1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Arsip AS Ungkap Konflik Prabowo dan Wiranto pada 1998

25 Juli 2018

Di penghujung Orde Baru ABRI terpecah antara kubu Prabowo dan Wiranto. Fakta ini terekam dalam arsip rahasia korps diplomatik AS yang dipublikasikan baru-baru ini. Prabowo juga disebut mendalangi penculikan aktivis 1998

Aburizal Bakrie
Foto: picture-alliance/AP Photo/Tatan Syuflana/Detail

Alkisah Asisten Menteri Luar Negeri untuk Asia Pasifik dan Asia Timur Stanley Owen Roth bertemu selama satu jam dengan Mayor Jendral Prabowo Subianto di Jakarta, pada 6 November 1997. Saat itu Suharto baru terpilih kembali dalam Pemilu di bulan Mai, perekonomian Indonesia mulai ambruk diterpa krisis moneter  dan IMF menyetujui pemberian utang senilai US$ 10 milyar.

Roth dan Prabowo bukan kali pertama berjumpa. Keduanya pernah berkenalan saat Roth masih aktif di Dewan Keamanan Nasional (NSC) dan menjabat Wakil Asisten bidang Asia Pasifik dan Asia Timur di Pentagon.

Selama pertemuan itu mereka membahas bantuan AS untuk Indonesia. Prabowo mengingatkan betapa Indonesia rentan digoyang ekstremisme Islam dan Komunisme, serta berpeluang bernasib sama seperti Yugoslavia yang bubar pasca ditinggal pemimpin besar. Menurutnya akan lebih baik jika Soeharto mundur pada bulan Maret 1998 agar proses transformasi bisa berjalan lancar.

"Terlepas dari apakah proses transisi bisa dimulai pada bulan Maret atau beberapa tahun setelahnya, era Suharto akan segera berakhir," catat Roth mengenai pandangan Prabowo melalui kabel diplomatik yang dirilis Arsip Keamanan Nasional AS pada 11 Juli 2018.

Penggalan kabel tersebut memastikan petinggi ABRI sudah mengetahui mengenai gejolak di Istana Negara dan memperingatkan AS tentang transformasi yang akan terjadi setelah kejatuhan Suharto.

Selain itu Kedutaan Besar AS juga mencatat perpecahan di tubuh militer antara kubu Prabowo dan Wiranto selaku Panglima. Kisruh keduanya sempat diagendakan pada pertemuan rekonsiliasi pada 17 Mei, hanya empat hari sebelum pengunduran diri Suharto.

Tujuan pertemuan tersebut, menurut kabel diplomatik AS, untuk memperkuat mandat Wiranto atau mencari pengganti yang memuaskan kedua kubu.

Namun pada akhirnya Wiranto tetap menjabat Panglima ABRI dan Prabowo mengklaim perseteruan di tubuh militer telah berakhir. Ketika Habibie dilantik sebagai presiden, keduanya juga mendeklarasikan loyalitas pada Istana Negara.

Salah satu peristiwa yang mencuri perhatian oleh Kedutaan Besar AS adalah hilangnya sejumlah mahasiswa yang diduga diculik Kopassus di bawah perintah Prabowo Subianto. Nama Prabowo sendiri sering diungkit di kalangan mahasiswa. Arsip tertanggal 7 Mei 1998 itu juga menyoroti lokasi penyanderaan mahasiswa yang diduga berada di markas Kopassus di jalan lama antara Jakarta dan Bogor.

Seorang narasumber kedutaan besar AS menyebut penculikan dilakukan oleh Grup IV di tubuh Kopassus. Informasi tersebut diklaim berasal dari lingkaran dalam Kopassus sendiri. Grup IV saat itu dikomandoi Kolonel Inf. Chairawan Kadarsyah Nusyirwan. Dia sendiri kemudian dipecat secara tidak terhormat bersama Prabowo dan Muchdi Purwoprandjono pada 1998.

"Penghilangan (mahasiswa) diperintahkan Prabowo yang mengikuti perintah dari Presiden Soeharto," begitu bunyi dokumen tersebut.

Prabowo sendiri hingga kini mengaku tidak bersalah dalam aksi penculikan aktivis mahasiswa. Wiranto sebaliknya berkeyakinkan mantan anak buahnya itu berinisatif menghilangkan mahasiswa. "Beliau terbukti terlibat dalam kasus penculikan," kata Wiranto di sela-sela kampanye Pilpres 2014. "Maka Dewan Kehormatan Perwira dari hasil penyelidikan kasus penculikan 1998 merekomendasikan Panglima Kostrad waktu itu diberhentikan dari dinas keprajuritan."

rzn/hp (BBC Indonesia, Detikcom, VOA, Tempo)

 

Jangan lewatkan konten-konten eksklusif berbahasa Indonesia dari DW. Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!