1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PanoramaGlobal

Arab Saudi Umumkan Rabu Sebagai Awal Ramadan

Zac Crellin AFP, AP, dpa
18 Februari 2026

Kerajaan Arab Saudi mengumumkan terlihatnya hilal pada Selasa (17/2) malam dan mengumumkan dimulainya Ramadan pada hari Rabu (18/2). Namun, di sejumlah negara lain, bulan puasa baru akan dimulai pada hari Kamis (19/2).

Mesir, Kairo 2025 | Iftar bersama pada Hari Arafah di Masjid Al-Azhar
Umat Muslim berbuka puasa setelah salat magrib selama bulan RamadanFoto: Ahmed Mosaad/NurPhoto/picture alliance

Ratusan juta umat Muslim di seluruh dunia bersiap menjalankan ibadah puasa Ramadan setelah Arab Saudi mengumumkan munculnya hilal sebagai penanda awal bulan Ramadan pada Selasa malam (17/2).

Selama Ramadan, umat muslim menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, lalu berbuka dengan hidangan iftar. Bulan ini menjadi momen peningkatan ibadah, refleksi keagamaan, dan amal, sekaligus waktu bagi keluarga dan komunitas untuk berkumpul saat berbuka puasa, yang berpuncak pada perayaan Idulfitri.

Namun, awal Ramadan tidak selalu seragam. Sejumlah negara mengikuti Saudi dan memulai ibadah puasa dimulai Rabu (18/2), sementara yang lain menetapkannya pada Kamis (19/2).

Saudi umumkan terlihatnya hilal

Ramadan dimulai setelah penampakan bulan sabit pertama.

Terlihatnya hilal pada Selasa malam (17/2) disikapi Mahkamah Kerajaan dengan mengumumkan hari pertama Ramadan pada Rabu. Keputusan Arab Saudi kerap diikuti oleh sejumlah negara mayoritas Muslim lainnya.

Umat Muslim di seluruh dunia mengamati hilal untuk menentukan awal Ramadan, namun penetapan di Arab Saudi memiliki pengaruh besar terhadap tanggal dimulainya puasa di banyak negaraFoto: Fayez Nureldine/AFP

Negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab juga menetapkan awal Ramadan pada Rabu (18/2).

Sementara itu, otoritas keagamaan di beberapa negara, termasuk Yordania, Oman, Suriah, dan Turki, menyatakan Ramadan akan dimulai pada Kamis (19/2).

Perbedaan pandangan astronom

Otoritas keagamaan Saudi tetap mengandalkan rukyat atau pengamatan langsung hilal, praktik yang telah dijalankan sejak masa Nabi Muhammad SAW. 

Usai salat magrib, tim pemantau yang tersebar di berbagai wilayah dengan tingkat polusi cahaya rendah melaporkan hasil pengamatan kepada Mahkamah Agung Arab Saudi, yang kemudian mengumumkan awal Ramadan.

Namun, perkembangan astronomi modern meningkatkan akurasi dalam memprediksi visibilitas bulan. Penghitungan ini dikenal dengan metode hisab.

Sejumlah astronom berpendapat bahwa hilal belum mungkin terlihat pada Selasa malam (17/2).

Akademi Astronomi, Ilmu Antariksa, dan Teknologi Sharjah di Uni Emirat Arab serta Komite Utama Penetapan Hilal Oman menyatakan hilal baru dapat terlihat pada Rabu malam (18/2), sehingga Ramadan seharusnya dimulai pada Kamis (19/2).

Imad Ahmed, pendiri dan direktur New Crescent Society, mengatakan kepada Middle East Eye bahwa pada Selasa, 17 Februari 2026, secara astronomis hilal mustahil terlihat, baik dengan teleskop berkekuatan tinggi maupun dengan mata telanjang di kawasan Timur Tengah, bahkan di seluruh Asia, Afrika, dan Eropa.

Dalam beberapa tahun sebelumnya, otoritas Saudi juga pernah menetapkan awal Ramadan meski sejumlah astronom menyatakan penampakan hilal tidak sesuai dengan penghitungan hisab.

 

Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rikzki Nugraha