Kerajaan Arab Saudi mengumumkan terlihatnya hilal pada Selasa (17/2) malam dan mengumumkan dimulainya Ramadan pada hari Rabu (18/2). Namun, di sejumlah negara lain, bulan puasa baru akan dimulai pada hari Kamis (19/2).
Umat Muslim berbuka puasa setelah salat magrib selama bulan RamadanFoto: Ahmed Mosaad/NurPhoto/picture alliance
Iklan
Ratusan juta umat Muslim di seluruh dunia bersiap menjalankan ibadah puasa Ramadan setelah Arab Saudi mengumumkan munculnya hilal sebagai penanda awal bulan Ramadan pada Selasa malam (17/2).
Selama Ramadan, umat muslim menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, lalu berbuka dengan hidangan iftar. Bulan ini menjadi momen peningkatan ibadah, refleksi keagamaan, dan amal, sekaligus waktu bagi keluarga dan komunitas untuk berkumpul saat berbuka puasa, yang berpuncak pada perayaan Idulfitri.
Namun, awal Ramadan tidak selalu seragam. Sejumlah negara mengikuti Saudi dan memulai ibadah puasa dimulai Rabu (18/2), sementara yang lain menetapkannya pada Kamis (19/2).
Saudi umumkan terlihatnya hilal
Ramadan dimulai setelah penampakan bulan sabit pertama.
Terlihatnya hilal pada Selasa malam (17/2) disikapi Mahkamah Kerajaan dengan mengumumkan hari pertama Ramadan pada Rabu. Keputusan Arab Saudi kerap diikuti oleh sejumlah negara mayoritas Muslim lainnya.
Umat Muslim di seluruh dunia mengamati hilal untuk menentukan awal Ramadan, namun penetapan di Arab Saudi memiliki pengaruh besar terhadap tanggal dimulainya puasa di banyak negaraFoto: Fayez Nureldine/AFP
Negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab juga menetapkan awal Ramadan pada Rabu (18/2).
Sementara itu, otoritas keagamaan di beberapa negara, termasuk Yordania, Oman, Suriah, dan Turki, menyatakan Ramadan akan dimulai pada Kamis (19/2).
Iklan
Perbedaan pandangan astronom
Otoritas keagamaan Saudi tetap mengandalkan rukyat atau pengamatan langsung hilal, praktik yang telah dijalankan sejak masa Nabi Muhammad SAW.
Usai salat magrib, tim pemantau yang tersebar di berbagai wilayah dengan tingkat polusi cahaya rendah melaporkan hasil pengamatan kepada Mahkamah Agung Arab Saudi, yang kemudian mengumumkan awal Ramadan.
Namun, perkembangan astronomi modern meningkatkan akurasi dalam memprediksi visibilitas bulan. Penghitungan ini dikenal dengan metode hisab.
Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota
Bagi sebagian kaum marginal ibu kota, jelang berbuka puasa adalah saat mengumpulkan donasi nasi kotak atau uang. Namun, sebagian memilih tetap bekerja, baik dengan mencari botol bekas maupun jadi seniman jalanan.
Foto: N. Indradona/DW
'Ngabuburit' jadi saat yang ditunggu
Ngabuburit adalah aktivitas mengisi waktu di sore hari sambil menunggu berbuka puasa saat Ramadan. Sejumlah warga Jakarta baik muda dan tua mengisi kegiatan tersebut, salah satunya dengan mengunjungi kawasan wisata Kota Tua yang terletak di Jakarta Barat.
Foto: N. Indradona/DW
Seniman ikut mengais rezeki
Ramainya pengunjung tentu membuat seniman di kawasan wisata Kota Tua tidak ingin melewatkan kesempatan mengais rezeki di bulan Ramadan. Ada dari mereka yang beribadah puasa, ada juga yang tidak.
Foto: N. Indradona/DW
Berharap pengunjung ikut berbagi
Para seniman jalanan ini berharap pengunjung rela berbagi rezeki untuk dapat membeli bekal berbuka puasa atau untuk keluarga di rumah. Kegiatan ini dilakukan hampir setiap hari oleh para seniman jalanan sambil menunggu bedug Magrib berbunyi.
Foto: N. Indradona/DW
Kesejahteraan sosial belum merata
Tidak jauh dari kawasan wisata Kota Tua, yakni di sekitar Stasiun Kota, dengan mudah dapat dijumpai warga dengan masalah kesejahteraan sosial. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta 2020, jumlahnya di Jakarta Barat lebih tinggi dibandingkan wilayah Jakarta lainnya.
Foto: N. Indradona/DW
Berharap derma dari warga
Menjelang berbuka, sejumlah warga berkeliling untuk mengemis. Seorang ibu ini misalnya, sanggup meraup Rp200.000 per hari dari mengemis mulai jam 12 siang hingga 12 malam. Ibu berusia 40 tahun ini mengaku pernah tiga kali diangkut paksa oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Barat. Hari itu, ibu ini sedang tidak berpuasa.
Foto: N. Indradona/DW
Tidak semua menggantungkan hidup dari meminta
Sementara Berlin Jola (68), warga Bandung bercucu tiga ini memilih merantau sebagai pemulung di Jakarta. Berlin tidak ingin mengandalkan hidupnya dari anak-anaknya.
Foto: N. Indradona/DW
Batalkan puasa dengan segelas air mineral
Selama masih sehat, Berlin Jola ingin terus bekerja secara mandiri. Dia tidak pernah diangkut paksa oleh Satpol PP. Hari ini dia tidak berpuasa karena lelah memperbaiki gerobaknya. Biasanya Berlin membatalkan puasa dengan segelas air mineral.
Foto: N. Indradona/DW
Saat Ramadan penghasilannya agak berkurang
Berlin mengaku sudah merantau di Jakarta sejak 2014. Dia mengumpulkan gelas dan botol plastik di tempat sampah atau yang berserakan di jalan. Saat Ramadan penghasilannya per minggu mencapai Rp500.000 sedangkan di bulan-bulan lain ia bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp800.000 per minggu.
Foto: N. Indradona/DW
Berjalan kaki keliling Jakarta
Berlin pernah berjalan kaki puluhan kilometer seantero Jakarta untuk mengumpulkan gelas dan botol plastik. Dia hidup dan tinggal di dalam gerobaknya. Berlin bahkan punya lemari mini di dalam gerobak untuk menyimpan beberapa helai baju ganti. Terpal gerobak digunakan untuk melindungi diri dari panas dan hujan.
Foto: N. Indradona/DW
Menunggu pembagian nasi kotak
Di tempat lain, ketiga ibu ini mengandalkan kemurahan hati dermawan yang ngabuburit membagikan nasi kotak jelang buka puasa. Mereka biasa ‘nongkrong’ di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, sejak pukul 16.30 WIB.
Foto: N. Indradona/DW
Kadang dapat menu menggugah selera
Hari itu, masing-masing dari mereka membawa pulang dua nasi kotak untuk berbuka puasa dengan keluarga di rumah. Nasi dan lauknya pun cukup menggugah selera. Namun terkadang mereka tidak mendapatkan nasi kotak sama sekali. (ae)
Foto: N. Indradona/DW
11 foto1 | 11
Sejumlah astronom berpendapat bahwa hilal belum mungkin terlihat pada Selasa malam (17/2).
Akademi Astronomi, Ilmu Antariksa, dan Teknologi Sharjah di Uni Emirat Arab serta Komite Utama Penetapan Hilal Oman menyatakan hilal baru dapat terlihat pada Rabu malam (18/2), sehingga Ramadan seharusnya dimulai pada Kamis (19/2).
Imad Ahmed, pendiri dan direktur New Crescent Society, mengatakan kepada Middle East Eye bahwa pada Selasa, 17 Februari 2026, secara astronomis hilal mustahil terlihat, baik dengan teleskop berkekuatan tinggi maupun dengan mata telanjang di kawasan Timur Tengah, bahkan di seluruh Asia, Afrika, dan Eropa.
Dalam beberapa tahun sebelumnya, otoritas Saudi juga pernah menetapkan awal Ramadan meski sejumlah astronom menyatakan penampakan hilal tidak sesuai dengan penghitungan hisab.
Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rikzki Nugraha