Apa yang dilakukan leluhur kita pada era NAZI? Topik ini sekian lama sunyi di keluarga-keluarga di Jerman. Kini jutaan kartu anggota NSDAP dibuka daring oleh Arsip Nasional AS.
Kartu keanggotaan NSDAP milik Hitler bernomor 1Foto: Georg Goebel/dpa/picture alliance
Iklan
Kini, lebih dari 80 tahun setelah berakhirnya kediktatoran NAZI, siapa pun dapat menelusuri jutaan kartu indeks di Arsip Nasional Amerika Serikat tanpa harus mendaftar, dan mencari nama kakek atau buyut mereka sendiri. Data tersebut memuat informasi tentang 6,6 juta warga Jerman yang menjadi anggota Partai Pekerja Nasional Sosialis Jerman (NSDAP) hingga tahun 1945, tersimpan dalam lebih dari 5.000 gulungan mikrofilm yang telah didigitalisasi.
Namun, catatan tersebut tidak lengkap. Menurut Museum Sejarah Jerman, pada tahun 1945 “satu dari lima orang dewasa di Jerman adalah bagian dari total 8,5 juta anggota partai” dan dengan demikian, setidaknya secara formal, mendukung rezim fasis itu.
Napak Tilas Tumbangnya NAZI Jerman
Hitler menyerah tanpa syarat 8 Mei 1945, menandai berakhirnya Perang Dunia II di Eropa. Beragam monumen didirikan mengenang pembebasan Jerman dari rezim NAZI oleh pasukan Sekutu dan Uni Sovyet.
Foto: picture-alliance/dpa/Hans Joachim Rech
Perang Campuh di Hutan Hürtgen
Pasukan AS bertempur sengit melawan angkatan perang Jerman di hutan Hürtgen dekat Aachen selama beberapa bulan, dari musim gugur 1944 hingga awal tahun 1945,. Ini merupakan pertempuran paling lama dan paling signifikan di kawasan Jerman. Hutan Hürtgen kini jadi bagian dari ‘‘Rute Kemerdekaan Eropa‘‘ yakni jejak peringatan gerak majunya Sekutu..
Foto: picture-alliance/dpa/Oliver Berg
Keajaiban di Remagen
Pasukan AS berhasil merebut jembatan di Remagen, di selatan Köln 7 Maret 1945. Dengan itu ribuan tentara AS dapat menyeberangi Sungai Rhein untuk pertama kalinya, yang populer disebut ‘‘Keajaiban di Remagen‘‘. Pemboman yang dilancarkan terus menerus oleh tentara Jerman, meruntuhkan jembatan 10 hari setelah direbut sekutu. Kini di puing jembatan berdiri museum perdamaian.
Foto: picture-alliance/dpa/Thomas Frey
Pemakaman Reichswald
AS biasanya mengirim pulang jenazah tentaranya yang tewas ke Amerika. Lain halnya dengan tentara Inggris yang gugur di medan perang, biasanya dimakamkan di Jerman. Terdapat 15 pemakaman dan yang terbesar adalah di Reichswald, dekat perbatasan Belanda. Di antara 7.654 tentara yang tewas, 4.000 di antaranya adalah pilot dan awak pesawat tempur yang banyak berasal dari Kanada.
Foto: Gemeinfrei/DennisPeeters
Monumen Seelow Heights
Tentara Merah Uni Soviet melancarkan gempuran pamungkas di bagian timur Jerman 16 April 1945. Petempuran Seelow Heights diawali dengan bombardemen dini hari untuk mendukung serbuan ke Berlin. Sekitar 900.000 tentara Soviet bertempur melawan 90.000 tentara Jerman. Pertempuran terbesar di Jerman saat Perang Dunia II yang menewaskan ribuan orang, dikenang dengan monumen di lokasi.
Foto: picture-alliance/dpa/Patrick Pleul
Peringatan Hari Elbe di Torgau
Pasukan Uni Soviet dan AS bertemu untuk pertama kalinya di Sungai Elbe di Torgau 25 April 1945. Peristiwa ini menutup celah front Timur dan Barat. Akhir perang sudah di depan mata, dan jabat tangan tentara dari kedua belah pihak di Torgaui jadi foto ikonik. Pertemuan tentara Sekutu dan Soviet di Sachsen ini setiap tahun diperingati sebagai hari Elbe.
Foto: picture-alliance/dpa/H. Schmidt
Musium Jerman-Rusia di Berlin-Karlshorst
Angkatan bersenjata Jerman tandatangani pernyataan takluk tanpa syarat 8 Mei 1945 malam di mess perwira Berlin-Karlhorst. Kini naskah pernyataan takluk asli yang ditulis dalam bahasa Inggris, Jerman dan Rusia, jadi fitur utama di ruangan utama museum itu. Pameran permanen lainnya di museum berfokus pada perang pemusnahan Nazi Jerman terhadap Uni Soviet yang dimulai tahun 1941.
Foto: picture-alliance/ZB
Monumen Peringatan Perang di Treptow
Monumen di Treptow sangat besar dan impresif. Monumen beserta pemakaman tentara ini berada di atas area seluas 100.000 m2. Dibangun setelah Perang Dunia II untuk memperingati Tentara Merah Uni Soviet yang tewas dalam pertempuran di Berlin. Pintu masuk ke monumen dibangun menyerupai bendera Uni Soviet, dibuat dari batu granit berwarna merah.
Foto: picture-alliance/ZB/Matthias Tödt
Istana Cecilienhof di Potsdam
Setelah Nazi menyerah, ketiga kepala pemerintahan terpenting Sekutu bertemu di Istana Cecilienhof di Potsdam pada musim panas 1945. Joseph Stalin, Harry S. Truman dan Winston Churchill memimpin delegasi dalam Konferensi Potsdam, untuk membangun tatanan pasca Perang Dunia II di Eropa. Keputusan konferensi membagi Jerman menjadi empat zona pendudukan
Foto: picture-alliance/dpa/Ralf Hirschberger
Museum Sekutu
Berlin juga dibagi jadi 4 sektor. Distrik Zehlendorf jadi sektor Amerika. Bekas gedung bioskop ‘‘Outpost‘‘ milik militer AS kini jadi bagian dari Museum Sekutu yang mendokumentasikan sejarah politik dan komitmen militer Sekutu Barat di Berlin, detail pendudukan Berlin Barat di tahun 1945, pengiriman bantuan melalui udara ke Berlin Barat dan penarikan pasukan AS pada tahun 1994.
Foto: AlliiertenMuseum/Chodan
Istana Schönhausen di Berlin
Istana Barok Prusia ini adalah lokasi perjanjian ‘‘Two Plus Four‘‘ tahun 1990 antara Jerman dan sekutu yang menduduki Jerman pada akhir Perang Dunia: AS, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet. Keempatnya sepakat mengakhiri hak okupasi Jerman, yang membuka jalan bagi penyatuan kembali Jerman Barat dan Timur. Beberapa plakat menyebutkan di sinilah Perang Dunia II sejatinya diakhiri.
Foto: picture-alliance/dpa/Hans Joachim Rech
10 foto1 | 10
Mesin pencari ‘NAZI’ secara daring
“Memang tampaknya sangat menarik bagi publik luas untuk melakukan riset mereka sendiri secara daring,” kata sejarawan Johannes Spohr. “Namun di Jerman, sumber-sumber ini sebenarnya sudah dapat diakses di Arsip Federal sejak 1994. Dan di sana, orang bahkan bisa memperoleh jauh lebih banyak informasi daripada sekadar keanggotaan.”
Johannes Spohr membantu orang menelusuri sejarah Nazi dalam keluarga merekaFoto: Frank Olias
Masalahnya, di Jerman terdapat masa pembatasan hukum, yang berarti informasi tentang seseorang hanya dapat dirilis 100 tahun setelah kelahirannya atau 10 tahun setelah kematiannya. Data tersebut juga tidak tersedia secara daring dan harus diminta secara tertulis. Selain itu, berbeda dengan Arsip Nasional AS, individu hanya dapat mengakses berkas jika mereka menelusuri kerabat sendiri, bukan tetangga atau orang lain.
“Hingga kini, kesadaran publik jauh lebih besar terhadap mereka yang dianiaya, para korban, bahkan nama dan identitas mereka. Tetapi ketika menyangkut para pelaku, semuanya masih relatif kabur,” kata Spohr.
Lencana NSDAP merupakan bentuk insignia yang populerFoto: Jürgen Wiesler/imageBROKER/picture alliance
Saksi mata semakin langka
Selama sekitar 11 tahun, Spohr menjalankan layanan risetnya, present past, untuk membantu orang menelusuri sejarah keluarga mereka pada masa NAZI. Ia mengatakan orang-orang yang datang kepadanya berusia antara 20 hingga 90 tahun.
“Jadi benar-benar semua generasi terwakili. Saya kira yang membuat ini istimewa adalah kita sedang berada pada masa transisi antara memori komunikatif dan memori kultural, ketika cerita tidak lagi sering diwariskan secara lisan, dan semakin jarang pula orang yang masih bisa diwawancarai. Kini interaksi langsung tidak lagi menjadi sesuatu yang pasti dalam proses mengenang, sehingga riset arsip menjadi jauh lebih relevan.”
Kini bukan hanya generasi cucu yang aktif meneliti sejarah keluarga, tetapi juga generasi keempat. “Tentu saja sering terjadi mereka bahkan tidak pernah mengenal orang yang sedang mereka teliti.”
Melihat keluarga dengan kacamata romantis
Menurut sebuah studi, lebih dari dua pertiga warga Jerman percaya bahwa leluhur mereka bukanlah pelaku NAZI. Hampir 36% mengatakan kerabat mereka juga merupakan korban, dan lebih dari 30% meyakini leluhur mereka membantu calon korban NAZI, misalnya dengan menyembunyikan orang Yahudi.
“Jawaban-jawaban ini sebagian muncul dari perasaan, bukan dari pengetahuan konkret,” kata sejarawan itu. Hal tersebut tidak banyak mencerminkan realitas.
Pada 1943, para pemuda berusia 18 tahun menerima kartu keanggotaan NSDAPFoto: Scherl/SZ Photo/picture alliance
Setelah perang, kejahatan era NAZI, apalagi peran individu di dalamnya, tidak banyak dibicarakan di banyak keluarga. Budaya mengenang masa NAZI di Jerman sering dianggap sebagai contoh bagi banyak wilayah di dunia, namun “dalam kenyataannya, budaya mengenang selalu menjadi rumit ketika menjadi spesifik, yakni ketika menyangkut individu tertentu yang mungkin bahkan pernah kita kenal,” kata Spohr. “Dan saya kira proses mengingat juga harus terjadi di tempat yang menyakitkan.”
Hal itu tidak hanya berlaku untuk masa NAZI itu sendiri. “Pada akhirnya, hari ini kita masih bergulat dengan mitos dan gambaran yang terdistorsi yang berasal dari periode pascaperang, bahkan bisa dikatakan, penyangkalan rasa bersalah setelah perang.”
Iklan
Kartu indeks tidak menjelaskan motif
Penelusuran arsip dapat memberikan gambaran yang lebih jelas. Kartu indeks tersebut memuat nama, tanggal dan tempat lahir, tanggal mulai keanggotaan, serta nomor anggota. Dalam beberapa kasus juga terdapat alamat dan foto anggota NSDAP yang terdaftar.
Namun, arsip tidak menjelaskan apakah seseorang adalah fanatik, oportunis, atau sekadar pengikut. Selain itu, hanya sekitar 80% dari kartu indeks tersebut yang masih bertahan. Artinya, meskipun sebuah nama tidak muncul dalam arsip, tetap tidak dapat dipastikan apakah kerabat seseorang memang bukan anggota NAZI.
Apakah para pekerja di pabrik Volkswagen ini hanya pengikut, atau Nazi garis keras?Foto: Gemini Collection/Gemini/IMAGO
Di situlah riset sebenarnya dimulai, ujar Johannes Spohr. “Tentu ada anggota NSDAP yang tidak melakukan banyak pelanggaran di luar keanggotaannya, dan ada pula banyak orang yang bukan anggota tetapi terlibat dalam tindakan kejam.” Misalnya, dapat ditelusuri apakah seseorang bergabung dengan partai sebelum 1933.
“Mungkin sebagai pejuang yang sangat menonjol bagi perjuangan NAZI, bisa dikatakan demikian. Atau apakah anggota tersebut juga memegang jabatan tertentu.”
Para keturunan mereka mungkin mengetahui banyak tahap kehidupan seseorang, tetapi mereka tetap tidak mengetahui mengapa orang itu melakukan apa yang mereka lakukan, atau apa yang mereka pikirkan dan rasakan.
Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban jelas
Apa pun yang akhirnya ditemukan tentang kakek atau buyut seseorang, Spohr percaya bahwa mengungkap kebenaran pada akhirnya merupakan tanggung jawab bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat.
Fokus penelitian masih berkisar pada pertanyaan apakah para leluhur melakukan kekerasan. Namun, ada pula pertanyaan lain, misalnya apakah pekerja paksa dieksploitasi di pertanian keluarga, atau apakah mereka memiliki barang yang dirampas dari orang Yahudi selama proses perampasan.
Tentara Wehrmacht di UkrainaFoto: Buro Laux/Pressens Bild/AP/picture alliance
“Mungkin saja Anda menemukan sangat sedikit hal, dan banyak celah yang tersisa, memberi ruang bagi imajinasi Anda sendiri. Dan tentu saja, Anda juga bisa menemukan hal-hal mengerikan yang bertentangan dengan narasi keluarga.”
Menurut Spohr, meningkatnya minat terhadap riset ini sebagian dipicu oleh perang di Ukraina. Orang ingin mengetahui apakah kakek mereka benar-benar hanya seorang tentara Wehrmacht di Krimea yang sekadar mengemudikan truk, seperti yang sering ia ceritakan kepada keluarganya, atau justru terlibat dalam kejahatan perang.
Kebangkitan kelompok kanan jauh, terutama Partai AfD, juga menjadi kekhawatiran banyak orang.
“Mereka ingin menyelidiki apakah mungkin ada kaitan antara meningkatnya dukungan terhadap partai itu dan masa lalu NAZI yang tidak pernah benar-benar dibahas, keheningan terhadap ideologi tersebut mungkin masih memiliki dampak hingga sekarang.”
Siapakah Hitler?
Pertanyaan tentang "Siapakah Hilter" menjadi fokus buku Hermann Pölking dan diadaptasi menjadi film dokumentasi yang epik karena berisi kutipan pendapat dari sejumlah tokoh yang sezaman dengan Adolf Hitler.
Foto: picture-alliance/AP
Adolf Hitler Cilik (tahun 1890)
"Dia berbeda dari seluruh anggota keluarga lainnya." - Ibu Klara Hitler, dikutip oleh August Kubizek.
Foto: picture-alliance/dpa
Foto angkatan di sekolah Linz, 1900/01
"Dia sangat berbakat, tapi juga tak stabil, walaupun dia tidak bertindak kasar, dia bisa dianggap berjiwa pemberontak. Dia juga bukan pekerja keras." Dr. Eduard Huemer, guru bahasa Perancis (Adolf Hitler berada di sebelah paling kanan atas)
Foto: picture-alliance/akg-images
Potret diri Adolf Hitler
"Seluruh keluarganya menganggap Hitler bukan seorang idealis, yang suka menghindar dari kerja keras." - August Kubizek, teman sepermainan Adolf Hitler
Foto: picture-alliance/dpa
Hitler ketika berpangkat kopral pada Perang Dunia I
"Saya tak pernah bisa mengungkap apa penyebab kefanatikan Hitler membenci kelompok Yahudi. Pengalaman ketika bersama prajurit yahudi saat perang dunia tidak mungkin berkontribusi besar terhadap hal ini." - Fritz Wiedemann, Letnan di Regimen "List" (Hitler di posisi paling kiri bawah)
Foto: Getty Images
Peringatan Kudeta Beer Hall (sekitar tahun 1929)
"Tujuan mereka hanya satu: taat. Mereka bersedia dikerahkan untuk tujuan apapun, dan mampu melakukan apapun, dilatih untuk mengikuti Hilter. Sedadu berseragam coklat yang direkrut adalah mereka yang tidak puas, tidak sukses, ambisius, penuh rasa iri hati dan kebencian, dari seluruh lapisan masyarakat - yang bersedia untuk membunuh dan melakukan kekerasan." - Carl Zuckmayer, dramawan Jerman
Foto: Getty Images/H.Hoffmann
Hitler di Bayreuth (1938)
"Sebelum saya berangkat ke San Fransisco, Saya menyadari niat Hitler yang ingin mengenyahkan pasien yang tak tersembuhkan - bukan hanya yang cacat mental - ketika perang berlangsung. Sebagai alasan dia katakan: mereka adalah "mulut yang perlu makan" namun tak diperlukan." - Fritz Wiedemann, ajudan Adolf Hilter di Partai Nazi hingga 19 Januari 1939.
Foto: picture-alliance/akg-images
Albert Speer dan Adolf Hitler, 1938
"Sepanjang perang, Adolf Hitler tidak pernah mengunjungi kota yang hancur akibat bom." - Albert Speer, Menteri era Hitler bidang Persenjataan dan Produksi Perang
Foto: picture-alliance/akg-images
Hitler pasca serangan terhadap markas militer Nazi, Wolf's Lair, 1944
"Di sana saya melihat Hilter, yang menatap penuh pertanyaan atas ekspresi putus asa saya. Dengan pelan dia berkata, "Linge, seseorang telah berusaha membunuhku." Heinz Linge, pelayan Adolf Hitler.
Foto: picture-alliance
Adolf Hitler dan Hermann Göring, 1944
"Saya sadar kita kalah perang. Kemenangan mereka nyata. Saya ingin menembak kepala saya sekarang. [Tapi] kita tidak akan menyerah. Tidak akan pernah. Kita bisa jatuh terperosok. Tapi kita akan membawa seluruh dunia ikut serta." - disampaikan Hitler kepada ajudannya Nicolaus von Below pada akhir Desember 1944.
Foto: picture-alliance/dpa/Fine Art Images
Surat kabar laporkan kematian Hitler, 1945
"Kematian Hitler dianggap tak lagi bermakna. Dia seharusnya sudah tewas sejak lama. Saya bertanya-tanya berapa banyak orang yang menenangkan diri dan berpikir dia sinting." - Naomi Mitchison, penulis asal Skotlandia
Foto: picture alliance/Everett Collection
10 foto1 | 10
Hampir dimusnahkan
Indeks kartu yang disusun oleh NAZI masih ada hingga kini berkat tindakan satu orang.
“Dokumen-dokumen itu sebenarnya telah ditetapkan untuk dimusnahkan di akhir perang. Para NAZI ingin menghancurkan apa pun yang dapat memberatkan mereka dan digunakan Sekutu melawan mereka,” kata Spohr.
Namun Hanns Huber, yang ditugaskan untuk menghancurkannya, justru membangkang. Direktur sebuah pabrik kertas di München itu menyembunyikan berkas-berkas tersebut di bawah tumpukan besar kertas bekas.
Pada musim gugur 1945, militer AS menyimpannya di kantor Pusat Dokumen Berlin di Berlin Barat, bersama dokumen lain dari era NAZI yang dibutuhkan untuk mempersiapkan Pengadilan Nuremberg guna mengadili para penjahat perang.
Rapat akbar Partai Nazi di Nürnberg Foto: picture-alliance/arkivi
Banyak anggota NSDAP di posisi penting
“Amerika Serikat sebenarnya sudah mencoba menyerahkan berkas-berkas itu kepada Jerman sejak 1967, tetapi baru diterima pada 1994,” kata Spohr.
“Kala itu mereka percaya bahwa membuka akses terhadap dokumen-dokumen ini akan terlalu sensitif dan berisiko bagi Jerman, karena begitu banyak mantan Nazi yang masih aktif dalam kehidupan profesional dan memegang posisi berpengaruh dalam politik.”
Menurut Spohr, keputusan Arsip Nasional AS untuk membuat berkas tersebut tersedia secara daring terutama merupakan langkah administratif. Semua arsip di sana memang sedang secara bertahap didigitalisasi.
Arsip Federal Jerman kemungkinan akan membuat berkas mereka tersedia secara daring pada 2028, setelah seluruh masa pembatasan perlindungan data yang berkaitan dengan individu berakhir.
Artikel ini awalnya diterbitkan dalam bahasa Jerman.