Iran awal bulan ini menolak berdialog dengan AS soal program nuklirnya. Namun kini, tampaknya Teheran telah menerima tawaran untuk pertemuan "tingkat tinggi tidak langsung" soal nuklir yang akan dilaksanakan di Oman.
Trump menarik AS dari perjanjian nuklir dengan Iran selama masa jabatan pertamanyaFoto: Jose Luis Magana/AP Photo/picture alliance
Iklan
Presiden AS Donald Trump menyatakan Senin (07/04), Amerika Serikat berencana untuk mengadakan pembicaraan dengan Iran.
"Kami akan mengadakan pertemuan besar pada hari Sabtu (12/04), dan kami akan berhadapan langsung dengan mereka," ujar Trump, sambil menambahkan pertemuan itu akan "mencapai hampir level tertinggi."
Menteri Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa diskusi tersebut akan berlangsung, namun ia menyebutnya sebagai "pembicaraan tingkat tinggi tidak langsung," di mana Oman akan menjadi tuan rumah pertemuan.
"Ini adalah kesempatan besar sekaligus ujian," cuit Abbas Araghchi di X. "Sekarang bola ada di tangan Amerika Serikat."
Namun Trump segera meredam harapan yang terlalu tinggi menjelang pembicaraan itu, dengan mengatakan jika perundingan tersebut gagal, "Iran akan berada dalam bahaya besar."
"Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan jika perbincangan ini tidak berhasil, saya rasa itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran," lanjutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menyambut kedatangan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menganggap Iran sebagai ancaman bagi stabilitas Timur Tengah.
Netanyahu juga menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir.
Lika-Liku Kesepakatan Nuklir Iran
Donald Trump telah secara resmi menarik AS dari perjanjian nuklir internasional dengan Iran. Pemerintah AS terdahulu telah dengan susah payah menegosiasikannya selama bertahun-tahun dengan lima mitra internasional.
Foto: picture-alliance/epa/D. Calma
Yang menjadi masalah
Fasilitas nuklir Iran Bushehr adalah salah satu dari lima fasilitas yang dikenal oleh pengamat internasional. Israel, Amerika Serikat dan negara-negara sekutu telah sepakat bahwa usaha Iran memperkaya uranium - untuk keperluan energi domestik, menurut para pejabat di Teheran - dapat menjadi ancaman bagi kawasan jika hal itu berujung pada pengembangan senjata nuklir.
Foto: picture-alliance/dpa
Akhir dari masalah
Pada 2006, lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Cina, Rusia, Prancis, Inggris) dan Jerman (P5+1) memulai proses negosiasi yang melelahkan dengan Iran yang akhirnya mencapai kesepakatan pada 14 Juli 2015. Negara-negara tersebut sepakat memberikan kelonggaran sanksi pada Iran. Sebagai gantinya, pengayaan uranium Iran harus terus dipantau.
Foto: picture alliance / landov
Rakyat Iran setuju
Di Teheran dan kota-kota lain di Iran, warga merayakan apa yang mereka yakini sebagai akhir dari isolasi ekonomi bertahun-tahun yang memberi efek serius pada kesehatan dan gizi masyarakat karena kurangnya akses ke pasokan medis dan makanan untuk warga biasa. Banyak juga yang melihat perjanjian itu sebagai bukti bahwa Presiden Hassan Rouhani berusaha untuk membuka Iran ke dunia dengan cara lain.
Foto: picture alliance/AA/F. Bahrami
Peran IAEA
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ditugaskan untuk memantau kepatuhan Iran kepada kesepakatan itu. Direktur Jenderal IAEA Yukiya Amano (kiri) pergi ke Teheran untuk bertemu dengan Rouhani pada bulan Desember 2016, hampir satu setengah tahun setelah kesepakatan itu ditandatangani. Dalam laporan yang disampaikan setiap tiga bulan, IAEA berulang kali menyertifikasi kepatuhan Iran.
Foto: picture alliance/AA/Iranian Presidency
Sang oponen
Setelah delapan tahun dengan Barack Obama, PM Israel Benjamin Netanyahu menemukan sosok presiden AS yang ia inginkan dalam Donald Trump. Meski Trump tidak memiliki pengalaman dalam diplomasi dan ilmu nuklir, ia menyebut perjanjian internasional tersebut sebagai "kesepakatan terburuk yang pernah dinegosiasikan." Hal ini juga menjadi pokok kampanye pemilunya di 2016.
Foto: Reuters/R. Zvulun
Siapa yang masih ada?
Meskipun ada sertifikasi IAEA dan protes dari Kemlu AS, Trump tetap menarik AS dari perjanjian pada 8 Mei. Pihak-pihak lain telah berjanji untuk tetap berada dalam kesepakatan. Diplomat top Uni Eropa, Federica Mogherini (kiri), sudah melakukan pembicaraan dengan para menteri luar negeri dari (ki-ka) Iran, Prancis, Jerman dan Inggris.
Foto: picture-alliance/Photoshot
6 foto1 | 6
Sejarah singkat hubungan AS dan Iran
Washington dan Teheran sempat mengadakan pembicaraan tidak langsung pada masa kepresidenan Joe Biden, namun hampir tidak ada kemajuan yang tercatat dalam diskusi tersebut.
Iklan
Perundingan langsung terakhir antara kedua negara terjadi pada masa kepresidenan Barack Obama. Ketika itu Obama memimpin perundingan perjanjian nuklir internasional tahun 2015, yang membatasi program nuklir Iran dengan imbalan atas pencabutan sanksi. Namun, Trump menarik keluar Amerika Serikat dari kesepakatan itu pada masa kepresidenannya yang pertama, pada tahun 2018.
Sejak itu, Teheran pun berhenti mematuhi syarat-syarat perjanjian tersebut.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, baru-baru ini menolak gagasan perundingan langsung dengan Amerika Serikat mengenai program nuklir Teheran, dan mengatakan ia lebih memilih komunikasi tidak langsung.
Iran bukanlah menolak pembicaraan, ujarnya, namun Amerika Serikat harus memperbaiki "kesalahan masa lalu" mereka dan menciptakan landasan baru untuk membangun kepercayaan.
Situs Budaya Iran yang Mengagumkan
Banyak ahli menganggap Iran sebagai tempat lahirnya budaya umat manusia. Dari zaman kerajaan Elam, di bawah kekuasaan Aleksander Agung, dinasti Syah hingga Republik Islam, situs budaya Iran cerminkan kekayaan sejarahnya.
Foto: picture-alliance/imagebroker/S. Auth
Persepolis
Kompleks istana Persepolis mulai dibangun oleh Raja Achaemenid 520 tahun sebelum Masehi. Situs arkeologi ini mencerminkan kejayaan bekas ibu kota kekaisaran Persia kuno. Alexander Agung mengakhiri kekuasaan raja tersebut 330 tahun sebelum Masehi dan membakar komplesk tersebut. Namun reruntuhan istana, mausoleum, pilar, dan relief yang mengesankan masih dapat disaksikan sampai hari ini.
Foto: Mohammad Reza Domiri Ganji
Bazaar Tabriz
Kota Tabriz, yang terletak di Jalur Sutra telah lama menjadi salah satu kota paling penting di Persia. Kota ini bukan hanya terkenal karena bazar atau wilayah perdagangannya, namun juga institusi keagamaan dan pendidikannya. Bazar tertutup ini pernah jadi yang terbesar pada abad ke-13 ketika Tabriz masih menjadi ibu kota kekaisaran Safawiyah, diansti yang memprakarsai Syiah sebagai agama negara.
Foto: picture-alliance/Dumont/T. Schulze
Katedral Santo Thaddeus
Juga dikenal sebagai "Gereja Hitam," bekas biara Armenia terletak di dekat perbatasan Iran dengan Azerbaijan. Umat Kristen Armenia percaya bahwa gereja yang didedikasikan untuk Yudas Taddaeus dibangun di sana pada tahun 68 Masehi. Setelah rusak akibat gempa bumi, situs ini dibangun kembali di abad ke-14. Katedarl ini merupakan tempat ziarah bagi kaum Armenia dari Iran dan negara-negara tetangga.
Foto: Mohammad Reza Domiri Ganji
Kota Kuno Yazd
Kota Yazd berdiri di sebuah oasis antara gurun garam Kavir dan gurun Lut. Kota ini juga dikenal sebagai pusat agama Zoroaster, yang memiliki rumah ibadah yang disebut Kuil Api. Sistem khusus saluran air dan pipa, yang dikenal sebagai teknologi 'qanat'. Sistem ini diciptakan untuk memasok air, sementara menara angin dibangun untuk sistem pendinginan suhu.
Foto: picture-alliance/ZB/R. Zimmermann
Kuil Api para penganut Zoroastrianisme di Yazd
Api adalah elemen paling penting dari empat elemen Zoroaster, kuil api menjadi lokasi pusat ibadah. Pemeluk Zoroaster tidak menggunakannya sebagai rumah doa dengan cara klasik, namun lebih dipakai sebagai ruang untuk pertemuan, bertukar gagasan, devosi dan mengenang pendahulu mereka. Yazd adalah jantung dari agama Zoroaster, yang memiliki masa kejayaannya antara abad ke-2 dan ke-7.
Foto: Mohammad Reza Domiri Ganji
Pasargadae
Terletak 90 kilometer ke timur laut kota Shiraz, Pasargadae adalah ibu kota paling awal Kekaisaran Persia di bawah Achaemenids dan didirikan oleh Raja Cyrus ke-2 pada abad ke-6 SM. Kota ini memiliki sistem irigasi bawah tanah yang canggih. Monumen prasejarah juga ditemukan di sebelah situs. Gambar menunjukkan makam Koresh ke-2.
Foto: picture-alliance/imageBroker/S. Auth
Taman Eram
Eram Garden adalah contoh mengesankan dari taman bersejarah Persia yang pertama kali dibangun di abad pertengahan. Dikelilingi oleh tembok tinggi,taman-taman ini biasanya memiliki kolam-kolam yang dan istana. Sebagai bagian penting dari budaya Persia, taman-taman itu menggambarkan surga di bumi - kata itu sendiri sebenarnya berasal dari istilah Persia kuno untuk taman, "Paradaidha."
Foto: Mohammad Reza Domiri Ganji
Jembatan Si-o-se-pol bridge di Isfahan
Salah satu dari 11 jembatan di atas Sungai Zayandeh, Si-o-se-pol memiliki 33 lengkungan yang artistik. Jembatan bertingkat ini dibangun pada periode Safawiyah pada awal abad ke-16. Lorong beratap ini menutupi rute lalu lintas utama di kedua sisi, dan tangga lebarnya mengarah ke promenade di sepanjang jembatan. Di rumah-rumah teh beratap, orang-orang bisa minum teh dan mengisap cerutu.
Foto: Mohammad Reza Domiri Ganji
Menara Azadi di Teheran
Menara Azadi setinggi 45 meter adalah "Menara Teheran modern". Sebelumnya menara ini dinamakan Menara Shahyad ("Monumen Peringatan Syah"). Dibangun antara tahun 1969 dan 1971, menara tersebut menandai peringatan 2.500 tahun pendirian Negara Kekaisaran Iran. Menara ini dilapisi oleh lebih dari 25.000 batu marmer putih dan menyatukan gaya arsitektur Islam dan Sassanid.
Foto: Mohammad Reza Domiri Ganji
Istana Golestan di Teheran
Berasal dari akhir abad ke-18, istana pemerintahan Qajar, dulunya merupakan istana resmi raja Persia sebelum meletusnya Revolusi Islam pada tahun 1979. Antara tahun 1925 dan 1945, sebagian besar istana dihancurkan untuk memberi ruang bagi bangunan baru. Saat ini istana memiliki museum yang menampilkan keramik, perhiasan, dan senjata kuno.
Foto: picture-alliance/imagebroker/S. Auth
10 foto1 | 10
Kesepakatan damai makin mendesak
Carnegie Endowment for International Peace, sebuah lembaga think tank global yang fokus pada upaya memajukan perdamaian dan kerjasama internasional baru-baru ini menulis: Kegentingan semakin mendesak, karena Iran semakin dekat dengan kemampuan untuk memproduksi bom nuklir, di tengah posisi strategisnya yang melemah. Keputusan penting harus segera diambil.
Negosiasi dengan Iran selalu penuh tantangan, diperparah oleh ketidakstabilan regional dan penindasan domestik. Tindakan Trump sebelumnya, dengan menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015, telah menciptakan ketidakpercayaan di pihak Iran.
Fokus utama dalam kesepakatan adalah membatasi kemampuan nuklir Iran, daripada membatalkan seluruh program nuklir mereka yang sudah berkembang. Kesepakatan baru sebaiknya tidak mengandung klausul waktu yang akan berakhir, melainkan memastikan Iran berkomitmen secara permanen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Pemantauan kepatuhan Iran harus melibatkan langkah-langkah ketat, termasuk inspeksi IAEA dan persyaratan transparansi yang lebih kuat. Kesepakatan yang sukses akan memerlukan kebijaksanaan terkait pelonggaran sanksi, ancaman militer selektif, serta kerjasama internasional untuk menghalangi nuklirisasi Iran.
*Tambahan informasi dari AP, AFP, Reuters, dpa dan website Carnegie Endowment for International Peace