1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialEropa

Apakah Pembatasan Umur di Media Sosial Bisa Lindungi Anak?

13 April 2026

Sejumlah negara ingin membatasi umur pemakaian platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Namun, apakah pembatasan seperti ini benar-benar bisa mengatasi masalah yang ditimbulkan media sosial?

Ilustrasi remaja dengan ponsel
Meski media digital memberi ruang bagi anak dan remaja untuk belajar serta berinteraksi, studi menunjukkan penggunaan berlebihan dapat berdampak negatifFoto: Claudio Galdames Alarcon/Anadolu/picture alliance

Saat ini, pemerintah di sejumlah negara berupaya membatasi akses anak di bawah umur ke media sosial.

Negara-negara tersebut antara lain Prancis, Selandia Baru, Norwegia, Indonesia, Malaysia, Slovenia, Spanyol, dan Inggris. Jerman juga tengah mempertimbangkan langkah serupa.

Australia menjadi negara pertama yang memberlakukan larangan media sosial bagi pengguna di bawah 16 tahun pada akhir 2025. Indonesia juga menetapkan batas usia pada akhir Maret.

Tujuan dari kebijakan ini adalah melindungi anak-anak. Hal ini tampak masuk akal, mengingat waktu layar (screen time) yang tinggi kerap memicu konflik dalam keluarga. Menurut studi 2025 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), setengah dari remaja berusia 15 tahun di negara-negara OECD menghabiskan setidaknya 30 jam per minggu menggunakan perangkat digital.

Meski begitu, pertanyaan tetap muncul: Apakah pembatasan usia benar-benar cara terbaik untuk mengatasi dampak negatif media sosial?

Larangan Medsos Australia Gagal?

00:54

This browser does not support the video element.

'Seruan batas usia mudah menarik perhatian'

Psikolog dan ahli saraf Christian Montag menilai perdebatan ini meleset dari pusat masalah. "Ketika teknologi baru muncul, kepanikan moral cepat mengikuti," ujar profesor ilmu kognitif dan otak di University of Macau itu. "Bukan berarti kekhawatiran para politisi tidak nyata, tetapi menyerukan pelarangan media sosial adalah cara cepat untuk menarik perhatian tanpa banyak usaha."

Peneliti pendidikan Nina Kolleck juga bersikap skeptis. Ia mengatakan pengalaman Australia menunjukkan bahwa mendorong batas usia tidaklah mudah. Namun, "kita belum menyelesaikan masalah mendasar media sosial, hanya menaikkan batas usia masuk sedikit."

Masalahnya dimulai dari algoritma personal yang berpotensi adiktif serta fitur seperti notifikasi dan sistem scroll tanpa henti atau infinite scrolling yang dirancang agar pengguna terus bertahan di platform.

Selain itu, pengguna juga dapat terpapar konten kekerasan atau seksual, kata Kolleck.

Meski media digital memberi ruang bagi anak dan remaja untuk belajar, bermain, dan berinteraksi, studi dari OECD menunjukkan penggunaan berlebihan dapat berdampak negatif, mulai dari gangguan tidur dan kurang aktivitas fisik hingga cyberbullying, isolasi sosial, dan depresi.

Montag menambahkan, sulit mengisolasi dampak media sosial secara pasti karena faktor lain seperti lingkungan dan genetika juga berperan. Namun, kaitan antara penggunaan berlebihan dengan penurunan prestasi akademik cukup jelas, begitu pula dengan meningkatnya gangguan citra tubuh (body image) di kalangan pengguna media sosial.

Orang dewasa pun kesulitan mengatur screen time

Christian Montag mengatakan anak-anak dan remaja sangat rentan terhadap dampak negatif media sosial.

"Otak manusia membutuhkan waktu lama untuk berkembang," ujarnya. "Kami memperkirakan korteks prefrontal baru sepenuhnya matang sekitar usia 20 tahun atau bahkan pertengahan 20-an."

"Artinya, anak di bawah umur lebih sulit mengontrol diri dan lebih susah melepaskan ponsel dibanding orang dewasa."

Walau begitu, orang dewasa juga cukup rentan. Banyak orang yang berusia di atas 20 tahun juga mengalami kesulitan serupa terkait penggunaan media sosial.

Hal ini memunculkan pertanyaan: apakah larangan media sosial bagi anak di bawah 14 atau 16 tahun benar-benar efektif?

Para ahli menilai perdebatan perlu diperluas. Pembatasan usia hanyalah salah satu dari berbagai langkah yang diperlukan. Nina Kolleck menyebutnya sebagai "pseudo-debat yang mengalihkan perhatian dari solusi yang lebih efektif."

Banyak niat baik dalam Digital Services Act

Menurut Kolleck, banyak langkah efektif sebenarnya yang sudah diatur dalam Undang-Undang Digital (Digital Services Act/DSA) milik Uni Eropa. Aturan ini mewajibkan platform besar seperti TikTok dan Instagram untuk meningkatkan perlindungan pengguna, mengurangi risiko secara sistematis, serta lebih transparan soal algoritma.

DSA juga mewajibkan perusahaan memberikan akses data kepada peneliti independen agar bisa mengkaji dampak fitur terhadap pengguna. Namun, menurut Montag, akses ini masih jauh dari cukup.

"Selama bertahun-tahun kami seperti bekerja dengan tangan terikat, dan hingga kini aksesnya masih sangat terbatas," ujarnya.

Selain itu, efektivitas DSA juga belum sepenuhnya terbukti atau diterapkan secara merata. Presiden AS Donald Trump juga menjadi tantangan tersendiri, karena kerap membela perusahaan teknologi AS dari denda besar Uni Eropa dengan ancaman tarif balasan.

Pada akhirnya, aturan DSA pun hanya berlaku di negara-negara Uni Eropa.

Skema bisnis yang bermasalah

Mengurangi atau menyesuaikan fitur desain tertentu bagi pengguna di bawah umur bisa menjadi cara lain untuk menekan dampak negatif media sosial. Menurut Christian Montag, Douyin, versi TikTok di Cina memiliki versi khusus untuk anak di bawah 14 tahun yang hanya memungkinkan scrolling selama 40 menit. Setelah itu, tidak ada konten baru yang ditampilkan.

TikTok sendiri sudah memiliki batas waktu, tetapi mudah dimatikan. Anak di bawah 13 tahun secara teori membutuhkan kode dari orang tua untuk memperpanjang waktu penggunaan. Namun, ini sering tidak efektif karena pengguna bisa memasukkan tanggal lahir apa saja saat membuat akun.

Montag menilai, pada akhirnya platform perlu didesain secara berbeda secara mendasar, bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga orang dewasa. "Apakah skema bisnis berbasis data yang memata-matai pengguna dan memaksimalkan waktu online itu tidak sehat? Ya," ujarnya. "Saya tidak perlu menunggu studi ilmiah untuk melihat dampak psikologisnya."

Di luar perdebatan soal batas usia dan literasi digital, tekanan perlu diarahkan pada platform agar diatur lebih ketat. Montag menyarankan model alternatif, misalnya berbasis langganan, bukan data. "Jika platform tidak lagi dirancang untuk membuat orang terus terpaku pada layar, mungkin memang akan terasa lebih membosankan, tetapi lebih sehat."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Cinta Zanidya

Editor: Melisa Lolindu

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait