1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Teknik Menjaga Pohon: Arborikultur

19 Februari 2026

Pohon di tengah kota punya banyak manfaat, tetapi juga membahayakan jika tak terawat. Dengan keahliannya, para arboris menjaga kesehatan pohon sekaligus melindungi keselamatan warga.

Ilustrasi pohon rimbun di perkotaan
Di balik rimbunnya pohon, ada ancaman yang bisa berbahaya bagi wargaFoto: Joan Aurelia Rumengan/DW

Bila dipandang sepintas, tidak ada yang janggal dari pohon-pohon besar yang berdiri berjajar di tepi jalan raya kawasan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat. Daun-daunnya lebat, hijau, batangnya besar dan solid, cabangnya tumbuh ke segala sisi.

“Namun, ada yang sudah rapuh dan harus dipangkas untuk jaga-jaga supaya tidak menimpa orang atau hewan yang lewat,” kata Putra Nur Setiawan, sambil menunjuk ke area cabang yang mengarah ke jalan.

Putra adalah pemanjat pohon profesional sekaligus arboris, atau ahli dan perawat pohon.

Dengan memasang harnes, helm, kacamata, karabiner, dan sepatu bot, ia bersiap memanjat pohon yang tingginya lebih dari lima meter itu. Setelah mencantolkan berbagai tali ke pohon, Putra mengambil pisau untuk memangkas ranting-ranting. “Memangkas pohon ada tekniknya. Kalau tidak tepat, pohon bisa berlubang, lebih gampang kena penyakit, dan rapuh,“ tutur Putra.

Baginya, setiap pohon punya cerita dan rahasia. Kesehatannya bukan sekadar soal estetika, tapi soal keamanan orang-orang di sekitarnya. Sejak mendapat ilmu arborikultur, Putra merasa kegiatan memanjat pohon tidak lagi sebatas hobi melainkan juga cara mengamati kondisi kesehatan pohon.

Pengecekan pohon bisa dilakukan secara kasat mata dan juga dengan berbagai alat bantuFoto: Joan Aurelia Rumengan/DW

Peran arboris dan ancaman di balik kesehatan pohon 

Di banyak kota Indonesia, banyak pohon punya masalah dan kondisi yang buruk. Trotoar sempit, sampah di sekitar batang, dan akar yang menonjol dari konblok. Kondisi ini membuat pohon sulit tumbuh dengan sehat. Ada juga pohon yang ditanam terlalu dekat rumah atau jalan, sehingga ruang akar terbatas dan cabang rawan patah.

Padahal pohon kota lebih dari sekadar penghias jalan. Mereka menurunkan suhu, menyaring polusi, meredam kebisingan, dan memberikan ruang hijau yang penting untuk kesehatan mental masyarakat.

Di sinilah arboris, seperti Putra, berperan. Putra mempelajari teknik memangkas pohon dari Masyarakat Arborikultur Indonesia (MArI), sebuah organisasi yang fokus pada perawatan individu pohon. Di sana, ia mendalami berbagai cara untuk merawat individu pohon. 

Istilah arboris dan arborikultur masih jarang didengar oleh masyarakat Indonesia. Iskandar Zulkarnaen, pendiri Masyarakat Arborikultur Indonesia (MArI), menjadi salah satu pihak yang aktif menggaungkan ilmu arborikultur dan profesi arboris.

Minat untuk meningkatkan kesadaran publik dan ekosistem akademik tentang arborikultur muncul kala Iskandar, yang juga Dosen Kehutanan IPB itu, merasa kondisi pohon-pohon di perkotaan, "masih kurang diperhatikan dan kurang perawatan". 

“Padahal di perkotaan, pohon tumbuh di antara target seperti orang dan permukiman. Bila pohon tidak sehat, bisa berisiko pada hilangnya nyawa manusia,“ lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa banyak pohon di perkotaan tidak pernah diperiksa secara rutin, karena belum ada standar kesehatan pohon yang jelas di Indonesia.

Menurut Pakar, idealnya pengecekan pohon di perkotaan dilakukan satu kali sebulanFoto: Joan Aurelia Rumengan/DW

Belum ada standardisasi kesehatan pohon 

Hingga kini, pemerintah belum memiliki standardisasi untuk menilai kesehatan pohon. Akibatnya, menurut Iskandar, pengecekan kesehatan pohontidak dilakukan dengan cara yang tepat. Dari kekhawatiran itu, kini MArI sedang bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan RI untuk menyusun standardisasi kesehatan pohon tersebut. 

“Kota-kota yang padat penduduk, khususnya pada tempat-tempat di mana orang banyak beraktivitas di luar ruangan dalam waktu yang cukup panjang, sangat memerlukan standardisasi ini,“ papar Iskandar.

Sembari menunggu rampungnya standardisasi, MArI telah mengupayakan kerjasama dengan sejumlah pemerintah kota dan provinsi untuk merawat individu pohon, salah satunya Banten.

“Kami merawat pohon bersejarah yang ada di alun-alun kota,“ tutur Iskandar. “Kami juga bekerjasama dengan Kebun Raya Bogor dan juga merawat pohon-pohon di kawasan bisnis yang ada di Jakarta,“ lanjutnya.

Berbagai teknik merawat pohon

Lina Karlinasari, arboris dan dosen di Departemen Hasil Hutan IPB, mengatakan bahwa ketiadaan standaridasi juga menyebabkan banyak pohon di perkotaan luput dari pemeriksaan rutin. 

“Idealnya pohon-pohon diperiksa setiap bulan,“ kata Lina kepada DW Indonesia. “Ketika bicara tentang pohon di perkotaan, perlu memikirkan faktor risiko yang dimiliki pohon bila kondisinya tidak optimal,“ lanjutnya

Menurut Lina, setiap orang sebenarnya bisa terlibat mengecek awal kesehatan pohon secara kasat mata dengan mengamati langsung. Misalnya, memperhatikan adanya jamur, dominasi daun kering, dan keberadaan lubang di batang-batang pohon.

Bila dalam pengecekan awal tersebut muncul salah satu indikator “tidak sehat”, maka pengecekan kesehatan pohon lanjutan dapat dilakukan. Biasanya, arboris menggelar pengecekan pada tahap ini menggunakan dua alat, Sonic Tomograph dan Resistograph.

Sonic Tomograph berfungsi mendeteksi kepadatan pohon melalui gelombang bunyi yang dihasilkan dari dalam batang pohon. Gelombang bunyi direkam melalui alat sensor dan berubah menjadi bentuk warna yang menandakan tingkat kepadatan dari berbagai sisi batang pohon. Sementara, Resistograph berfungsi mendeteksi pembusukan di dalam batang pohon melalui teknik pengeboran. 

Resistograph digunakan untuk mengecek kondisi di dalam batang pohonFoto: Joan Aurelia Rumengan/DW

Konsep 3:30:300 untuk kota lebih hijau

Iskandar mengingatkan, di tengah perubahan iklim, pengecekan pohon menjadi semakin penting karena cuaca ekstrem kini bisa terjadi lebih sering.

Selain itu, warga juga perlu diberi informasi—misalnya melalui papan peringatan—agar tidak berada di dekat pohon yang sedang dalam perawatan.

“Di beberapa tempat di Bogor, ada imbauan untuk tidak mengunjungi area tertentu pada jam-jam tertentu, biasanya saat curah hujan tinggi dan disertai angin,” jelas Iskandar.

Namun, merawat pohon saja tidak cukup. Kesehatan pohon juga harus didukung oleh perencanaan kota yang tepat, sehingga setiap ruang hijau dan pohon di perkotaan benar-benar bisa bermanfaat bagi warga.

Salah satu prinsip yang dapat diterapkan adalah aturan 3:30:300 untuk area permukiman. “Ketika kita melihat keluar rumah, minimal ada tiga pohon. 30% area rumah adalah area penghijauan. Bila jalan 300 meter dari rumah, perlu ada ruang terbuka hijau," tutupnya.

Editor: Tezar Aditya

Misi Penanaman 10 Juta Moringa di Sahel Sukses

04:09

This browser does not support the video element.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait