1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahJerman

Arsip NAZI Dibuka, Publik dapat Telusuri Riwayat Keluarga

2 April 2026

Apa yang dilakukan leluhur kita pada era NAZI? Topik ini sekian lama sunyi di keluarga-keluarga di Jerman. Kini jutaan kartu anggota NSDAP dibuka daring oleh Arsip Nasional AS.

Kartu anggota NSDAP Adolf Hitler
Kartu keanggotaan NSDAP milik Hitler bernomor 1Foto: Georg Goebel/dpa/picture alliance

Kini, lebih dari 80 tahun setelah berakhirnya kediktatoran NAZI, siapa pun dapat menelusuri jutaan kartu indeks di Arsip Nasional Amerika Serikat tanpa harus mendaftar, dan mencari nama kakek atau buyut mereka sendiri. Data tersebut memuat informasi tentang 6,6 juta warga Jerman yang menjadi anggota Partai Pekerja Nasional Sosialis Jerman (NSDAP) hingga tahun 1945, tersimpan dalam lebih dari 5.000 gulungan mikrofilm yang telah didigitalisasi.

Namun, catatan tersebut tidak lengkap. Menurut Museum Sejarah Jerman, pada tahun 1945 “satu dari lima orang dewasa di Jerman adalah bagian dari total 8,5 juta anggota partai” dan dengan demikian, setidaknya secara formal, mendukung rezim fasis itu.

Mesin pencari ‘NAZI’ secara daring

“Memang tampaknya sangat menarik bagi publik luas untuk melakukan riset mereka sendiri secara daring,” kata sejarawan Johannes Spohr. “Namun di Jerman, sumber-sumber ini sebenarnya sudah dapat diakses di Arsip Federal sejak 1994. Dan di sana, orang bahkan bisa memperoleh jauh lebih banyak informasi daripada sekadar keanggotaan.”

Johannes Spohr membantu orang menelusuri sejarah Nazi dalam keluarga merekaFoto: Frank Olias

Masalahnya, di Jerman terdapat masa pembatasan hukum, yang berarti informasi tentang seseorang hanya dapat dirilis 100 tahun setelah kelahirannya atau 10 tahun setelah kematiannya. Data tersebut juga tidak tersedia secara daring dan harus diminta secara tertulis. Selain itu, berbeda dengan Arsip Nasional AS, individu hanya dapat mengakses berkas jika mereka menelusuri kerabat sendiri, bukan tetangga atau orang lain.

“Hingga kini, kesadaran publik jauh lebih besar terhadap mereka yang dianiaya, para korban, bahkan nama dan identitas mereka. Tetapi ketika menyangkut para pelaku, semuanya masih relatif kabur,” kata Spohr.

Lencana NSDAP merupakan bentuk insignia yang populerFoto: Jürgen Wiesler/imageBROKER/picture alliance

Saksi mata semakin langka

Selama sekitar 11 tahun, Spohr menjalankan layanan risetnya, present past, untuk membantu orang menelusuri sejarah keluarga mereka pada masa NAZI. Ia mengatakan orang-orang yang datang kepadanya berusia antara 20 hingga 90 tahun.

“Jadi benar-benar semua generasi terwakili. Saya kira yang membuat ini istimewa adalah kita sedang berada pada masa transisi antara memori komunikatif dan memori kultural, ketika cerita tidak lagi sering diwariskan secara lisan, dan semakin jarang pula orang yang masih bisa diwawancarai. Kini interaksi langsung tidak lagi menjadi sesuatu yang pasti dalam proses mengenang, sehingga riset arsip menjadi jauh lebih relevan.”

Kini bukan hanya generasi cucu yang aktif meneliti sejarah keluarga, tetapi juga generasi keempat. “Tentu saja sering terjadi mereka bahkan tidak pernah mengenal orang yang sedang mereka teliti.”

Melihat keluarga dengan kacamata romantis

Menurut sebuah studi, lebih dari dua pertiga warga Jerman percaya bahwa leluhur mereka bukanlah pelaku NAZI. Hampir 36% mengatakan kerabat mereka juga merupakan korban, dan lebih dari 30% meyakini leluhur mereka membantu calon korban NAZI, misalnya dengan menyembunyikan orang Yahudi.

“Jawaban-jawaban ini sebagian muncul dari perasaan, bukan dari pengetahuan konkret,” kata sejarawan itu. Hal tersebut tidak banyak mencerminkan realitas.

Pada 1943, para pemuda berusia 18 tahun menerima kartu keanggotaan NSDAPFoto: Scherl/SZ Photo/picture alliance

Setelah perang, kejahatan era NAZI, apalagi peran individu di dalamnya, tidak banyak dibicarakan di banyak keluarga. Budaya mengenang masa NAZI di Jerman sering dianggap sebagai contoh bagi banyak wilayah di dunia, namun “dalam kenyataannya, budaya mengenang selalu menjadi rumit ketika menjadi spesifik, yakni ketika menyangkut individu tertentu yang mungkin bahkan pernah kita kenal,” kata Spohr. “Dan saya kira proses mengingat juga harus terjadi di tempat yang menyakitkan.”

Hal itu tidak hanya berlaku untuk masa NAZI itu sendiri. “Pada akhirnya, hari ini kita masih bergulat dengan mitos dan gambaran yang terdistorsi yang berasal dari periode pascaperang, bahkan bisa dikatakan, penyangkalan rasa bersalah setelah perang.”

Kartu indeks tidak menjelaskan motif

Penelusuran arsip dapat memberikan gambaran yang lebih jelas. Kartu indeks tersebut memuat nama, tanggal dan tempat lahir, tanggal mulai keanggotaan, serta nomor anggota. Dalam beberapa kasus juga terdapat alamat dan foto anggota NSDAP yang terdaftar.

Namun, arsip tidak menjelaskan apakah seseorang adalah fanatik, oportunis, atau sekadar pengikut. Selain itu, hanya sekitar 80% dari kartu indeks tersebut yang masih bertahan. Artinya, meskipun sebuah nama tidak muncul dalam arsip, tetap tidak dapat dipastikan apakah kerabat seseorang memang bukan anggota NAZI.

Apakah para pekerja di pabrik Volkswagen ini hanya pengikut, atau Nazi garis keras?Foto: Gemini Collection/Gemini/IMAGO

Di situlah riset sebenarnya dimulai, ujar Johannes Spohr. “Tentu ada anggota NSDAP yang tidak melakukan banyak pelanggaran di luar keanggotaannya, dan ada pula banyak orang yang bukan anggota tetapi terlibat dalam tindakan kejam.” Misalnya, dapat ditelusuri apakah seseorang bergabung dengan partai sebelum 1933.

“Mungkin sebagai pejuang yang sangat menonjol bagi perjuangan NAZI, bisa dikatakan demikian. Atau apakah anggota tersebut juga memegang jabatan tertentu.”

Para keturunan mereka mungkin mengetahui banyak tahap kehidupan seseorang, tetapi mereka tetap tidak mengetahui mengapa orang itu melakukan apa yang mereka lakukan, atau apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban jelas

Apa pun yang akhirnya ditemukan tentang kakek atau buyut seseorang, Spohr percaya bahwa mengungkap kebenaran pada akhirnya merupakan tanggung jawab bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat.

Fokus penelitian masih berkisar pada pertanyaan apakah para leluhur melakukan kekerasan. Namun, ada pula pertanyaan lain, misalnya apakah pekerja paksa dieksploitasi di pertanian keluarga, atau apakah mereka memiliki barang yang dirampas dari orang Yahudi selama proses perampasan.

Tentara Wehrmacht di UkrainaFoto: Buro Laux/Pressens Bild/AP/picture alliance

“Mungkin saja Anda menemukan sangat sedikit hal, dan banyak celah yang tersisa, memberi ruang bagi imajinasi Anda sendiri. Dan tentu saja, Anda juga bisa menemukan hal-hal mengerikan yang bertentangan dengan narasi keluarga.”

Menurut Spohr, meningkatnya minat terhadap riset ini sebagian dipicu oleh perang di Ukraina. Orang ingin mengetahui apakah kakek mereka benar-benar hanya seorang tentara Wehrmacht di Krimea yang sekadar mengemudikan truk, seperti yang sering ia ceritakan kepada keluarganya, atau justru terlibat dalam kejahatan perang.

Kebangkitan kelompok kanan jauh, terutama Partai AfD, juga menjadi kekhawatiran banyak orang.

“Mereka ingin menyelidiki apakah mungkin ada kaitan antara meningkatnya dukungan terhadap partai itu dan masa lalu NAZI yang tidak pernah benar-benar dibahas, keheningan terhadap ideologi tersebut mungkin masih memiliki dampak hingga sekarang.”

Hampir dimusnahkan

Indeks kartu yang disusun oleh NAZI masih ada hingga kini berkat tindakan satu orang.

“Dokumen-dokumen itu sebenarnya telah ditetapkan untuk dimusnahkan di akhir perang. Para NAZI ingin menghancurkan apa pun yang dapat memberatkan mereka dan digunakan Sekutu melawan mereka,” kata Spohr.

Namun Hanns Huber, yang ditugaskan untuk menghancurkannya, justru membangkang. Direktur sebuah pabrik kertas di München itu menyembunyikan berkas-berkas tersebut di bawah tumpukan besar kertas bekas.

Pada musim gugur 1945, militer AS menyimpannya di kantor Pusat Dokumen Berlin di Berlin Barat, bersama dokumen lain dari era NAZI yang dibutuhkan untuk mempersiapkan Pengadilan Nuremberg guna mengadili para penjahat perang.

Rapat akbar Partai Nazi di Nürnberg Foto: picture-alliance/arkivi

Banyak anggota NSDAP di posisi penting

“Amerika Serikat sebenarnya sudah mencoba menyerahkan berkas-berkas itu kepada Jerman sejak 1967, tetapi baru diterima pada 1994,” kata Spohr.

“Kala itu mereka percaya bahwa membuka akses terhadap dokumen-dokumen ini akan terlalu sensitif dan berisiko bagi Jerman, karena begitu banyak mantan Nazi yang masih aktif dalam kehidupan profesional dan memegang posisi berpengaruh dalam politik.”

Menurut Spohr, keputusan Arsip Nasional AS untuk membuat berkas tersebut tersedia secara daring terutama merupakan langkah administratif. Semua arsip di sana memang sedang secara bertahap didigitalisasi.

Arsip Federal Jerman kemungkinan akan membuat berkas mereka tersedia secara daring pada 2028, setelah seluruh masa pembatasan perlindungan data yang berkaitan dengan individu berakhir.

Artikel ini awalnya diterbitkan dalam bahasa Jerman.

Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Rahka Susanto

Editor: Ayu Purwaningsih