AS Klaim Negosiasi Akhiri Perang, Iran Membantah
24 Maret 2026
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahannya sedang melakukan komunikasi dengan Teheran untuk mencari jalan mengakhiri perang, pada Senin (23/3). Ia bahkan menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari guna memberi ruang bagi diplomasi.
Trump mengatakan Washington sedang berbicara dengan seorang tokoh Iran tingkat tinggi.
“Kami sedang berbicara dengan seseorang yang sangat dihormati di Iran. Jika pembicaraan ini gagal dalam lima hari ke depan, kami akan terus melakukan pengeboman,” kata Trump.
Menurut laporan media AS, utusan Washington seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner kemungkinan akan bertemu delegasi Iran dalam pembicaraan yang dapat berlangsung di Pakistan. Gedung Putih tidak secara langsung membantah laporan tersebut.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa spekulasi mengenai pertemuan tersebut belum dapat dianggap pasti.
“Spekulasi tentang pertemuan tidak boleh dianggap final sampai secara resmi diumumkan oleh Gedung Putih,” katanya.
Iran membantah ada pembicaraan
Teheran dengan cepat menolak klaim Washington mengenai adanya negosiasi. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung antara kedua negara pada Selasa (24/3).
“Tidak ada negosiasi,” kata Ghalibaf, seraya menuduh Trump berusaha memanipulasi pasar minyak dan keuangan global melalui pernyataannya.
Seorang anggota parlemen Iran, Esmail Kowsari, juga memperingatkan agar pemerintah Iran tidak mempercayai klaim Washington.
“Trump, Netanyahu dan yang lainnya pada dasarnya adalah pembohong. Sifat mereka adalah menciptakan perpecahan,” kata Kowsari.
Di tengah polemik diplomasi tersebut, Iran meluncurkan gelombang baru rudal ke Israel pada Selasa (24/3). Serangan itu menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan di Tel Aviv dan melukai beberapa orang.
Wali kota Tel Aviv Ron Huldai mengatakan sebuah bangunan di kota itu terkena serangan langsung. “Ini adalah serangan langsung yang merusak sebuah bangunan di lingkungan permukiman,” kata Huldai kepada wartawan.
Polisi Israel menduga kerusakan tersebut disebabkan oleh rudal jenis cluster munition dengan beberapa hulu ledak, masing-masing membawa sekitar 100 kilogram bahan peledak.
Qatar dukung diplomasi, tapi belum jadi mediator
Qatar menyatakan dukungan terhadap semua upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Iran, namun menegaskan bahwa saat ini mereka belum terlibat langsung sebagai mediator antara Washington dan Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengatakan negaranya mendukung berbagai jalur komunikasi yang dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik.
“Kami mendukung semua upaya diplomatik dalam kerangka ini, baik melalui jalur resmi maupun tidak resmi,” kata al-Ansari pada Selasa (24/3), seperti dilaporkan AFP.
Namun ia menegaskan bahwa Doha saat ini tidak menjalankan peran mediasi langsung dalam proses tersebut. “Saya ingin menekankan bahwa saat ini tidak ada upaya langsung dari Qatar untuk memediasi antara kedua pihak,” ujarnya.
Kekhawatiran krisis energi Global
Perang ini juga mulai mengguncang pasar energi global. Iran sebelumnya membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Badan Energi Internasional memperingatkan bahwa jika konflik berkepanjangan, gangguan pasokan minyak dapat memicu krisis energi global.
Kepala Badan Energi Internasional Fatih Birol mengatakan bahwa kehilangan pasokan minyak akibat konflik ini berpotensi memicu krisis yang lebih besar.
“Jika perang ini berkepanjangan, kehilangan pasokan minyak harian dapat membuka jalan menuju krisis yang bahkan lebih besar daripada gabungan dampak krisis minyak tahun 1970-an dan perang Rusia di Ukraina,” kata Birol.
Sementara itu sejumlah negara di kawasan mencoba mendorong jalur diplomasi. Qatar mengatakan pihaknya mendukung semua upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.
“Kami mendukung semua upaya diplomatik dalam kerangka ini, baik melalui jalur resmi maupun tidak resmi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari.
Editor: Yuniman Farid