1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikEropa

AS Akan Mediasi Putaran Baru Ukraina dan Rusia

16 September 2026

Perundingan trilateral baru antara Ukraina, Rusia, dan AS akan dimulai pada Oktober. Beberapa pihak mengekspektasikan terobosan, tetapi Ukraina mengupayakan deeskalasi untuk menghadapi musim dingin.

Ukraina Kyiv 2026 | Pertemuan Coalition of the Willing pada Hari Kemerdekaan Ukraina
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menawarkan untuk bertemu langsung dengan Vladimir Putin.Foto: Office of the President of Ukraine/B66/Avalon/Photoshot/picture alliance

Ukraina dan Rusia menyatakan kesiapan untuk kembali menggelar perundingan trilateral yang dimediasi Amerika Serikat (AS).

"Kami sedang mempersiapkannya. Untuk Oktober," kata Kepala Kantor Presiden Ukraina, Kyrylo Budanov.

Sinyal serupa datang dari Moskow. "Kami tidak mengesampingkan kemungkinan tersebut. Kami berbicara tentang masa depan yang dapat diperkirakan," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner berupaya menghidupkan kembali perundingan trilateral untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina. Keduanya mengunjungi Moskow dan Kyiv pada pekan pertama September.

Putaran terakhir perundingan trilateral berlangsung pada Januari dan Februari 2026 di Abu Dhabi dan Jenewa. Namun, perundingan tersebut tak menghasilkan terobosan. Persoalan penguasaan wilayah di Ukraina timur masih belum terselesaikan.

Wilayah masih jadi persoalan sulit

Menurut Kushner pada 12 September, Vladimir Putin masih menuntut lebih banyak wilayah untuk dikuasai Rusia. Ia menyampaikannya secara daring dalam konferensi keamanan YES di Kyiv.

"Presiden Putin telah menjelaskan garis batas yang diinginkannya. Jika Ukraina bersedia melewati garis tersebut, kami telah menyiapkan dan menyusun kesepakatan. Ukraina saat ini tidak mau melakukan itu," kata utusan AS tersebut.

Pemerintah Ukraina menyatakan bersedia membekukan pertempuran di sepanjang garis depan. Syaratnya, ada imbalan jaminan keamanan. Menurut Kyiv International Institute of Sociology (2026), langkah tersebut dapat didukung oleh 60% warga Ukraina. Mayoritas responden juga menolak menyerahkan wilayah yang belum ditaklukkan Rusia. Sebanyak 33% mengatakan, Ukraina seharusnya menyerahkan wilayah yang dituntut Putin.

Rusia Lancarkan Serangan Udara Besar-besaran ke Ukraina Semalam

01:13

This browser does not support the video element.

Keunggulan udara Rusia jadi masalah

Sejumlah pihak memperkirakan akan ada terobosan dalam waktu dekat.

"Untuk mengakhiri perang melalui perundingan, harus ada keseimbangan. Saat ini ada kebuntuan di garis depan. Namun sayangnya, Rusia saat ini memiliki keunggulan yang signifikan dalam perang udara," kata ilmuwan politik yang berbasis di Kyiv, Volodymyr Fesenko, kepada DW.

Ukraina mulai kekurangan rudal pencegat untuk menghadapi rudal balistik Rusia. Rusia juga meningkatkan serangan menggunakan drone baru bermesin jet. Ini lebih sulit dicegat dan terbang lebih cepat dibandingkan model lama bermesin bensin.

Serangan udara Rusia semakin banyak menyasar perekonomian Ukraina, termasuk gudang, fasilitas energi, stasiun pengisian bahan bakar, dan infrastruktur kereta api.

Kremlin menuduh Ukraina telah membuka "kotak Pandora" dengan menyerang perekonomian serta fasilitas bahan bakar dan energi Rusia menggunakan serangan jarak jauh sejak musim panas. Ukraina mengatakan serangan tersebut bertujuan memaksa Rusia kembali ke meja perundingan.

Ukraina khawatir dengan musim dingin

Para pendukung Ukraina mengatakan strategi Kyiv berhasil.

"Eskalasi bukanlah masalahnya. Ini tanda keberhasilan," kata Penasihat Keamanan Nasional Inggris Jonathan Powell dalam konferensi Yalta European Strategy di Kyiv pada 11 September. "Tentu saja [Putin] tidak langsung menuju perundingan, dia berusaha melakukan eskalasi dengan cara-caranya."

Dalam istilah Powell, negara-negara Barat harus "terus menginjak pedal gas" untuk membuat Putin berunding dengan serius.

Optimisme tersebut bertolak belakang dengan kekhawatiran di Ukraina menjelang musim dingin. Pada 2025, serangan Rusia terhadap infrastruktur energi menyebabkan pemadaman listrik berkepanjangan. Warga jadi tak punya pemanas di tengah suhu yang sangat dingin.

"Kami memperkirakan musim dingin yang sangat sulit, baik dari sisi infrastruktur kritis yang setiap hari dihancurkan oleh serangan Rusia, maupun kondisi ekonomi secara keseluruhan," kata Menteri Ekonomi Ukraina Oleksandr Kravchenko.

Zelenskyy meminta deeskalasi terbatas

Rusia menolak gagasan gencatan senjata dalam perundingan mendatang. Ukraina kini menyerukan pengurangan serangan terhadap infrastruktur energi. Ia juga meminta pembukaan kembali ekspor gandum melalui Laut Hitam.

"Apa yang bisa membawa kita ke perundingan? Energi dan gandum. Ini langkah pertama yang bisa kita capai," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kepada DW dalam wawancara yang ditayangkan pada 12 September.

Ilmuwan politik Fesenko mengatakan kesepakatan mengenai ekspor gandum kemungkinan lebih mudah dicapai. "Di Laut Hitam, Ukraina dan Rusia sama-sama menghadapi masalah besar. Ekspor gandum telah diblokir dan pelabuhan ditutup. Karena itu, kedua pihak memiliki kepentingan dalam masalah ini."

Namun, gencatan senjata terkait energi masih sulit dicapai. Menurut Fesenko, kerentanan Ukraina selama musim dingin memberi Putin posisi tawar yang tak mudah dilepaskan.

Pada saat yang sama, AS semakin menekan Ukraina untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi Rusia.

"Tuan Zelenskyy harus melakukan satu hal: Dia harus berhenti menghancurkan bahan bakar diesel di Rusia," kata Donald Trump pada Minggu. "Ada banyak sasaran lain. Jangan serang bahan bakar diesel. Itu merugikan dunia."

Sehari kemudian, Trump mengklaim di media sosial bahwa Ukraina dan Rusia telah menyepakati gencatan senjata terkait energi.

"Ukraina telah setuju untuk tidak menyerang sasaran energi Rusia. Rusia juga setuju melakukan hal yang sama!" tulis Trump di Truth Social. Namun, baik Ukraina maupun Rusia tidak segera mengonfirmasi kesepakatan tersebut.

Kremlin tolak pertemuan Zelenskyy-Putin

Kremlin juga telah menolak proposal Zelenskyy untuk melakukan pertemuan antara pemimpin Ukraina dan Rusia pada Desember di sela-sela KTT G20 di Miami.

"Putin tidak ingin berunding dengan Zelenskyy. Sudah jelas sejak tahun lalu: ia ingin mencapai kesepakatan dengan Trump," kata Fesenko. "Jika Trump bersikeras, Putin mungkin setuju bertemu dengan ketiga pemimpin. Namun, dia tidak berniat berunding dengan Zelenskyy."

Jika perundingan dimulai pada Oktober seperti yang diperkirakan, tim perundinglah yang akan menjalankannya. Namun, Ukraina menegaskan bahwa hanya presiden yang dapat memutuskan persoalan wilayah.

"Persoalan wilayah masih menjadi masalah yang mendesak... Masalah kompleks seperti ini hanya dapat diselesaikan di tingkat pemimpin," kata Zelenskyy saat kunjungan utusan AS ke Kyiv.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Felicia Salvina

Editor: Rizki Nugraha