Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan akan mengklasifikasikan empat kelompok kiri Eropa sebagai organisasi teroris. Selain Antifa Ost di Jerman, satu kelompok berbasis di Italia dan dua lainnya di Yunani.
Pada tahun 2023, terjadi demonstrasi dan penangkapan di Leipzig, Jerman Timur, setelah sidang dan vonis terhadap seorang perempuan berusia 28 tahun dan anggota Antifa Ost.Foto: Robert Michael/dpa/picture alliance
Iklan
Kementerian Luar Negeri AS pada Kamis (14/11) menyatakan akan menetapkan empat kelompok yang beridelogikan anti-fasisme sebagai organisasi teroris, dengan menyebut secara khusus Antifa Ost yang berbasis di Jerman. Departemen Luar Negeri AS juga menyatakan bahwa mereka menargetkan tiga kelompok antifa lainnya yang dinilai melakukan kekerasan di Italia dan Yunani.
Kelompok Italia tersebut dikenal dengan nama Federasi Anarkis Informal/Front Revolusioner Internasional, atau disingkat FAI/FRI menggunakan akronim bahasa Italia.
Departemen Luar Negeri AS menerjemahkan nama dua kelompok Yunani tersebut sebagai Armed Proletarian Justice and Revolutionary Class Self-Defense (Keadilan Proletar Bersenjata dan Pertahanan Diri Kelas Revolusioner).
Iklan
Pernyataan Departemen Luar Negeri AS mengenai langkah tersebut
Departemen Luar Negeri berencana untuk menetapkan keempat kelompok tersebut sebagai Organisasi Teroris Asing per tanggal 20 November, kata departemen tersebut.
"Penetapan Antifa Ost dan kelompok Antifa lainnya yang melakukan kekerasan mendukung Memorandum Keamanan Nasional Presiden Trump-7, sebuah inisiatif untuk mengganggu jaringan, entitas, dan organisasi yang mengklaim diri sebagai ‘anti-fasis' tapi menggunakan kekerasan politik dan tindakan teror untuk melemahkan institusi demokratis, hak konstitusional, dan kebebasan fundamental,” kata Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
"Kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan gerakan ini menganut ideologi anarkis revolusioner atau Marxis, termasuk anti-Amerika, ‘anti-kapitalisme,' dan anti-Kristen, yang mereka gunakan untuk memicu dan membenarkan serangan kekerasan di dalam maupun luar negeri,” katanya.
Potret Desa Muslim AS Yang Dicap "Sarang Teroris"
Pada dekade 1980-an sekelompok muslim membangun sebuah desa di tepi kota New York, AS, buat mencari kedamaian. Kini desa Islamberg dianggap sarang terorisme dan menjadi simbol permusuhan bagi kaum kanan Amerika.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Mencari Damai di Desa Kecil
Sebuah desa kecil sekitar 190 km dari New York menampung migran muslim dan menamakan diri "Islamberg." Suasana desa berpenduduk sekitar 40 keluarga yang asri dan nyaman terkesan kontras dengan tudingan miring yang dilayangkan kelompok kanan AS. Islamberg dianggap sebagai sarang terorisme,
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Mengasingkan Diri
Adalah pengikut tokoh Sufi asal Pakistan, Syeikh Mubarik Gilani, yang membangun pemukiman muslim di New York. Penduduknya kebanyakan adalah generasi kedua atau ketiga pendatang Afro-Amerika. Kendati banyak yang bekerja di luar kota, penduduk Islamberg cenderung tertutup. Satu-satunya kontak dengan dunia luar adalah lewat klub olahraga lokal.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Oase Terpinggirkan
Islamberg terletak agak terpencil di tepi gunung Catskill. Satu-satunya akses ke dunia luar adalah sebuah jalan sempit berbatu. Sebuah supermarket kecil memasok bahan pangan dan kebutuhan pokok untuk penduduk lokal. Hingga baru-baru ini semua warga terbiasa membiarkan pintu rumah terbuka saat berpergian.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
"Mimpi Buruk Terparah AS"?
Belakangan Islamberg sering menjadi sasaran ujaran kebencian kelompok kanan AS. Blog Freedom Daily misalnya pernah mengklaim sebuah penggerebekan di Islamberg atas perintah Presiden Donald Trump mengungkap "mimpi buruk paling parah buat Amerika," yakni kamp pelatihan Jihad buat teroris. Tudingan tersebut kemudian dibantah oleh berbagai media besar.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Disambangi Kaum Kanan
Serangan terhadap Islamberg tidak sebatas ujaran kebencian. Tidak lama setelah geng motor "American Bikers Against Jihad" menyambangi Islamberg, seorang penduduk Tenessee ditangkap karena menyerukan pembakaran mesjid di Islamberg. Wali Kota Islamberg, Rashid Clark, menganggap kabar palsu dan ujaran kebencian terhadap desanya sebagai ancaman terbesar.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Pembelaan Kepolisian
Kepolisian setempat juga menepis tudingan tersebut. "Penduduk di sini adalah warga negara AS. Mereka telah hidup di sini sejak lebih dari 30 tahun. Mereka membangun komunitas dan menjalin kontak dengan dunia luar. Di sini tidak pernah ada masalah," kata James Barnes dari Biro Investigasi Kriminal Kepolisian New York.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Label Teror dari Dekade Lampau
Tudingan miring terhadap Islamberg antara lain terkait keberadaan organisasi Muslims of America (MoA) yang bermarkas di sana. Menurut pemerintah AS MoA adalah pecahan dari kelompok kriminal "Jemaat al-Fuqra" yang aktif pada dekade 1980-an. "Kalau kami melatih teroris sejak 30 tahun," kata Ketua MoA Hussein Adams, "kenapa sampai sekarang belum ada serangan?"
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Setumpuk Rasa Frustasi
Tudingan miring tersebut membuat frustasi penduduk Islamberg. "Mereka tidak mengganggu siapa pun," kata Sally Zegers, editor harian lokal Hancock Herald kepada Associated Press.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Normalisasi Kebencian
Hingga kini gelombang kebencian terhadap Islamberg belum mereda. Tahirah Clark yang bekerja sebagai pengacara hanya bisa berdoa sembari berharap segalanya akan berakhir. Namun hingga saat ini penduduk Islamberg harus membiasakan diri terhadap celotehan pedas kelompok konservatif kanan.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
9 foto1 | 9
Trump menindak antifa di dalam dan luar negeri
Penetapan Antifa sebagai kelompok teroris membuat warga AS dilarang menjadi anggota atau memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok itu, termasuk melalui donasi.
Presiden Donald Trump secara terbuka mengkritik organisasi "antifa” di AS dan di luar negeri dalam beberapa tahun terakhir.
AS juga menetapkan Antifa sebagai organisasi teroris dalam negeri pada bulan September lalu.
Pemerintah AS tidak menyebutkan insiden atau alasan spesifik untuk penetapan Antifa Ost, tetapi menyinggung sejumlah serangan di Jerman dan Hungaria, serta keputusan Hungaria yang juga telah menetapkan kelompok tersebut sebagai entitas teroris.
Buah Haram Wahabisme
Sejak lama dunia mengkhawatirkan paham Wahabisme sebagai wadah terorisme global. Ajaran puritan itu diyakini tidak cuma menjadi rumah ideologi, tapi penganutnya juga ikut membiayai tindak terorisme di Timur Tengah.
Foto: Reuters/C. Barria
Wahabisme Telurkan Radikalisme?
Sejak 2013 silam parlemen Eropa mewanti-wanti terhadap paham Wahabisme. Bahkan Dewan Fatwa Malaysia menilai faham tersebut kerap melahirkan pandangan radikal dan bisa berujung pada tindak terorisme. Pasalnya Wahabisme menganut prinsip pemurnian Islam. Bentuknya yang cenderung eksklusif dan intoleran terhadap ajaran lain membuat penganut Wahabisme rentan terhadap radikalisasi.
Foto: Reuters
Sumber Ideologi
Kebanyakan kelompok teror dari Nigeria, Suriah, Irak hingga ke Pakistan mengklaim Wahabisme atau Salafisme sebagai ideologi dasar. Al-Qaida, Islamic State, Taliban, Lashkar-e-Toiba, Front al Nusra dan Boko Haram adalah kelompok terbesar yang jantung ideologinya merujuk pada paham Islam puritan itu.
Foto: picture-alliance/dpa
Propaganda dari Riyadh
Hingga kini pemerintah Arab Saudi sudah mengucurkan dana hingga 100 miliar dolar AS untuk mempromosikan paham Wahabisme ke seluruh dunia. Sebagai perbandingan, Uni Soviet cuma menghabiskan dana propaganda Komunisme sebesar 7 miliar dolar AS selama 70 tahun sejak dekade 1920-an. Pakar keamanan mencurigai, sebagian dana dakwah itu disalahgunakan untuk membiayai terorisme.
Foto: picture-alliance/dpa/T. Brakemeier
Dana Gelap di Musim Haji
Pada nota rahasia senat AS dari tahun 2009 yang bocor ke publik, calon presiden AS Hillary Clinton menyebut hartawan Arab Saudi sebagai "donor terbesar" kelompok terorisme di seluruh dunia. Biasanya teroris memanfaatkan musim haji untuk masuk ke Arab Saudi tanpa mengundang kecurigaan aparat keamanan.
Foto: AFP/Getty Images/M. Al-Shaikh
Bisnis Perang
Penyandang dana teror terbesar di Arab Saudi tidak lain adalah hartawan berkocek tebal. Dengan mengandalkan uang minyak, mereka secara langsung atau tidak langsung menyokong konflik bersenjata di Pakistan atau Afganistan. Hal tersebut terungkap dalam dokumen rahasia Kementerian Pertahanan AS yang bocor di Wikileaks.
Foto: Getty Images/AFP/A. Karimi
Sumbangan buat Laskar Tuhan
Kelompok teroris tidak jarang menggunakan perusahaan atau yayasan untuk mengumpulkan dana perang. Lashkar-e-Toiba di Pakistan misalnya menggunakan lembaga kemanusiaan Jamaat-ud Dakwa, untuk meminta sumbangan. Kedoknya adalah dakwah Islam. Salah satu sumber dana terbesar biasanya adalah Arab Saudi.
Foto: AP
Senjata dari Emir
Arab Saudi bukan satu-satunya negara Islam yang menyokong terorisme. Menurut catatan Pentagon yang dipublikasikan majalah The Atlantic, Qatar membantu Jabhat al-Nusra dengan perlengkapan militer dan dana. Kelompok teror tersebut sempat beroperasi sebagai perpanjangan tangan Al-Qaida di Suriah. Jerman juga pernah melayangkan tudingan serupa terhadap pemerintah Qatar ihwal dana untuk Islamic State
Foto: picture-alliance/AP Photo/K. Jebreili
Dinar untuk al Nusra
Tahun 2014 silam Washington Post memublikasikan laporan yang mengungkap keterlibatan Kuwait dalam pembiayaan kelompok teror di Suriah, seperti Jabhat al Nusra. Laporan yang berlandaskan kesaksikan perwira militer dan intelijen AS itu menyebut dana sumbangan raksasa senilai ratusan juta dolar AS.
Foto: Reuters/H. Katan
Dukungan "tak langsung"
Harus ditekankan tidak ada bukti keterlibatan kerajaan al-Saud dalam berbagai aksi teror di seluruh dunia. Namun pada serangan teror 11 September 2001 di New York, AS, komite bentukan senat menemukan bahwa pelaku memiliki hubungan "tidak langsung" dengan kerajaan dan "mendapat dukungan dari kaum kaya Saudi dan pejabat tinggi di pemerintahan."
Foto: AP
Pencegahan Setengah Hati
Sejauh ini pemerintah Arab Saudi terkesan setengah hati membatasi transaksi keuangan gelap untuk pendanaan terorisme dari warga negaranya. Dalam dokumen rahasia Kementerian Pertahanan AS yang bocor ke publik, Riyadh misalnya aktif melumat sumber dana Al-Qaida, tapi banyak membiarkan transaksi keuangan untuk kelompok teror lain seperti Taliban atau Lashkar-e-Toiba.
Foto: picture-alliance/dpa/Saudi Press Agency
Bantahan Riyadh
Namun Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, membantah hubungan antara ideologi Wahabi dengan terorisme. "Anggapan bahwa Saudi membiayai ekstremisme atau Ideologi kami menyokong ekstremisme adalah omong kosong. Kami aktif memburu pelaku, uang dan dalang di balik tindak terorisme," tukasnya.
Foto: Reuters/C. Barria
11 foto1 | 11
"Antifa Ost melakukan serangkaian serangan terhadap individu yang mereka anggap sebagai ‘fasis' atau bagian dari ‘lingkaran kanan' di Jerman antara tahun 2018 dan 2023 serta dituduh telah melakukan serangkaian serangan di Budapest pada pertengahan Februari 2023,” kata Departemen Luar Negeri AS.
Seorang anggota Antifa Ost asal Jerman, Maja T., diadili di Hungaria bulan Oktober laluFoto: Daniel Alfoldi/ZUMA/picture alliance
Berbagai kasus Antifa Ost terbaru di Jerman
Salah satu kasus pengadilan yang menonjol melibatkan kelompok ini di Jerman dalam beberapa tahun terakhir adalah vonis penjara pada tahun 2023 terhadap mahasiswa Dresden, Lina E. yang dianggap sebagai pemimpin kelompok yang mencari dan menyerang individu atau kelompok yang dianggap sebagai ekstremis sayap kanan.
Seorang anggota lain yang diduga terlibat, Johann G., diyakini sebagai pemimpin kelompok sayap Antifa Ost yang menyebut diri mereka "Hammer Gang” (Hammerbande), ditangkap pada akhir tahun lalu. Jaksa penuntut umum berencana untuk mengadili dia dan beberapa tersangka lain dengan tuduhan termasuk percobaan pembunuhan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad