1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

AS dan UE Tolak Referendum di Ukraina

7 Mei 2014

Amerika Serikat menuduh Rusia ingin menguasai wilayah di Ukraina Timur dengan referendum gaya Krimea. Moskow menolak prakarsa OSCE untuk meredakan ketegangan dan mendukung pemilu.

Foto: Genya Savilov/AFP/Getty Images

Kelompok separatis pro Rusia melanjutkan rencana pelaksanaan referendum hari Minggu mendatang (11/05) di kota Donetsk dan Luhansk untuk memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia. Menteri luar negeri AS John Kerry mengecam rencana tersebut dan menerangkan, apa yang terjadi di wilayah itu adalah cerminan dari peristiwa aneksasi Krimea.

"Ini benar-benar terlihat sebagai skenario Krimea yang dimainkan lagi, dan tidak ada negara beradab yang akan menerima hasil (referendum) palsu ini", kata Kerry kepada wartawan.

"Kami akan menolak upaya ilegal ini yang ingin memecah belah Ukraina", tandasnya.

Ia menambahkan, Amerika dan Eropa "tidak akan duduk diam" sementara Rusia terus "mengipas api dan melakukan destabilisasi" tanpa melakukan hal-hal yang sebelumnya sudah disepakati bersama.

Kiev dan negara-negara barat menuduh presiden Rusia Vladimir Putin mendukung referendum untuk menyebar kekacauan di Ukraina dan menggagalkan rencana pemilu presiden 25 Mei mendatang.

Presiden Perancis Francois Hollande sebelumnya mengingatkan bahwa konflik di Ukraina timur dan gagalnya pemilu presiden bisa menyulut perang saudara. Jerman mengeluarkan peringatan kepada warganya agar tidak melakukan perjalanan ke Ukraina.

OSCE upayakan penengahan

Menteri luar negeri Swiss Didier Burkhalter, yang saat ini menjabat sebagai ketua OSCE, berada di Moskow untuk melanjutkan upaya penengahan konflik. Ia mengimbau semua pihak yang bertikai di Ukraina untuk menghentikan kekerasan.

"Kita perlu gencatan senjata untuk pemilihan umum", kata Burkhalter sebelum melakukan pertemuan dengan presiden Putin di Moskow.

Menteri luar negeri Ukraina Andriy Deschyitsia hari Selasa (06/05) mengimbau peserta Konferensi Dewan Eropa di Wina untuk membantu pemerintah Ukraina "menghadapi ancaman-ancaman eksternal dan provokasi yang didukung Rusia".

Tapi menteri luar negeri Rusia Sergei Lavrov, yang juga hadir di Wina, menolak tuduhan Ukraina. Ia mengatakan, sangat "tidak lumrah" melangsungkan pemilihan umum dalam situasi yang penuh kekerasan seperti saat ini.

Situasi tetap tegang

Suasana di kota-kota yang dikuasai kelompok separatis di Ukraina timur tetap tegang. Pasukan Ukraina masih mengepung kota Slavyansk. Tembak-menembak dilaporkan dari beberapa kota lain. Pemerintah Ukraina menerangkan, pasukannya kini menguasai kembali balai kota di Mariupol.

Lebih dari 90 orang tewas dalam pertempuran selama seminggu terakhir. Hampir setengah korban tewas terjadi dalam bentrokan senjata di Slavyansk, setengahnya lagi dalam insiden kebakaran di kota Odessa. Kebanyakan korban tewas adalah pendukung separatis pro Rusia.

Menteri dalam negeri Ukraina Arsen Avakov menerangkan, 4 serdadu Ukraina tewas dan 20 lainnya luka-luka dalam pertempuran di Slavyansk Senin lalu.

hp/ab (afp, rtr, dpa)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait