AS Pertimbangkan Kirim Pengungsi Afganistan ke Kongo
Saim Dušan Inayatullah
22 April 2026
Warga Afganistan yang pernah membantu militer AS kini dihadapkan pilihan sulit: direlokasi ke Republik Demokratik Kongo yang sedang berkonflik atau kembali ke Afghanistan yang dikuasai Taliban.
Lebih dari 190.000 warga Afghanistan telah menetap kembali di Amerika Serikat sejak pengambilalihan oleh Taliban pada Agustus 2021.Foto: Samuel Ruiz/US Marine Corps/Consolidated News Photos/picture alliance
Iklan
Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah berdiskusi untuk merelokasi pengungsi Afganistan ke Kongo. Mereka saat ini tinggal di bekas pangkalan militer AS di Qatar. Rencana ini disampaikan oleh AfghanEvac, kelompok yang membantu para sekutu lama AS, pada Selasa (21/04).
Sebelumnya, warga Afganistan tersebut dipindahkan ke Qatar karena pernah membantu militer AS. Saat itu, pasukan internasional pimpinan AS menarik diri dari Afganistan pada 2021. Kini, sekitar 1.100 warga Afganistan, termasuk sekitar 400 anak-anak, tinggal di Kamp As Sayliyah di Qatar.
Kelompok tersebut mencakup penerjemah yang bekerja untuk militer AS, komando militer Afganistan, dan anggota keluarga tentara AS. Demikian menurut laporan The New York Times.
Iklan
Apa yang diketahui tentang rencana relokasi ini?
Presiden AfghanEvac, Shawn VanDiver mengatakan organisasinya menduga AS berupaya memulangkan para sekutu lama tersebut ke Afganistan yang kini dikuasai Taliban.
AfghanEvac menyebut rencana pengiriman ke Kongo sebagai upaya untuk "menciptakan penolakan”.
"(AS) menawarkan relokasi kepada keluarga-keluarga ini ke Kongo yang sedang aktif berperang. AS sudah memprediksi bahwa mereka akan menolak. Lalu, penolakan itu akan digunakan sebagai alasan untuk memulangkan mereka ke Afganistan,” demikian pernyataan organisasi tersebut.
"Sekutu yang telah membantu dalam masa perang tidak seharusnya dipindahkan secara sembarangan. Ditambah lagi, lebih dari 400 di antaranya adalah anak-anak. Apalagi dipindahkan ke negara yang tengah dilanda krisis,” tambahnya.
AS dilaporkan tengah mempertimbangkan pengiriman warga Afganistan ke Kongo. Di sisi lain, negara tersebut saat ini juga sedang bergulat dengan krisis pengungsi akibat konflik berkelanjutan.Foto: Moses Sawasawa/AP Photo/picture alliance
Selain itu, lebih dari 517.000 pengungsi dari negara tetangga juga berada di Kongo. Sebagian besar berasal dari Republik Afrika Tengah, Rwanda, Burundi, dan Sudan Selatan.
Departemen Luar Negeri AS tidak mengonfirmasi bahwa Kongo menjadi tujuan relokasi. Namun, mereka menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan "pemindahan secara sukarela” dari Kamp As Sayliyah di Qatar.
"Memindahkan mereka ke kamp negara ketiga merupakan solusi positif. Mereka lebih aman untuk memulai kehidupan baru di luar Afganistan. Keselamatan dan keamanan warga Amerika juga terjaga,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri.
Afganistan: Perubahan Keseharian di Bawah Kekuasaan Taliban
Terlepas dari semua drama seputar pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban di Afganistan, kehidupan sehari-hari terus berlanjut. Namun kehidupan sehari-hari itu telah berubah drastis, terutama bagi kaum perempuan.
Foto: WANA NEWS AGENCY/REUTERS
Dunianya laki-laki
Foto dan video yang muncul dari Afganistan menunjukkan kembalinya aktivitas di jalanan perkotaan, seperti restoran di Herat ini yang sudah menerima pelanggan lagi. Tapi ada satu perbedaan mencolok dari sebelumnya: di meja hanya ada laki-laki saja, sering kali mengenakan pakaian kurta tradisional, tunik selutut. Perempuan di ruang publik menjadi hal langka di perkotaan.
Foto: WANA NEWS AGENCY/REUTERS
Harus terpisah
Di sebuah universitas swasta di Kabul. Ada tirai yang memisahkan mahasiswanya. Pemisahan antara perempuan dan laki-laki ini sekarang menjadi kebijakan resmi dan kemungkinan akan terus menyebar. "Pembelajaran campur, lelaki-perempuan, bertentangan dengan prinsip Islam, nilai-nilai nasional, adat dan tradisi," kata Abdul Baghi Hakkani, Menteri Pendidikan Taliban di Kabul.
Foto: AAMIR QURESHI AFP via Getty Images
Kebebasan yang hilang
Seperti para perempuan ini yang sedang dalam perjalanan mereka ke masjid di Herat, setelah 20 tahun pasukan sekutu memerangi Taliban, kebebasan yang dulu didapatkan perempuan dengan cepat terhapus. Bahkan olahraga akan dilarang untuk pemain perempuan, kata Ahmadullah Wasik, wakil kepala Komisi Kebudayaan Taliban.
Foto: WANA NEWS AGENCY/REUTERS
Pos pemeriksaan di mana-mana
Pemandangan di jalan juga didominasi oleh pos pemeriksaan Taliban. Ketika orang-orang bersenjata berat mengintimidasi warga, warga berusaha keras untuk berbaur. Pakaian gaya Barat menjadi semakin langka dan pemandangan tentara bersenjata lengkap semakin umum.
Foto: Haroon Sabawoon/AA/picture alliance
Menunggu pekerjaan
Di Kabul, buruh harian laki-laki duduk di pinggir jalan, menunggu tawaran pekerjaan. Afganistan, yang sudah berada dalam situasi ekonomi yang genting bahkan sebelum pengambilalihan Taliban, sekarang terancam "kemiskinan universal" dalam waktu satu tahun, menurut PBB. 98% warganya tahun depan akan hidup dalam kemiskinan, dibandingkan dengan 72% pada saat ini.
Foto: Bernat Armangue/dpa/picture alliance
Tetap mencoba melawan
Perempuan Afganistan, meskipun ditindas secara brutal, terus menuntut hak mereka atas pendidikan, pekerjaan, dan persamaan hak. Namun PBB memperingatkan bahwa protes damai juga disambut dengan kekerasan yang meningkat. Para Islamis militan menggunakan pentungan, cambuk dan peluru tajam membubarkan aksi protes. Setidaknya empat orang tewas dan banyak lainnya yang cedera.
Foto: REUTERS
Ada juga perempuan yang 'pro' Taliban
Perempuan-perempuan ini, di sisi lain, mengatakan mereka senang dengan orde baru. Dikawal oleh aparat keamanan, mereka berbaris di jalan-jalan mengklaim kepuasan penuh dengan sikap dan perilaku Taliban, dan mengatakan bahwa mereka yang melarikan diri dari negara itu tidak mewakili semua perempuan. Mereka percaya bahwa aturan Islam menjamin keselamatan mereka.
Foto: AAMIR QURESHI/AFP/Getty Images
Menyelaraskan arah
Demonstrasi pro-Taliban termasuk undangan bagi wartawan, berbeda dengan protes anti-Taliban. Yang terakhir, wartawan melaporkan mereka telah diintimidasi atau bahkan dilecehkan. Ini adalah tanda yang jelas dari perubahan di bawah Taliban, terutama bagi perempuan. (kp/hp)
Foto: AAMIR QURESHI/AFP/Getty Images
8 foto1 | 8
Trump hentikan program pemukiman
Lebih dari 190.000 warga Afganistan telah bermukim di Amerika Serikat sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021. Ini terjadi setelah penarikan pasukan internasional pimpinan AS.
Presiden AS Donald Trump berjanji akan membatasi migrasi sejak menjabat pada Januari 2025. Ia juga menghentikan proses pemberian status pengungsi bagi warga Afganistan. Keputusan tersebut dilatarbelakangi insiden penembakan oleh seorang warga Afganistan terhadap dua anggota Garda Nasional di dekat Gedung Putih pada November. Satu diantaranya tewas. Pelaku diketahui pernah bekerja dengan intelijen AS dan mengalami gangguan stres pascatrauma.
Trump juga telah menetapkan tenggat waktu 31 Maret untuk menutup Kamp As Sayliyah di Qatar.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris