pada 2021, diperkirakan industri fesyen bertanggung jawab atas 2% hingga 7% emisi global. Data ini masih bersifat perkiraan karena seluruh catatan emisi rantai pasokan fesyen saat ini belum lengkap dan sangat kompleks. Sebagai perbandingan, sektor penerbangan menyumbang sekitar 2,5%total emisi global.
Sebagian besar emisi industri fesyen berasal dari produksi pakaian, seperti kegiatan menanam atau mengekstraksi bahan serat, memintal benang, hingga membuat dan mewarnai kain, yang semuanya menyedot banyak energi. Belum lagi masalah keberlanjutan yang muncul dari tingginya penggunaan air dan bahan kimia berbahaya. Sebuah studi dari tahun 2017 memperkirakan serat tekstil sintetis menyumbang 35% sampah mikroplastik di lautan dunia.
Kesadaran akan masalah ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir. "Banyak laporan mengekspos pelanggaran lingkungan dan hak asasi manusia dalam proses produksi merek fesyen tertentu, terutama pada satu dekade terakhir,” kata Urska Trunk, pimpinan kampanye senior di Changing Markets Foundation di Brussels, yang mendorong aturan keberlanjutan yang lebih menyeluruh.
"Contohnya, setelah runtuhnya Rana Plaza, gedung pabrik garmen di Bangladesh pada 2013 yang menewaskan lebih dari 1.100 pekerja, banyak pihak mulai menyelidiki bagaimana produksi pakaian, bahan kimia, toksisitas, deforestasi, dan sebagainya,” ujar Trunk. "Dengan semakin banyaknya fakta yang terungkap, konsumen pun ingin tahu apakah pakaian mereka diproduksi dengan cara yang bertanggung jawab, secara sosial maupun lingkungan.”
Beberapa perusahaan mulai menetapkan strategi keberlanjutan di awal 2000-an, sementara yang lain baru mulai pada tahun 2015 atau setelahnya. Retailer online Zalando yang didirikan pada tahun 2008 baru menerbitkan strategi keberlanjutannya pada 2015. Merek ternama lainnya bahkan lebih lambat menerapkannya daripada mereka.
DW, bersama media berita rekanannya, menghubungi beberapa merek pakaian soal komitmen keberlanjutan mereka, tapi hingga artikel ini diunggah masih belum ada tanggapan.
Perusahaan fesyen hanya capai setengah target keberlanjutan
Kinerja perusahaan dalam menindaklanjuti komitmen keberlanjutan sangat berbeda-beda. Dari 468 komitmen perusahaan yang dianalisis, sekitar setengahnya memiliki tenggat hingga akhir 2025 atau lebih, mencakup pengurangan emisi, penggunaan bahan ramah lingkungan, efisiensi energi, dan pengelolaan limbah.
Secara keseluruhan, perusahaan telah memenuhi sekitar setengah dari komitmen yang tenggat waktunya sudah lewat. Sekitar sepertiga gagal, sisanya tidak jelas.
Merek Zalando paling sering gagal memenuhi target, dengan 10 dari 17 target yang dianalisis tidak tercapai. Misalnya, target internal mereka pada 2019 untuk "menghasilkan 25% Gross Merchandise Volume (GMV) dari produk lebih berkelanjutan pada 2023” hanya tercapai 10,5%. Saat dikonfirmasi DW, Zalando menyatakan tetap berkomitmen pada transparansi dalam ‘perjalanan keberlanjutan' mereka, termasuk target keberlanjutan yang belum tercapai dan langkah yang diambil selanjutnya.
Juru bicara perusahaan mengatakan, "Memang kami belum memenuhi beberapa target keberlanjutan,” termasuk target GMV 25% produk berkelanjutan. Juru bicara tersebut menambahkan, hal ini karena perusahaan mengadopsi "standar produk keberlanjutan yang lebih ketat.” Berdasarkan pengalaman sebelumnya, perusahaan tersebut meluncurkan pendekatan keberlanjutan terbaru pada Maret 2024 dengan target berbasis sains yang sudah diperbarui.
Beberapa perusahaan lain membuat komitmen yang kurang jelas. Misalnya, target-target perusahaan seperti Mango dari Spanyol, Primark dari Inggris, dan OVS dari Italia tidak jelas atau berubah parameternya. Mango gagal memenuhi targetnya pada 2012 untuk "menghilangkan bahan berbahaya di seluruh rantai pasokan fesyen” pada 2020. Saat diminta klarifikasi, Mango tidak memberikan penjelasan.
OVS mengonfirmasi bahwa target mereka pada 2017 untuk "memproduksi 3 juta pakaian dari kain daur ulang konsumen” gagal tercapai pada 2020, tapi tidak menyebutnya dalam laporan publik.
Dari analisa DW terhadap komitmen merek-merek fesyen dari tahun 2000 hingga 2024, hanya ada sekitar sepertiga komitmen merek fesyen mewah yang berhasil dilakukan dari total 235 target yang sudah melewati tenggatnya. H&M memiliki 49 komitmen keberlanjutan, dengan 23 tercapai, 6 belum jelas, dan 20 gagal. Sementara itu, Adidas memiliki 28 komitmen, dengan 15 tercapai, 2 belum jelas, dan 11 gagal.
Merek mewah tetap diam soal keberlanjutan
Sebelum publikasi artikel ini, semua perusahaan yang dianalisis telah dihubungi mengenai strategi dan komitmen keberlanjutan mereka. Tujuh merek tidak merespons sama sekali, termasuk sebagian besar merek mewah. Organisasi payung yang menaungi beberapa merek mewah juga tidak menanggapi permintaan komentar DW.
"Merek mewah biasanya sangat diam,” kata Rachel Kitchin, koordinator kampanye senior di Stand.earth, organisasi advokasi Amerika Serikat, yang menerbitkan Fossil-Free Fashion Scorecard setiap dua tahun untuk menilai komitmen dan langkah perusahaan dalam mengurangi jejak karbon rantai pasokan fesyen.
Karena merek mewah tidak memiliki batasan harga yang menghalangi investasi di rantai pasokan fesyen, seharusnya mereka bisa secara otomatis menerapkan produksi berkelanjutan. "Tapi kalau mereka melakukan sesuatu, mereka tidak memberi tahu siapa pun,” kata Kitchin. "Mungkin karena mereka juga bekerja sama dengan pemasok yang juga memasok merek non-mewah dan tidak ingin diketahui.”
Pelaporan bertanggung jawab untuk janji iklim fesyen
Dari 468 klaim yang dianalisis DW, setengahnya cukup spesifik mencantumkan definisi yang jelas tentang apa yang harus dicapai, termasuk tenggat waktunya.
Primark dan Hermès punya proporsi komitmen ambigu tertinggi. Misalnya, Hermès pada tahun 2021 menjanjikan "mendaur ulang 100% sisa produksi dari pabrik tekstil Prancis pada tahun 2025.” Meskipun ada tenggat dan bahasa yang konkret, sulit bagi konsumen memahami maksud "sisa produksi” dan bagaimana mengevaluasi sisa produksi yang "didaur ulang” tersebut.
Hermès pada 2024 menjanjikan "melakukan minimal dua studi per tahun dengan mitra akademik soal biodiversitas hingga akhir 2026.” Namun, pernyataan ini masih membingungkan, terutama soal siapa yang dimaksud sebagai "mitra akademik” dan apa yang termasuk "isu biodiversitas.”
Stand.earth menilai janji ambigu seperti ini sudah sangat umum. "Sebagian besar perusahaan hanya sampai menetapkan target, tapi tidak menjelaskan bagaimana cara untuk mencapainya. Kalau target ada tapi tidak ada info cara mencapainya, itu tanda greenwashing,” ungkap Kitchin.
Komitmen untuk menggunakan kapas yang berkelanjutan
Beragam janji dan definisi yang ada membuat perbandingan antar merek jadi sulit. Salah satu isu besar yang ada adalah kapas berkelanjutan. Tanaman kapas menyerap banyak air, membutuhkan penggunaan pestisida dan pupuk yang tinggi, serta praktik kerja yang sangat eksploitatif.
Merek H&M, yang lebih banyak menggunakan kapas daripada bahan lain di seluruh produknya, mulai mencoba beralih ke kapas organik lebih dari 20 tahun lalu. Target awal perusahaan adalah 20 ton kapas organik untuk seluruh lini pada 2005. Pada 2010, H&M sudah melampaui target 15.000 ton yang ditetapkan untuk 2013. Hingga 2020, perusahaan berhasil sepenuhnya menghentikan penggunaan kapas konvensional.
Merek Adidas dan H&M termasuk perusahaan Eropa pertama yang berhasil berkomitmen pada penggunaan kapas yang lebih berkelanjutan. Mereka ikut serta dalam program yang bertujuan menetapkan standar praktis tentang apa yang dimaksud dengan produksi yang "lebih berkelanjutan”, seperti Better Cotton Initiative (BCI).
Meski para penggiat keberlanjutan berpendapat bahwa sertifikasi seperti BCI seharusnya lebih ketat, banyak merek bahkan gagal memenuhi standar minimal ini. Misalnya, retailer fesyen online Zalando yang belum menetapkan target 100% kapas yang berkelanjutan, termasuk beberapa merek mewah yang juga belum berkomitmen pada target 100% tersebut, menurut data yang ada.
Fesyen masih bergantung pada bahan bakar fosil
Hanya sedikit merek yang berkomitmen menghentikan penggunaan bahan utama produksi seperti plastik. Serat sintetis menyumbang 69% produksi serat global pada 2024. Banyak perusahaan menjanjikan "bahan pakaian yang lebih berkelanjutan”, tapi ini bisa termasuk poliester daur ulang yang kualitas dan dampaknya masih diragukan.
"Hampir semua poliester daur ulang dibuat dari botol plastik, bukan pakaian lama,” kata Trunk. "Bukan solusi berkelanjutan, karena botol bisa didaur ulang terus-menerus jadi botol. Tapi kalau dijadikan kaos atau rok, tidak bisa didaur ulang lagi.”
Karena belum ada teknologi yang siap digunakan secara komersial untuk mendaur ulang pakaian lama menjadi pakaian baru, Trunk mengatakan, janji-janji daur ulang seperti ini lebih seperti kedok bagi perusahaan untuk menutupi ketergantungan mereka pada material berbasis bahan bakar fosil.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Bisakah perusahaan fesyen mengatur diri sendiri untuk praktik keberlanjutan?
Trunk mengatakan, salah satu masalah utama adalah kurangnya pengawasan industri di masa lalu. "Dulu industri ini berjalan tanpa aturan," ujarnya. "Mereka bisa mengatakan apa pun yang mereka mau tanpa harus menyediakan bukti pendukung pernyataan mereka.”
Seiring meningkatnya kesadaran konsumen dan kemajuan teknologi, berbagai organisasi mulai bekerja langsung dengan perusahaan untuk menerapkan standar produksi keberlanjutan dan mengawasi komitmen sukarela perusahaan.
"Langkah sukarela dari perusahaan jelas penting," kata Jules Lennon, koordinator strategi di Ellen MacArthur Foundation. "Tapi pengalaman kami menunjukkan langkah sukarela ini tidak berlangsung lama. Dibutuhkan dukungan berupa kebijakan yang mengikat dan ambisius."
EU dalam tahap pembahasan laporan produksi keberlanjutan
Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) Uni Eropa yang berlaku pada tahun 2024 mewajibkan perusahaan besar mengungkap info penggunaan sumber daya, dampak iklim, dan aksi keberlanjutan dalam format yang sudah ditentukan ke publik.
Adidas, LVMH, Hermès, dan merek lainnya sudah menyiapkan laporan pada tahun 2024 sesuai CSRD, tapi Komisi Eropa pada awal 2025 menunda implementasi laporan tersebut dan mengecualikan banyak perusahaan kecil.
Green Claims Directive, regulasi EU lain untuk lawan greenwashing, masih belum jelas setelah adanya tekanan dari partai konservatif Partai Rakyat Eropa.
Meski regulasi ini mungkin tertunda, diskursusnya kini bergeser dari "apakah industri fesyen harus diatur” menjadi "bagaimana cara mengaturnya.” Urska Trunk menilai sudah terlihat adanya kemajuan.
"Mereka diam-diam menghapus klaim paling menyesatkan,” katanya. "Konsumen kini lebih sadar dan meminta info yang lebih akurat. Para perusahaan tahu kalau mereka bisa kena konsekuensinya kalau klaim mereka tidak didukung bukti.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Pratama Indra
Editor: Yuniman Farid