AS Jajaki Hubungan Diplomatis Dengan Suriah
24 Juni 2009
Duta Besar Suriah, Imad Mustafa menyambut keputusan Amerika Serikat untuk menunjuk Duta Besar guna mengayomi dialog antara pihak-pihak berkepentingan di Timur Tengah. Keputusan Presiden Barack Obama ini disampaikan Departemen Luar Negeri AS kepada Duta Besar Mustafa pada hari Selasa malam di Washington.
Keputusan ini diambil menyusul rangkaian kunjungan yang dilakukan sejumlah petinggi Washington ke Damaskus. Termasuk Utusan Kusus Presiden Obama untuk urusan Timur Tengah, George J. Mitchel tahun ini. Dalam pertemuannya dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad Maret lalu, Mitchel juga membicarakan peluang perdamaian antara Suriah dengan Israel, serta Suriah dengan Libanon.
Kepada pers, Mitchell menegaskan pentingnya hubungan AS dengan Suriah, “Suriah memiliki peran integral dalam mencapai perdamaian yang luas di Timur Tengah. Saya telah membicarakan berbagai masalah substansif dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan mengenai seluruh isu penting dalam hubungan bilateral. Kami berusaha untuk membangun hubungan yang berdasarkan rasa saling hormat dan kepentingan bersama.”
Amerika Serikat menarik pulang Duta Besarnya dari Suriah tahun 2005, sebagai protes terhadap pembunuhan Perdana Menteri Libanon, Rafik al-Hariri. Investigasi awal Perserikatan Bangsa-Bangsa mengindikasikan keterlibatan sejumlah pejabat Suriah dan Libanon dalam pembunuhan itu.
Washington dibawah mantan Presiden George W Bush kemudian menuding pemerintah Suriah mendalangi serangan teror yang menewaskan Hariri dan lebih dari 20 orang lainnya. Suriah menyangkal tuduhan itu dan PBB kemudian membuka jalan agar dibentuk tribunal yang bisa menyelidiki peristiwa itu lebih jauh. Namun sejak itu, tugas keseharian perwakilan Amerika Serikat dipercayakan kepada pejabat pelaksana atau Charge d'Affair.
Hubungan Suriah-Amerika Serikat kembali membaik setelah Barack Obama diangkat sebagai Presiden Amerika Serikat. Terkait dengan situasi di Timur Tengah, Presiden Obama menyatakan dirinya memiliki komitmen untuk mempromosi kesepakatan perdamaian antara Suriah dan Israel, sebagai bagian dari negosiasi perdamaian kawasan itu.
Pengiriman pejabat senior AS sebagai Duta Besar di Suriah menggambarkan keinginan Obama untuk berperan lebih besar di Timur Tengahu. Keinginan ini juga terlihat dalam upaya AS memperbaiki hubungannya dengan dunia Islam, dan dengan negara-negara Arab di Timur Tengah.
Pembicaraan yang selama ini berjalan antara Washington dan Damaskus antara lain menyorot kemungkinan Suriah untuk menutup perbatasannya dengan Irak. Washington sebelumnya mengkritik pemerintahan di Damaskus karena tidak menggubris milisi asing yang menuju Irak melalui Suriah.
Di Washington, seorang pejabat juga menegaskan bahwa keputusan Obama tidak terkait dengan krisis pemilu di Iran. Hal ini dikatakannya, meskipun pemerintah Obama menilai bahwa melibatkan Suriah dalam dialog perdamaian Timur Tengah bisa melemahkan aliansi antara negara itu dengan Iran.
EK/AR/rtr/cnn