AS Lancarkan Serangan Balas Dendam di Somalia
10 Januari 2007
Serangan ke Somalia bukan dilakukan secara kebetulan, demikian komentar harian Italia La Repubblica.
"Serangan udara AS itu terasa unsur balas dendamnya, serta merupakan aksi pembersihan besar-besaran. Para pendukung perang yang dilancarkan AS, memuji aksi serangan militer itu. Namun di sisi lain, dikecam oleh mereka yang muak dengan penyebaran kekerasan secara uni-lateral oleh Washington. Tapi pada intinya, serangan ini bukan dilakukan secara kebetulan. Sebab aksi militer ke Somalia itu baru dilancarkan sekarang, tepat ketika presiden Bush hendak mengumumkan strategi barunya bagi kemenangan di Irak."
Sementara harian Prancis dengan oplah paling tinggi Ouest France dalam tajuknya berkomentar: Washington harus melihat batasan dari program perang melawan terorisme.
"Keikutsertaan langsung AS dalam kemenangan kilat tentara Ethiopia yang mereka didik dan diberi informasi, terasa motif balas dendamnya. Munculnya kembali kelompok milisi bersenjata, mengisyaratkan akan kembalinya kekacauan di Somalia. Hanya ada satu cara untuk menghindarkannya, yakni menjalin perdamaian dengan musuh AS. Washington harus menyadari adanya batasan dari perang melawan terorisme, yang dilancarkannya dengan kekerasan roket dan bom. Karena perang semacam itu justru akan menyuburkan lahan persemaian kelompok jihad."
Sedangkan harian Jerman Märkischen Oderzeitung dalam tajuknya menulis: Setelah serangan terhadap Somalia kemarahan terhadap AS semakin meningkat.
"Gaung dari serangan udara AS itu di dunia Islam amat mudah ditebak. Pemerintahan transisi Somalia hanya dipandang sebagai boneka Gedung Putih, sebagai usaha untuk mendesak Islam dari tatanan dunia. Ini merupakan kepingan berikutnya dari mosaik kebencian terhadap AS. Kini dipertanyakan, apakah aksi pembunuhan seorang tokoh Al Qaida dengan serangan udara itu, sebanding nilainya dengan risiko yang akan muncul?"
Sementara harian Jerman lainnya Financial Times Deutschland berkomentar: Serangan udara itu seharusnya tidak mengagetkan siapapun.
"Sejak sebelum perang Irak, semua sudah berspekulasi, AS akan melancarkan perang di Somalia. Logika perang dari presiden Bush kini semakin banyak dikritik, terutama di Eropa. Serangan 11 September sekarang ini lebih banyak dipandang sebagai tragedi, ketimbang ancaman bagi eksistensi AS. Tapi Bush tidak berubah, dan tetap mengikuti logikanya. Tewasnya seorang tokoh Al Qaida di Somalia, juga tidak akan melemahkan kelompok ekstrimis tersebut."