1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikTimur Tengah

Iran Membantah Klaim Trump soal Negosiasi Akhiri Perang

25 Maret 2026

Laporan beberapa media sebut AS telah mengajukan proposal berisi 15 syarat untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Iran membantah laporan itu, sekaligus menegaskan tidak mengakui adanya perundingan damai.

Para penerjun payung AS dari Divisi Lintas Udara ke-82 berjalan melewati Angkatan Udara
Menurut laporan media, sekitar 3.000 tentara tambahan AS akan dikerahkan ke Timur Tengah. Di sisi lain, AS dilaporkan telah mengajukan proposal berisi 15 syarat untuk akhiri perang dengan Iran.Foto: U.S. Army/ZUMA/IMAGO

Pemerintahan Trump dikabarkan telah mengajukan kepada Iran sebuah proposal berisi 15 syarat untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Menurut laporan Channel 12 Israel, proposal tersebut muncul pada Selasa (24/03) malam dan bersumber dari tiga narasumber.

The New York Times juga melaporkan bahwa proposal itu dikirimkan kepada Iran melalui Pakistan, mengutip dua pejabat yang mengetahui proses tersebut.

Dalam proposal itu, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan. Selama periode tersebut, kedua pihak akan merundingkan perjanjian berisi 15 poin tersebut.

Channel 12 melaporkan beberapa poin utama dari rencana itu, di antaranya: Pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah dan Hamas, dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun, menurut laporan The New York Times, belum jelas apakah Israel mendukung proposal tersebut.

Sebelumnya pada Selasa (24/03), Pakistan menawarkan diri menjadi tuan rumah perundingan antara Washington dan Teheran.

Trump klaim Iran beri ‘hadiah besar' di tengah perundingan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang sedang berlangsung "saat ini,” dan mengeklaim bahwa Teheran telah memberinya sebuah hadiah terkait sektor energi.

Saat berbicara kepada wartawan di Oval Office, Trump mengatakan bahwa Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, utusan khusus Steve Witkoff, serta menantunya Jared Kushner terlibat langsung dalam proses negosiasi tersebut.

Trump menegaskan bahwa Washington sedang berbicara dengan "orang yang tepat” di Iran demi mencapai kesepakatan, seraya mengeklaim bahwa Teheran ingin mencapai "kesepakatan secepat mungkin.”

Menurut Trump, Iran telah "setuju bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir” dan bahkan menyebut bahwa AS telah ‘memenangkan' perang. Selain itu, Trump mengungkapkan bahwa Iran telah memberinya sebuah "hadiah yang sangat besar, bernilai luar biasa.”

"Hadiah itu bukan terkait nuklir, melainkan minyak dan gas, dan itu tindakan yang sangat baik dari mereka,” kata Trump. "Bagi saya, itu berarti satu hal, kita sedang berurusan dengan pihak yang tepat.”

Sebelumnya, Trump telah menunda tenggat waktu yang ia tetapkan bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah apa yang ia sebut sebagai "pembicaraan yang produktif” dengan pihak Iran. Namun, Teheran membantah adanya negosiasi dan menuduh Trump mencoba memanipulasi pasar keuangan dan minyak.

Militer Iran sindir dan bantah rencana perdamaian Trump

Iran membantah laporan mengenai adanya pembicaraan damai antara Iran dan Amerika Serikat, sekaligus meragukan rencana perdamaian 15 poin syarat yang disebut-sebut diajukan Gedung Putih.

Juru bicara Markas Besar Khatam Al‑Anbiya, komando yang membawahi militer reguler dan Garda Revolusi (IRGC) Ebrahim Zolfaghari, menyampaikan penolakan itu melalui sebuah pernyataan yang ditayangkan televisi. Dalam pidatonya, ia mengecam upaya Washington yang menurutnya tengah mencari jalan keluar dari konflik yang menurutnya, “dimulai sendiri oleh AS bersama Israel.”

Dalam pernyataannya, Zolfaghari dengan nada mengejek mengatakan, “jangan sebut kegagalan kalian sebagai sebuah kesepakatan.”

Ia juga mempertanyakan konsistensi Washington dalam mengeklaim adanya negosiasi damai. “Apakah konflik internal kalian sudah sedemikian parah hingga kalian bernegosiasi dengan diri kalian sendiri?” ujarnya.

Zolfaghari kemudian menegaskan kembali sikap keras Iran sejak awal perang, “kata pertama dan terakhir kami sejak hari pertama tetap sama: seseorang seperti kami tidak akan pernah berdamai dengan seseorang seperti kalian.”

“Bukan sekarang, dan tidak akan pernah,” tambahnya.

Pernyataan keras ini semakin memperjelas bahwa Iran tidak mengakui adanya perundingan damai, sekaligus menolak proposal 15 poin yang beredar di media internasional.

Macron minta Iran berunding dengan itikad baik demi redakan ketegangan

Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta Iran untuk berunding dengan "itikad baik” dalam upaya mengakhiri perang yang tengah berlangsung, melalui sebuah panggilan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Dalam pernyataannya di platform X pada Selasa (24/03), Macron mengatakan bahwa ia meminta Iran untuk terlibat secara konstruktif dalam proses negosiasi demi membuka jalan menuju deeskalasi, sekaligus menciptakan kerangka yang dapat memenuhi ekspektasi komunitas internasional terkait program nuklir dan balistik Iran serta aktivitasnya yang dianggap memicu instabilitas regional.

Macron juga menegaskan pentingnya menghentikan serangan Iran yang dinilainya "tidak dapat diterima” terhadap sejumlah negara di kawasan. Selain itu, Macron meminta Iran menjaga kelangsungan infrastruktur energi dan sipil, serta memastikan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang memiliki nilai strategis tinggi.

Laporan media sebut AS berencana kerahkan ribuan tentara tambahan 

Pentagon dikabarkan akan memerintahkan pengerahan ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah. Menurut dua pejabat yang dikutip The Wall Street Journal, Departemen Pertahanan AS berencana mengirim sekitar 3.000 personel untuk memperkuat operasi yang berkaitan dengan Iran.

Kantor berita Reuters juga melaporkan hal serupa, menyebut ribuan tentara tambahan sedang dipersiapkan untuk dikerahkan oleh militer AS. Pasukan tersebut berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82, satuan elit Angkatan Darat AS yang dikenal dengan kemampuan bergerak cepat ke wilayah mana pun di dunia. Para pejabat belum merinci lokasi tujuan maupun waktu keberangkatan pasukan tersebut.

Divisi ini bermarkas di Fort Bragg, Carolina Utara, dan memiliki keahlian melakukan operasi terjun payung ke wilayah yang bermusuhan untuk mengamankan posisi strategis. Meskipun demikian, para pejabat menegaskan bahwa belum ada keputusan untuk menempatkan pasukan AS langsung di wilayah Iran.

Namun, peningkatan kekuatan ini disebut dapat memberi Presiden Donald Trump berbagai opsi operasional, seperti membuka kembali Selat Hormuz dengan kekuatan militer atau merebut pulau-pulau strategis Iran, menurut laporan The Wall Street Journal.

Pekan lalu, AS juga telah mengirim 2.500 Marinir dan pelaut dengan kapal serbu amfibi USS Boxer ke kawasan tersebut. Sebelumnya, The New York Times melaporkan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan pengerahan Divisi Lintas Udara ke-82 sebagai bagian dariopsi militer yang berkembang.

Trump Peringatkan Israel, Jangan Serang South Pars, Iran

01:34

This browser does not support the video element.

Iran: selain kapal musuh, boleh melintas di Selat Hormuz

Iran menyatakan bahwa kapal-kapal "non‑hostile” atau tidak bermusuhan akan diizinkan melintasi Selat Hormuz selama mereka berkoordinasi dengan otoritas Iran, menurut sebuah surat yang dikutip sejumlah media pada Selasa (24/03).

The Financial Times melaporkan bahwa surat tersebut dikirim Teheran kepada negara‑negara anggota Organisasi Maritim Internasional (IMO). Reuters dan AFP kemudian juga mengonfirmasi isi surat yang sama.

Dalam surat itu, Iran menegaskan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, serta "peserta lain dalam agresi, tidak memenuhi syarat untuk melakukan pelayaran damai atau non‑hostile.”

Selat Hormuz adalah jalur vital yang selama ini menjadi titik aliran sekitar seperlima minyak dunia yang ditutup bagi pelayaran internasional sejak perang Israel-AS dengan Iran meletus pada akhir Februari. Ratusan kapal kontainer, tanker, dan kapal kargo kini terpaksa menunggu di Teluk Persia karena ancaman serangan Iran.

Surat tersebut juga menyebut bahwa Iran telah "mengambil tindakan yang diperlukan dan proporsional untuk mencegah para agresor dan pendukung mereka mengeksploitasi Selat Hormuz guna melancarkan operasi bermusuhan terhadap Iran.”

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika negara itu tidak membuka kembali selat tersebut. Namun, hingga kini Teheran belum menunjukkan tanda akan mengembalikan lalu lintas pelayaran ke kondisi sebelum perang.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Levie Wardana
Editor: Prihardani Purba

*Artikel ini telah diperbaharui dengan menambahkan respons Iran soal laporan media terkait 15 syarat mengakhiri perang dari AS

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya